Tadabbur QS. An-Nisa Ayat 28: Kelemahan Manusia dan Kasih Sayang Allah

Al-Qur’an memaparkan bahwa “lemah” juga bagian daripada karakter manusia. Bersamaan dengan itu pula, Allah menunjukkan kasih-Nya dengan senantiasa mengarahkan manusia agar tidak terjatuh pada kehinaan yang akan merendahkan derajatnya. Allah Swt berfirman dalam QS. An-Nisa: 28

يُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْاِنْسَانُ ضَعِيْفًا  

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia diciptakan (dalam keadaan) lemah.

Lemah di sini bukan hanya sekedar persoalan fisik, tapi juga terkait pengendalian diri. Wahbah al-Zuhaily (w. 1436H) menerangkan maksud lemah disini adalah:

عاجزا عن مخالفة نفسه وهواه

Manusia diciptakan dalam keadaan lemah dalam menentang hawa nafsunya

Tentu, ini bukan menjadi jalan pintas pembenaran atau dalih untuk meremehkan larangan-larangan Allah. Justru, hal ini menjadi pengingat bagi kita untuk terus berupaya memilih jalan-jalan yang Allah sudah gariskan. Baik buruknya, halal-haramnya, perintah-larangan-Nya dan juga sunnah-sunnah nabi-Nya.

Karena diantara maksud daripada Allah menerangkan hukum-hukum syara’ adalah menunjukkan jalan bagi kita sebagaimana para Nabi dan Rasul menjalankan kehidupan. Tujuan utamanya adalah melahirkan kemaslahatan bagi kehidupan manusia itu sendiri. Kalaupun manusia berbuat salah, maka Allah juga mengajarkan caranya bertaubat dan memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah berlalu.

Selain itu, Al-Qur’an juga memberikan pendidikan bahwa nafsu juga merupakan anugerah yang Allah berikan. Tanpa adanya sinyal dari nafsu, manusia tidak akan ada hasrat untuk makan, minum atau bahkan melanjutkan regenerasi dengan pernikahan. Namun, seringkali nafsu membawa manusia pada sikap yang serakah, brutal dan mengerikan. 

Sehingga, peran syara’ disini adalah sebagai katalisator agar manusia mampu memanajemen nafsunya. Kembali diterangkan oleh Wahbah al-Zuhaily:

وَيُرِيدُ اللَّهُ بِهَذِهِ الْأَحْكَامِ وَالتَّكَالِيفِ وَالشَّرَائِعِ وَالْأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِي التَّخْفِيفَ عَنْكُمْ وَهَذَا مِثْلُ قَوْلِهِ تَعَالَى وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ (الحج: 78) َقَوْلُهُ ﷺ: «بُعِثْتُ بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِ».

لِأَنَّهُ تَعَالَى وَإِنْ حَرَّمَ عَلَيْنَا بَعْضَ النِّسَاءِ، فَقَدْ أَبَاحَ لَنَا أَكْثَرَ النِّسَاءِ، وَهَكَذَا الْحَلَالُ أَكْثَرُ مِنَ الْحَرَامِ فِي كُلِّ شَيْءٍ

Allah menegaskan bahwa hukum yang ditetapkan baik dalam bentuk perintah maupun larangan adalah untuk meringankan kalian. Sebagaimana Allah contohkan dalam firman-Nya QS. Al-Hajj: 78 (dan tidak menjadikan kesulitan untukmu dalam agama). Begitu juga sabda Nabi: Saya diutus dengan membawa Agama yang lurus dan penuh kelonggaran

Meski Allah larang kita menikah dengan sebagian perempuan, yang boleh dinikah jauh lebih banyak. Begitupun perkara yang halal jauh lebih banyak dibanding perkara yang haram

Selanjutnya, pensyari’atan juga menutup ruang-ruang keburukan dan kefasikan manusia. Sehingga mereka bisa saling memberikan keteladan satu sama lain. Kita juga sama-sama mengetahui bahwa perilaku buruk sangat mudah menular. Ath-Thabrani meriwayatkan hadits dari Jabir:

عفّوا تعفّ نسآؤكم وبرّوا آباءكم تبرّكم أبناؤكم

Jagalah kehormatan diri kalian, perempuan-perempuan (keluargamu) akan ikut menjaga kehormatan dirinya. Berbuat baiklah kepada ibu bapak kalian, anak-anak kalian akan berbuat baik pada kalian. 

Dengan demikian, kita tidak lagi memandang hukum-hukum Allah sebagai hal yang memberatkan, justru mengarahkan dan menyelamatkan kita dari berbagai keburukan. Sebab secara mendasar manusia tercipta “lemah” dalam mengontrol hawa nafsunya. Namun, semua keputusan dalam hidup adalah pilihan; jika kita tetap lebih merasa puas dengan keburukan, maka harus siap pula dengan konsekuensi akhir yang menanti kita.

Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini