Compassion Fatigue pada Guru: Ketika Terlalu Peduli Membuat Hati Lelah

Compassion fatigue berkaitan dengan beban emosional karena terus berhadapan dengan kebutuhan, kesulitan, dan masalah orang lain. Guru tidak hanya mengajarkan materi pelajaran. Ia juga mendengar cerita siswa, memahami masalah mereka, memberikan nasihat, menenangkan ketika mereka sedang sedih, bahkan terkadang menjadi tempat siswa mencari rasa aman ketika menghadapi persoalan keluarga maupun pertemanan.

Menjadi guru berarti memberikan bukan hanya pengetahuan, tetapi juga perhatian dan energi emosional. Namun, ketika kepedulian diberikan terus-menerus tanpa ruang yang cukup untuk memulihkan diri, guru dapat mengalami compassion fatigue.

Kondisi ini mungkin muncul secara perlahan. Guru yang awalnya dengan sabar mendengarkan keluhan siswa, lama-kelamaan merasa mudah lelah ketika kembali mendengar masalah yang sama. Bukan karena guru tidak peduli. Justru, terkadang karena terlalu lama peduli tanpa memberikan kesempatan kepada dirinya sendiri untuk pulih. 

Dalam kondisi seperti ini, guru perlu menyadari bahwa peduli kepada orang lain tidak berarti harus mengabaikan diri sendiri. Islam memang mengajarkan kepedulian, tetapi pada saat yang sama Islam juga tidak mengajarkan seseorang untuk melupakan dirinya. 

Allah mengingatkan prinsip keseimbangan dalam Al-Qur’an. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Qasas [28]: 77 berikut.

….وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا …. 

Terjemah:

“77.  …janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.…”

Menurut Imam Al-Qurthubi, kalimat “janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia” menunjukkan bahwa manusia tetap boleh menikmati dan memenuhi kebutuhan duniawi selama tidak melalaikannya dari ketaatan kepada Allah. Dunia perlu ditempatkan secara proporsional (tafsir-qurthubi- [Jilid 13]: 800).

Senada dengan itu, Prof. Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menekankan pentingnya keseimbangan antara kepentingan akhirat dan kebutuhan dunia. Manusia tidak diperintahkan mengabaikan kehidupan dunia, tetapi mengelolanya untuk kebaikan (tafsir-al-munir-[Jilid 10]: 428).

Secara tekstual ayat ini memang tidak langsung membahas tentang self care. Namun benang merah dan keteladanan yang bisa diambil adalah tentang prinsip keseimbangan yang harus dijalankan baik keseimbangan antara dunia dan akhirat maupun keseimbangan dalam hal yang lain seperti membagi porsi yang pas untuk diri sendiri dan orang lain agar tidak terjadi hal-hal yang merugikan.

Prinsip keseimbangan ini relevan bagi guru untuk peduli kepada siswa tanpa harus melupakan diri sendiri. Peduli terhadap siswa merupakan ibadah dan pengabdian seorang guru, namun juga perlu memperhatikan hak yang dimiliki oleh dirinya sendiri.

Guru memiliki hak untuk beristirahat, memulihkan energi, dan menjaga kondisi emosionalnya. Sebab, merawat diri bukan berarti mengurangi kepedulian, tetapi menjaga agar kepedulian dapat terus diberikan dengan sehat dan berkelanjutan (Ormiston dkk, 2022, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/35694002/).

Guru perlu menyadari bahwa dirinya bukanlah “penyelamat” untuk semua masalah siswa. Tugas guru adalah mendampingi proses pendidikan, bukan mengambil alih seluruh kehidupan siswa.

Merawat diri bukanlah bentuk egoisme. Justru, guru yang mampu menjaga kesehatan emosionalnya akan lebih siap untuk terus hadir, mendengarkan, membimbing, dan mendampingi siswa dengan hati yang sehat.

Penutup

Menjadi guru berarti hadir untuk orang lain, tetapi bukan berarti harus mengorbankan diri sendiri. Guru juga memiliki hati yang bisa lelah dan membutuhkan waktu untuk pulih. Peduli kepada siswa adalah bentuk pengabdian, sementara menjaga diri adalah cara agar pengabdian itu dapat terus berlangsung.

Jangan sampai guru terlalu sibuk menjadi tempat siswa bersandar, hingga lupa bahwa dirinya sendiri juga membutuhkan tempat untuk beristirahat. Sebab, guru yang mampu merawat dirinya akan lebih siap untuk terus merawat, membimbing, dan menyalakan harapan dalam diri siswanya. Wallahu A’lam.

Saibatul Hamdi, M.Pd., Guru Al-Qur’an Hadis MTsN Seruyan dan Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang Saibatul Hamdi, M.Pd.? Silakan Klik disini