Jebakan yang paling sulit, ialah yang tak tampak mata namun secara perlahan menggerogoti diri sampai pada akhirnya kita baru mengetahui setelah menerima dampaknya. Inilah jebakan yang disebut dengan tipu daya.
Demikianlah “terkadang” kehidupan mempermainkan kita. Dibuat sibuk sampai lupa beribadah, dibuat bersenang-senang sampai lupa bersyukur dan dibuat lalai sampai meninggalkan kewajiban. Peringatan ini tertuang dalam QS. Fathir: 5
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۗ وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللّٰهِ الْغَرُوْرُ
Wahai manusia, sesungguhnya janji Allah itu benar. Maka, janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah (setan) yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah.
Mari kita lihat bagaimana Raghib al-Ashfahani menerangkan makna kata غرّ ataupun غرور dalam kitabnya:
والغِرَّةُ: غفلة في اليقظة . فَالْغَرُورُ: كلّ ما يَغُرُّ الإنسان من مال وجاه وشهوة وشيطان، وقد فسّر بالشيطان إذ هو أخبث الْغَارِّينَ، وبالدّنيا لما قيل: الدّنيا تَغُرُّ وتضرّ وتمرّ
Makna dari Gharr adalah lalai dalam keadaan terjaga. Makna Al-Gharur adalah segala sesuatu yang memperdaya manusia, baik berupa harta, kedudukan, syahwat maupun setan. Kata tersebut juga ditafsirkan sebagai setan, karena ia adalah seburuk-buruk pihak yang memperdaya; dan juga ditafsirkan sebagai dunia, sebagaimana dikatakan: ‘Dunia memperdaya, membahayakan, lalu berlalu.
Bukankah ini pengingat? Bahwa dalam keadaan terjaga-pun, tanpa terasa kita bisa terbuai kelalaian. Sudah begitu; yang kita bela-bela, kita kejar-kejar sampai menjatuhkan diri pada kelalaian, ia berlalu begitu saja. Terlebih, apa yang kita pilih dalam hidup ini ada “tanggung-jawab” nya.
Ada satu diskusi menarik antara Ibrahim ibn Asy’ats dengan Fudhail ibn ‘Iyadh. Ini tertulis dalam Tafsir al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an yang ditulis oleh Abu Abdillah Muhammad al-Qurthubi:
قَالَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْأَشْعَثِ: قِيلَ: لِلْفُضَيْلِ بْنِ عِيَاضٍ: لَوْ أَقَامَكَ اللَّهُ تعالى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَقَالَ لَكَ: مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ؟ [الانفطار: 6] مَاذَا كُنْتَ تَقُولُ؟ قَالَ: كُنْتُ أَقُولُ غَرَّنِي سُتُورُكَ الْمُرْخَاةِ، لِأَنَّ الْكَرِيمَ هُوَ السَّتَّارُ
Ibrahim ibn Asy’ats berkata: dikatakan pada Fudhail ibn ‘Iyadh; Jika Allah Swt menghadapkanmu pada sisi-Nya di hari kiamat, dan dia berkata padamu: “Apa yang telah memperdayakanmu (hingga berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah?” bagaimana kamu menjawab-Nya? Fudhail ibn ‘Iyadh menjawab: yang membuatku terpedaya adalah tirai-tirai-Mu yang Engkau julurkan menutupi (aibku), karena al-Karīm adalah Dia Yang Maha Menutupi.
Apa maksudnya? Sadarkah ketika kita berbuat salah lalu Allah Swt menutupinya? Ditutup rapat aib kita oleh-Nya. Berbuat lagi, ditutupi lagi. Sampai akhirnya kita terus merasa aman karena manusia lain tidak menyadarinya. Padahal setiap detik dari kesalahan kita, Allah Swt melihat dan mengetahui.
Kasih sayang-Nya, seharusnya membuat kita bersyukur, tertutupnya aib harusnya mempercepat taubat kita. Bukan perasaan aman yang membuka pintu-pintu kesalahan baru.
Pelajaran dari QS. Al-Infithar: 6
Pengkajian mengenai QS. Al-Infithar:6 yang diawali dengan dialog menarik tadi, jadi lebih menarik ketika melihat penjelasan yang dipaparkan dalam kitab tafsir al-Qurthubi. Sebab ini ada korelasinya dengan QS. Al-Ahzab: 72, yang secara tampak merupakan dampak dari “kebodohan” manusia
وَقَالَ صَالِحُ بْنُ مِسْمَارٍ: بَلَغَنَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ يَا أَيُّهَا الْإِنْسانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ؟ فَقَالَ:” غَرَّهُ جَهْلُهُ”. وَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى إِنَّهُ كانَ ظَلُوماً جَهُولًا [الأحزاب: 72]. وَقِيلَ: غَرَّهُ عَفْوُ اللَّهِ، إِذْ لَمْ يُعَاقِبْهُ فِي أَوَّلِ مَرَّةٍ
Shalih bin Mismar berkata, ‘Telah sampai kepada kami bahwa Rasulullah ﷺ membaca ayat, ‘Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu terhadap Tuhanmu Yang Mahamulia?’ Kemudian beliau bersabda, ‘Kebodohannyalah yang telah memperdayakannya.
Dan kemudian “Umar r.a. berkata, ‘Sebagaimana yang telah Allah Ta‘ala firmankan: Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat zalim dan sangat bodoh.’ (QS. Al-Ahzab: 72).” Dan dikatakan pula: yang telah memperdayakannya adalah ampunan Allah, karena Allah tidak langsung menghukumnya pada pelanggaran yang pertama.
Barangkali pertanyaan “مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ؟” memang tidak membutuhkan jawaban yang sama dari setiap manusia. Ada yang terpedaya oleh harta, kedudukan, syahwat, atau dunia. Ada pula yang justru terpedaya karena Allah masih menutupi kesalahannya dan belum menyegerakan hukuman. Maka sebelum pertanyaan itu benar-benar dihadapkan kepada kita, barangkali kita perlu menanyakannya kepada diri sendiri: apa yang selama ini membuatku begitu lengah terhadap Allah?
Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Pendiri Antassalam Institute dan Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini