Surah An-Najm Ayat 32: Larangan Al-Qur’an Terhadap Sikap Moral Superiority

Moral superiority merupakan istilah dalam psikologi yang merujuk pada kecenderungan seseorang untuk memandang dirinya lebih benar, lebih baik, atau lebih bermoral dibandingkan orang lain (Tappin & McKay, 2026). Sikap ini sering kali tidak disadari, karena tampil dalam bentuk yang tampak positif, seperti merasa lebih bijak, lebih sabar, atau lebih “lurus” dalam bersikap. Namun, di balik itu, terdapat kecenderungan untuk menghakimi dan menilai orang lain dari posisi yang dianggap lebih tinggi secara moral.

Dalam kehidupan sehari-hari, moral superiority dapat terlihat melalui pernyataan atau sikap yang menegaskan perbedaan diri dengan orang lain secara implisit, misalnya merasa tidak seperti “kebanyakan orang” atau menganggap pilihan hidupnya lebih benar

Ternyata, fenomena moral superiority ini telah disinggung oleh Allah dalam Al-Qur’an sebagaimana terdapat dalam QS. An-Najm [53]: 32 yaitu:

اَلَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبٰۤىِٕرَ الْاِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ اِلَّا اللَّمَمَۙ اِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِۗ هُوَ اَعْلَمُ بِكُمْ اِذْ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاِذْ اَنْتُمْ اَجِنَّةٌ فِيْ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْۗ فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى ࣖ 

Terjemah:

“(Mereka adalah) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji. Akan tetapi, mereka (memang) melakukan dosa-dosa kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya. Dia lebih mengetahui dirimu sejak Dia menjadikanmu dari tanah dan ketika kamu masih berupa janin dalam perut ibumu. Maka, janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.”

Tafsir QS. An-Najm [53]: 32 dan Kaitannya dengan Moral Superiority

Sorotan kajian dalam tulisan ini terlelak pada bagian akhir ayat yaitu sikap seseorang yang memuji, menyucikan, atau membanggakan dirinya seolah-olah telah bersih dari dosa dan kesalahan, padahal yang paling mengetahui hakikat amal, ketakwaan, dan niat manusia hanyalah Allah. 

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna ayat ini adalah larangan memuji diri sendiri dan menyombongkan amal, karena hanya Allah yang mengetahui kadar keimanan dan ketakwaan seseorang secara sempurna (tafsir-ibnu-katsir-[Jilid 7]: 582).   

Tafsir Kementerian Agama menegaskan bahwa ayat ini menunjukkan bagaimana orang bertakwa dijelaskan bukan hanya dengan tidak melakukan dosa besar, tetapi juga dengan kesadaran bahwa masih ada kekurangan dan kesalahan kecil yang hanya Allah yang mengetahui. Hal ini mendorong sikap rendah hati daripada sikap merasa paling suci atau paling benar di hadapan orang lain (tafsir-tahlili-[Jilid 9]: 542).  

Sementara dalam Tafsir Al-Munir  menekankan bahwa ayat ini mengajarkan manusia untuk tidak menyanjung dirinya sendiri atau menganggap diri lebih unggul dari orang lain karena amalnya, karena Allah-lah yang paling mengetahui tentang apa yang tersembunyi dalam hati dan perilaku manusia (tafsir-al-munir-[Jilid 14]: 150).  

Ketiga penafsiran di atas secara ringkas mengarahkan pembaca kepada satu prinsip utama, yaitu jangan mengklaim kesucian diri atau mencari identitas superior melalui perbandingan dengan orang lain.

Dampak Moral Superiority Menurut Kacamata Psikologi

Moral superiority dapat berdampak pada cara individu memandang diri sendiri dan orang lain secara tidak seimbang. Kecenderungan merasa lebih benar secara moral sering kali berkaitan dengan proses social comparison, yaitu ketika seseorang menilai dirinya melalui perbandingan dengan orang lain, yang dalam kondisi tertentu dapat menghasilkan sikap merasa lebih unggul. 

Selain itu, dalam konsep moral grandstanding, ekspresi moral kadang tidak hanya didorong oleh nilai kebaikan itu sendiri, tetapi juga oleh kebutuhan akan pengakuan dan status sosial. Individu terdorong untuk menampilkan diri sebagai pihak yang paling benar atau bermoral, yang dapat memperkuat sikap superior terhadap orang lain.

Kecenderungan ini juga diperkuat oleh spotlight effect, yaitu bias kognitif ketika seseorang melebih-lebihkan seberapa besar perhatian orang lain terhadap sikap atau penampilannya. Hal ini dapat membuat individu terus berusaha menegaskan citra moral yang “baik” di mata publik, meskipun tidak selalu mencerminkan kondisi internal yang sebenarnya.

Moral superiority tidak hanya berdampak pada relasi sosial yang menjadi kurang sehat akibat kecenderungan menghakimi, tetapi juga dapat memengaruhi stabilitas psikologis individu karena adanya tekanan untuk terus mempertahankan citra moral yang dianggap unggul.

Penutup

Moral superiority berakar pada kebutuhan manusia untuk diakui sebagai pihak yang lebih benar atau lebih baik dari orang lain. Namun, ketika berkembang berlebihan, hal ini dapat memunculkan sikap merasa unggul secara moral yang berujung pada kecenderungan menghakimi orang lain. QS. An-Najm [53]: 32 mengingatkan agar manusia tidak menganggap dirinya suci, karena hanya Allah yang paling mengetahui tingkat ketakwaan setiap hamba. Islam tetap mendorong kebaikan, tetapi menegaskan pentingnya kerendahan hati, keikhlasan, dan tidak merasa paling benar. Wallahu A’lam.

Saibatul Hamdi, M.Pd., Guru Al-Qur’an Hadis MTsN Seruyan dan Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang Saibatul Hamdi, M.Pd.? Silakan Klik disini