Anxiety sebagai Kecenderungan Psikologis Manusia dalam Al-Qur’an

Anxiety atau kecemasan merupakan salah satu pengalaman psikologis yang hampir tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Menurut psikologi modern, anxiety dipahami sebagai kondisi emosional yang ditandai dengan rasa khawatir, tegang, dan ketidaktenangan ketika seseorang menghadapi situasi yang dianggap mengancam atau tidak pasti (social-psychology/emotions/anxiety/ ).

Fenomena ini ternyata tidak hanya dibahas dalam ilmu psikologi kontemporer, tetapi juga telah disinggung dalam Al-Qur’an. Salah satu ayat yang menggambarkan kondisi psikologis tersebut terdapat dalam QS. Al-Ma’arij ayat 19–21 yang menjelaskan kecenderungan dasar manusia dalam merespons berbagai situasi kehidupan.

Allah SWT berfirman:

۞ اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًاۙ اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًاۙ وَّاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًاۙ 

Terjemah:

“Sesungguhnya manusia diciptakan dengan sifat keluh kesah lagi kikir. 20.  Apabila ditimpa keburukan (kesusahan), ia berkeluh kesah. 21.  Apabila mendapat kebaikan (harta), ia amat kikir,”

Tafsir Ulama tentang Sifat Gelisah Manusia

Menurut penafsiran Ibnu Katsir, kata halū‘ā menggambarkan sifat manusia yang mudah berkeluh kesah ketika tertimpa kesusahan dan enggan berbagi ketika memperoleh nikmat. Manusia secara naluriah memiliki kecenderungan emosional yang tidak stabil apabila tidak dibimbing oleh keimanan dan kesabaran. Oleh karena itu, kecemasan sering kali muncul ketika manusia terlalu terfokus pada kesulitan yang sedang dihadapinya tanpa melihat hikmah di baliknya (tafsir-ibnu-katsir-[Juz 29], hlm. 288).

Penjelasan yang serupa juga disampaikan oleh Al-Qurtubi bahwa sifat gelisah yang disebutkan dalam ayat tersebut menunjukkan kecenderungan manusia untuk bereaksi secara berlebihan terhadap berbagai peristiwa dalam hidupnya. Ketika tertimpa musibah, manusia mudah merasa putus asa dan kehilangan harapan. Sebaliknya, ketika memperoleh nikmat, ia cenderung menjadi terlalu protektif dan takut kehilangan apa yang dimilikinya (tafsir-qurthubi- [Jilid 19], hlm. 245).

Sementara itu, menurut Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir menegaskan bahwa sifat gelisah tersebut merupakan karakter dasar manusia yang dapat diarahkan melalui pembinaan spiritual. Kegelisahan muncul karena manusia memiliki rasa takut terhadap masa depan serta kekhawatiran kehilangan kenikmatan yang dimilikinya. Oleh karena itu, Al-Qur’an memberikan bimbingan agar manusia memperkuat iman, meningkatkan kesabaran, serta menumbuhkan sikap tawakal kepada Allah (tafsir-al-munir- [Jilid 15], hlm. 137).

Ayat ini secara umum menggambarkan karakter psikologis manusia yang mudah mengalami kegelisahan ketika menghadapi berbagai perubahan dalam kehidupan. Kata halū‘ā dalam ayat tersebut menunjukkan sifat manusia yang cenderung mudah panik, tidak sabar ketika mengalami kesulitan, serta terlalu khawatir kehilangan kenikmatan yang dimilikinya. Menurut perspektif psikologi, kondisi ini sangat dekat dengan konsep anxiety, yaitu rasa cemas atau takut yang muncul ketika seseorang merasa berada dalam situasi yang tidak stabil atau tidak pasti.

Anxiety dalam Kacamata Psikologis 

Anxiety sering dipahami sebagai respons emosional yang muncul ketika seseorang menghadapi ancaman atau ketidakpastian. Rasa cemas sebenarnya memiliki fungsi adaptif, yaitu membantu manusia lebih waspada terhadap bahaya. Namun, ketika kecemasan tidak dapat dikendalikan, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi tekanan mental yang memengaruhi kesejahteraan psikologis seseorang (Glasgow dkk, 2022, https://bit.ly/40nqss7).

Gambaran yang disampaikan dalam QS. Al-Ma’arij ayat 19–21 menunjukkan bahwa kecenderungan kecemasan telah menjadi bagian dari dinamika psikologis manusia sejak awal. Al-Qur’an menggambarkan bahwa manusia dapat menjadi sangat gelisah ketika menghadapi kesulitan dan terlalu takut kehilangan ketika memperoleh kenikmatan. Kedua kondisi tersebut merupakan bentuk reaksi emosional yang sangat dekat dengan konsep anxiety dalam psikologi modern (Sukandar, 2025, https://bit.ly/4rs5DH0).

Beberapa penelitian dalam bidang psikologi agama juga menunjukkan bahwa praktik keagamaan seperti doa, zikir, dan ibadah dapat membantu menurunkan tingkat kecemasan karena memberikan rasa makna, harapan, dan ketenangan batin (Algahtani dkk, 2022, https://bit.ly/4bCpWga). Dengan demikian, pendekatan spiritual memiliki peran penting dalam membantu individu mengelola tekanan emosional yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Penutup

Anxiety atau kecemasan merupakan kecenderungan psikologis yang melekat dalam diri manusia. Melalui  QS. Al-Ma’arij ayat 19–21 digambarkan bahwa manusia mudah diliputi kegelisahan ketika menghadapi kesulitan dan merasa takut kehilangan saat memperoleh kenikmatan. Ayat ini menegaskan realitas emosional manusia yang rentan terhadap kecemasan. Namun, Al-Qur’an tidak hanya menggambarkan kondisi tersebut, melainkan juga memberikan arah pengendalian diri melalui penguatan iman, kesabaran, dan sikap tawakal. Sekali lagi bahwa Al-Qur’an tidak sekadar menghadirkan ajaran spiritual, tetapi juga menawarkan pedoman penting bagi ketenangan jiwa dan keseimbangan psikologis manusia.

Saibatul Hamdi, M.Pd., Guru Al-Qur’an Hadis MTsN Seruyan dan Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang Saibatul Hamdi, M.Pd.? Silakan Klik disini