Quarter life crisis merupakan kondisi psikologis yang umumnya dialami individu pada rentang usia awal hingga akhir dua puluhan. Fase ini ditandai dengan kebingungan dalam menentukan arah hidup, kecemasan terhadap masa depan, tekanan sosial untuk mencapai kesuksesan, serta perasaan tertinggal dibandingkan teman sebaya. Tidak sedikit individu yang merasa bingung mengenai karir, pendidikan, pernikahan, maupun tujuan hidup yang ingin dicapai.
Perkembangan media sosial turut memperkuat fenomena ini. Berbagai unggahan tentang pencapaian karier, kehidupan keluarga, maupun gaya hidup sering kali mendorong seseorang untuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Akibatnya, muncul perasaan gagal, tidak cukup sukses, atau khawatir belum mencapai target hidup tertentu.
Al-Qur’an mengajarkan bahwa setiap kesulitan selalu disertai kemudahan dan harapan. Pesan tersebut tercermin dalam QS. Al-Insyirah [94]: 5–6 sebagai berikut.
فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ
Terjemah:
“Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.”
Tafsir QS. Al-Insyirah [94]: 5-6 tentang Kepastian Kemudahan setelah Kesulitan
Imam Ibnu Katsir dalam tafsir beliau menjelaskan bahwa Allah memberikan kabar gembira bahwa setiap kesulitan yang dialami manusia tidak akan berlangsung selamanya. Bersamaan dengan kesulitan tersebut, Allah telah menyiapkan kemudahan dan jalan keluar. Pengulangan ayat ini menunjukkan kuatnya jaminan Allah terhadap hadirnya kemudahan setelah atau bersama kesulitan yang dialami manusia (tafsir+ibnu+katsir [Jilid 8]: 498).
Imam Al-Qurṭhubi menjelaskan bahwa ayat ini mengandung dorongan agar manusia tidak berputus asa ketika menghadapi ujian hidup. Kesulitan merupakan bagian dari kehidupan, namun Allah tidak membiarkan hamba-Nya berada dalam kesulitan tanpa adanya pertolongan dan kemudahan. Penekanaan kemudahan pada ayat tersebut menurut Al-Qurthubi lebih kuat daripada kesulitan yang Allah berikan (tafsir-qurthubi- [Jilid 20]: 516).
Sementara itu, Prof. Wahbah az-Zuḥaili dalam Tafsir Al-Munir menegaskan bahwa ayat ini mengajarkan optimisme dan keyakinan kepada Allah dengan kemudahan yang diberikan lebih banyak dari kesulitan. Setiap tantangan yang dihadapi manusia memiliki hikmah dan peluang yang dapat mengantarkannya menuju kondisi yang lebih baik (tafsir-al-munir- [Jilid 15]: 583).
Upaya Membangun Optimisme di Tengah Quarter Life Crisis
Quarter life crisis muncul ketika seseorang berada pada fase transisi menuju kehidupan dewasa yang penuh dengan tuntutan dan ketidakpastian. Individu mulai mempertanyakan tujuan hidupnya, merasa khawatir terhadap masa depan, dan menghadapi tekanan untuk memenuhi ekspektasi keluarga maupun masyarakat (Santri dkk, 2025, article/view/).
Kondisi ini sering diperparah oleh fenomena social comparison, yaitu kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Ketika melihat teman sebaya telah memiliki pekerjaan mapan, menikah, atau mencapai berbagai prestasi, seseorang dapat merasa tertinggal dan meragukan kemampuannya sendiri. Akibatnya, muncul kecemasan, stres, bahkan perasaan tidak berharga.
Pesan QS. Al-Insyirah [94]: 5-6 memberikan perspektif yang menenangkan dalam menghadapi kondisi tersebut. Ayat ini mengajarkan bahwa kesulitan dan ketidakpastian bukanlah tanda kegagalan, melainkan bagian dari proses kehidupan yang akan disertai dengan kemudahan dari Allah. Dengan demikian, seseorang tidak perlu terjebak dalam pesimisme hanya karena belum mencapai tujuan hidup tertentu.
Selain itu, ayat ini juga mengajarkan pentingnya membangun optimisme dan ketahanan mental (resilience). Individu yang optimis cenderung lebih mampu menghadapi tekanan hidup karena memandang kesulitan sebagai tantangan yang dapat diatasi (Dewi dkk, 2025, article/view/). Sikap ini sejalan dengan ajaran Al-Qur’an yang mendorong manusia untuk tetap berharap kepada Allah dan tidak berputus asa dalam menghadapi ujian.
Melalui QS. Al-Insyirah [94]: 5-6, Al-Qur’an memberikan pelajaran bahwa setiap fase kehidupan memiliki waktunya masing-masing. Oleh karena itu, seseorang tidak perlu mengukur keberhasilannya berdasarkan pencapaian orang lain, melainkan fokus pada proses pengembangan diri dan ikhtiar yang sedang dijalani.
Penutup
Quarter life crisis merupakan fase yang wajar dalam perjalanan hidup manusia, terutama ketika menghadapi ketidakpastian masa depan dan tekanan sosial. Melalui QS. Al-Insyirah [94]: 5-6, Al-Qur’an mengajarkan bahwa setiap kesulitan selalu disertai kemudahan dan harapan. Oleh karena itu, individu yang sedang mengalami quarter life crisis perlu membangun optimisme, memperkuat ketahanan mental, dan meyakini bahwa setiap proses kehidupan memiliki hikmah serta jalan keluar yang telah disiapkan oleh Allah. Wallahu A’lam.
Saibatul Hamdi, M.Pd., Guru Al-Qur’an Hadis MTsN Seruyan dan Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang Saibatul Hamdi, M.Pd.? Silakan Klik disini