Manusia disebutkan Al-Qur’an dengan berbagai sifat, salah satunya adalah kikir. Mari kita tadabbur sejenak agar senantiasa melatih diri untuk meredam atau bahkan meniadakan sifat tercela ini. Dalam QS. Al-Isra: 100 Allah Swt berfirman:
قُلْ لَّوْ اَنْتُمْ تَمْلِكُوْنَ خَزَاۤىِٕنَ رَحْمَةِ رَبِّيْٓ اِذًا لَّاَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الْاِنْفَاقِۗ وَكَانَ الْاِنْسَانُ قَتُوْرًا ࣖ
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sekiranya kamu memiliki khazanah rahmat Tuhanku, niscaya kamu tahan karena takut habis.” Manusia itu memang sangat kikir.
Dalam tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim, Ibnu Katsir (w. 774H) menjelaskan bahwa Rasulullah Saw diperintahkan untuk menyampaikan pada manusia: “Jika kalian wahai manusia, menguasai perbendaharaan Allah, niscaya kalian akan menahan diri untuk membelanjakannya.” Hal demikian memperjelas bahwa manusia sangat takut untuk kehilangan apa yang ada pada genggaman mereka.
Adapun penjelasan tambahan dari ini adalah apa yang dikutip Ibnu Katsir dari Ibnu Abbas dan Qatadah
فال ابن عباس وقتادة: أي: الفقر. أي: خشية أن تذهبوها مع أنها لا تفرغ ولا تنفد أبدا ؛ لأن هذا من طباعكم و سجاياكم ؛ ولهذا قال: (وكان لإنسان قتورا) قال ابن عباس وقتادة: أي: بخيلا منوعا. أَيْ: لَوْ أَنَّ لَهُمْ نَصِيبًا مِنْ مُلْكِ اللَّهِ لَمْ يُعْطُوا أَحَدًا شَيْئًا وَلَا مِقْدَارَ نَقِيرٍ، وَاللَّهُ تَعَالَى يَصِفُ الْإِنْسَانَ مِنْ حَيْثُ هُوَ إِلَّا مَنْ وَفَّقَهُ اللَّهُ وَهَدَاهُ، فَإِنَّ الْبُخْلَ وَالْهَلَعَ صِفَةٌ لَهُ
Disampaikan Ibnu Abbas dan Qatadah bahwa kefakiran adalah kekhawatiran akan sesuatu yang digenggaman akan habis. Padahal, hal demikian tidak akan habis dan berkurang. Sebab ini sudah menjadi tabiat dan karakter manusia. Maka Allah berfirman: “Manusia itu sangat kikir”. Manusia itu bakhil dan gemar menahan. Bahkan jika mereka memiliki kerajaan Allah, niscaya manusia tidak akan memberi siapapun dengan apapun bahkan meski sebesar titik kecil (Naqir).
Ini sekaligus menunjukkan pada manusia betapa luasnya kebesaran Allah dan anugerah-Nya. Manusia diberikan segala fasilitas kehidupan setiap saat, meskipun kebanyakan manusia merusaknya, meng-eksploitasi dan bahkan masih sempat dan nekat mengambil hak-hak manusia lain. Tapi Allah? Kepada hamba-Nya yang sekalipun tidak beriman, Allah tidak mengurangi anugerah-Nya walau secuil.
Dalam Shahihain atau dua kitab Hadits yang shahih, disampaikan salah satu sabda Nabi Muhammad Saw:
يدُ اللهِ ملْأَى لا يُغِيضُها نَفَقَةٌ ، سحَّاءُ اللَّيْلَ و النهارَ ، أرأيتم ما أنفَقَ منذُ خلَقَ السماواتِ و الأرضِ ؟ فإِنَّهُ لم يَغِضْ ما في يدِهِ وكان عرْشُهُ على الماءِ ، وبيدِهِ الميزانُ ، يخفِضُ ويرْفَعُ
Tangan Allah itu penuh, tidak berkurang karena nafkah, terus-menerus memberi siang dan malam. Tidakkah kalian melihat apa yang telah Dia infakkan sejak menciptakan langit dan bumi? Maka sesungguhnya tidak berkurang apa yang ada di tangan kanan-Nya.”
Maka, dengan membangun kesadaran melalui QS. Al-Isra: 100 ini, kita upayakan hati yang ringan untuk memberi orang lain, tangan yang tidak keberatan untuk mengulurkan bantuan. Sebab, kita tidak kehilangan apapun dengan memberi sebagian dari apa yang kita miliki. Justru, yang kita berikan inilah, yang sejatinya menjadi milik kita di akhirat yang abadi kelak.
Sebagaimana pula disampaikan oleh Nawawi al-Bantani (w. 1314H) dalam Nashoih al-‘Ibad; Jadilah pribadi yang bermanfaat bagi muslim lain, entah dengan harta, kekuasaan atau tubuh. Setidaknya, kalau belum bisa menjadi pribadi yang bemanfaat maka janganlah menambah kesusahan bagi muslim yang lain. Semoga Allah selalu didik hati dan jiwa kita semua.
Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini