Tips Cara Berhusnuzan Kepada Sesama dari Syekh Abdul Qadir al-Jilani

Salah satu sikap yang harus dimiliki oleh setiap insan, terlebih mereka yang beragama Islam, adalah husnuzan (prasangka baik). Ia adalah suatu sikap mental dan cara pandang yang dapat membuat seseorang selalu berpikir positif terhadap lawan pandangnya. Husnuzan dapat ditujukan kepada Allah swt., kepada sesama manusia, dan kepada diri sendiri. 

Prasangka baik memiliki manfaat nyata dalam hidup seseorang. Dengan berhusnuzan, seseorang dapat menjalani keseharian dengan lebih tenang. Hati menjadi tentram sehingga stres dapat diminimalisir. Ia juga dapat membuat hubungan antar sesama manusia menjadi lebih erat, rukun, dan harmonis. 

Kebalikan dari sikap ini adalah suuzan (prasangka buruk), suatu sikap mental dan penyakit hati yang dapat memunculkan depresi. Ia sering kali berujung pada rusaknya hubungan sosial dan memicu permusuhan. Oleh karenanya, Allah swt. melarang sikap ini melalui firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ 

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik…” (QS. al-Hujurat: 12).

Sayangnya, meski setiap muslim mengetahui bahwa berprasangka buruk merupakan sikap yang dilarang, hanya sedikit yang mampu benar-benar terlepas darinya. Oleh karenanya, Syekh Abdul Qadir al-Jilani, seorang sufi yang bergelar Sulthan al-Auliya` (raja seluruh wali), memberikan tips agar dapat berprasangka baik kepada sesama. 

Dalam kitab Nashaa’ih al-‘Ibaad karya Imam Nawawi al-Bantani (hal. 27) disebutkan bahwa Syekh Abdul Qadir al-Jilani berkata: 

Pertama, “Jika engkau bertemu seseorang yang memiliki kelebihan di atasmu, katakanlah ‘bisa jadi ia memiliki kedudukan lebih baik dan lebih tinggi derajatnya dariku di sisi Allah’.”

Sikap ini mengajarkan seseorang untuk tidak merasa paling baik atau paling mulia. Kelebihan yang tampak pada diri orang lain dapat menjadi pengingat bahwa Allah memberikan karunia kepada setiap hamba sesuai kehendak-Nya. Dengan memandang orang lain lebih utama dalam kebaikan, seseorang akan terhindar dari sifat sombong, iri hati, dan meremehkan sesama. Sebaliknya, ia terdorong untuk terus memperbaiki diri dan memperbanyak amal saleh.

Kedua, “Jika engkau bertemu anak kecil, katakanlah ‘anak ini belum bermaksiat kepada Allah, sedangkan aku telah bermaksiat (lebih banyak). Maka tak diragukan lagi bahwa ia lebih baik daripada aku’.”

Anak kecil masih berada dalam keadaan suci dan belum dibebani dosa sebagaimana orang dewasa. Karena itu, ketika melihat seorang anak, seorang mukmin dianjurkan untuk mengingat banyaknya kesalahan yang pernah ia lakukan. Kesadaran ini akan melahirkan sikap rendah hati serta memotivasi diri untuk lebih banyak bertobat dan memperbaiki hubungan dengan Allah swt.

Ketiga, “Jika engkau bertemu orang (yang lebih) dewasa/tua, katakanlah ‘orang ini telah menyembah kepada Allah lebih dahulu daripada aku’.”

Orang yang lebih tua umumnya memiliki kesempatan lebih panjang dalam beribadah, menuntut ilmu, dan beramal saleh. Meski usia tidak selalu menjadi ukuran kemuliaan, menghormati mereka dengan prasangka baik merupakan adab yang diajarkan Islam. Dengan demikian, seseorang tidak mudah meremehkan pengalaman maupun kebijaksanaan yang dimiliki oleh orang-orang yang lebih dahulu menjalani kehidupan.

Keempat, “Jika engkau bertemu orang alim, katakanlah ‘orang ini diberi apa yang tidak diberikan kepadaku, menerima apa yang tidak kuterima, mengetahui apa yang tidak kuketahui. Dengan demikian, ia beribadah dengan ilmunya’.”

Ilmu merupakan nikmat besar yang tidak diberikan kepada semua orang dalam kadar yang sama. Karena itu, bertemu dengan orang alim semestinya mendorong seseorang untuk menghormati ilmunya, mengambil manfaat darinya, dan tidak merasa paling tahu. Sikap ini juga menumbuhkan semangat untuk terus belajar, sebab semakin banyak ilmu yang dimiliki seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya dalam mengamalkan ilmu tersebut.

Kelima, “Jika engkau bertemu orang bodoh, katakanlah ‘orang ini (jika) bermaksiat kepada Allah, ia melakukannya atas dasar ketidaktahuannya. Sedangkan aku bermaksiat padahal aku mengetahuinya. Aku pun tidak tahu bagaimana akhir hidupku dan akhir hidupnya kelak’.”

Nasihat ini mengajarkan agar seseorang tidak mudah menghakimi orang lain hanya karena melihat kesalahan yang tampak di hadapannya. Bisa jadi seseorang berbuat salah karena ketidaktahuan, sedangkan kita melakukan kesalahan yang sama dalam keadaan sadar. Selain itu, tidak ada seorang pun yang mengetahui bagaimana akhir kehidupannya. Oleh sebab itu, yang lebih penting adalah memperbaiki diri daripada sibuk menghakimi orang lain. 

Keenam, “Jika engkau bertemu orang kafir, katakanlah ‘bisa jadi ia akan berislam dan hidupnya berakhir dengan perbuatan baik. Dan bisa jadi aku menjadi kafir dan menutup usia dengan perbuatan buruk’.”

Poin terakhir merupakan pelajaran penting tentang kerendahan hati dan ketidakpastian akhir kehidupan manusia. Hidayah sepenuhnya berada di tangan Allah swt. Seseorang yang hari ini jauh dari agama bisa saja kelak memperoleh petunjuk dan menjadi pribadi yang saleh. 

Sebaliknya, orang yang merasa dirinya sudah baik tidak boleh lengah karena tidak ada jaminan bagaimana akhir hidupnya. Kesadaran inilah yang membuat seorang mukmin senantiasa berdoa memohon husnul khatimah sekaligus menghindari sikap mudah menghakimi orang lain.

Enam nasihat Syekh Abdul Qadir al-Jilani tersebut menunjukkan bahwa husnuzan bukan sekadar berpikir positif terhadap orang lain, melainkan juga melatih hati agar selalu dipenuhi kerendahan diri. Setiap kali bertemu siapa pun, seorang mukmin diajak untuk mencari sisi yang membuatnya lebih banyak bercermin kepada dirinya sendiri daripada sibuk mencari kekurangan orang lain. Dengan cara inilah hati akan lebih mudah dijaga dari kesombongan, iri hati, dan penyakit-penyakit batin lainnya.

Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi informasi dan penilaian yang serba cepat, nasihat ini menjadi semakin relevan. Tidak sedikit perselisihan bermula dari prasangka yang belum tentu benar. 

Karena itu, membiasakan husnuzan akan menciptakan hubungan sosial yang lebih harmonis, memperkuat ukhuwah, serta menghadirkan ketenangan dalam diri. Semoga Allah swt. menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa berbaik sangka kepada-Nya, kepada sesama manusia, dan kepada diri sendiri, sehingga hidup dipenuhi keberkahan dan diakhiri dengan husnul khatimah.

Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag., Penyuluh Agama Islam Kotabaru dan Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag.? Silakan Klik disini