Manusia disebut Al-Qur’an memiliki sifat Dzhalim-Jahil. Kaitan ayatnya adalah berbicara mengenai amanah yang dibebankan kepada manusia. Allah Swt berfirman dalam QS. Al-Ahzab: 72
اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙ
Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh.
Mari kita maknai amanah secara mendetail melalui penjelasan Al-Qurthubi (w. 671H) pada Tafsir Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an:
فالأمانةُ هي الفرائضُ التي ائْتَمَن اللهُ عليها العبادَ. وقد اختُلف في تفاصيل بعضها على أقوال : فقال ابن مسعود: هي في أمانات الأموال كالودائع وغيرها. وروي عنه أنها في كل الفرائض وأشدها أمانة المال.
Amanat adalah kewajiban-kewajiban yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Namun terkait perinciannya para ‘ulama berbeda pendapat. Ibnu Mas’ud RA berpendapat yang dimaksud amanat adalah pada aspek keuangan seperti menitipkan harta atau yang lainnya. Riwayat Ibnu Mas’ud yang lain menyebut bahwa amanat berlaku untuk semua kewajiban manusia, namun yang paling berat adalah amanat yang berkaitan dengan keuangan.
Munasabah atau keterkaitan ayat ini dengan ayat sebelumnya menurut Wahbah al-Zuhaily (w. 1436 H) dalam Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj adalah korelasi antara kemenangan yang besar selalu beriringan dengan perjuangan yang besar pula.
Jika seorang yang beriman ingin menggapai keberuntungan akhirat, maka ia harus menjalankan amanag-amanah-Nya di dunia dengan baik dan perjuangan luar biasa. Setidaknya, memenuhi dan melaksanakan syari’at sebagai mukallaf yang sudah ditetapkan.
Adapun, penyematan sifat dzhalim dan bodoh terhadap manusia disebabkan karena memang kebanyakan manusia bersikap demikian. Manusia menganiaya diri sendiri dengan cara menyelisihi fitrahnya. Menuruti hawa nafsunya dan abai terhadap kewajibannya sebagai hamba.
Bodoh dalam perkara amanah; yakni mengambil suatu hal yang ia sendiri tidak pahami dengan benar apa konsekuensi dari amanah itu. Di antara yang paling jelas adalah pahala bagi yang bisa melaksanakan amanah dan hukuman bagi siapa yang lalai dan abai terhadap-Nya.
Pelajaran yang bisa kita petik bersama adalah; mulailah untuk tidak menganiaya diri sendiri dengan cara tidak patuh dan taat atas segala perintah dan larangan-Nya. Allah tidak membutuhkan apapun dari kita, sedangkan jika kita abai maka kita sendiri yang membawa diri pada kerusakan serta kerugian besar di akhirat.
Selanjutnya, renungkanlah dengan seksama dalam proses menerima amanat. Karena setiap amanat akan dipertanggung-jawabkan. Jika memang tidak sanggup mengemban, jangan memaksakan diri. Terkecuali jika memang kita benar-benar dipercaya sanggup, itupun kita sama sekali tidak boleh lepas memohon pertolongan Allah Swt.
Lebih beratnya lagi, kalau amanat ini menyangkut banyak maslahat manusia; kita turut bertanggung-jawab di hadapan Allah atas amanat yang diemban. Apabila kita tidak memenuhinya, maka kita akan bersifat khianat atas amanat. Sebagaimana tegas Allah firmankan dalam QS. Al-Anfal: 27
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَخُوْنُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ وَتَخُوْنُوْٓا اَمٰنٰتِكُمْ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul serta janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.
Semoga Allah selalu beri kita kekuatan untuk bersikap amanat dan taat. Wallahu a’lam.
Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini