Sudahkah Kita Mengenal Al-Qur’an?

Pepatah bilang; tak kenal maka tak sayang. Mari kita awali dengan mengenal definisi dan pengertian daripada al-Qur’an itu sendiri. Kita akan sampaikan beberapa pemaparan ‘Ulama mengenai pengertian dari Al-Qur’an. Sayyid Muhammad ‘Alwi al-Maliki mendefinisikan al-Qur’an Secara bahasa dengan:

مَأْخُوذٌ مِنَ القُرءُ؛ وَهُوَ الْجَمْعُ

Diambil dari lafaz al-Qur’u yang artinya “mengumpulkan”

 Berikut adalah pengertian secara istilah  yang dipaparkan oleh Wahbah al-Zuhaily:

هُوَ كَلَامُ اللهِ الْمُعْجِزُ، الْمُنَزَّلُ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، بِاللَّفْظِ الْعَرَبِيِّ، الْمَكْتُوبُ فِي الْمَصَاحِفِ، الْمُتَعَبَّدُ بِتِلَاوَتِهِ، الْمَنْقُولُ بِالتَّوَاتُرِ، الْمَبْدُوءُ بِسُورَةِ الْفَاتِحَةِ، الْمَخْتُومُ بِسُورَةِ النَّاسِ

Al-Qur’an adalah firman Allah yang mukjizat, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dalam bahasa Arab yang tertulis dalam mushaf, yang bacaannya terhitung sebagai ibadah, diriwayatkan secara mutawatir, dimulai dengan surah al-Fatihah dan ditutup dengan surah an-Nas. 

Maksud Al-Qur’an sebagai mukjizat adalah manusia dan jin tidak mampu mendatangkan sesuatu yang sebanding dengannya, bahkan satu surah sekalipun.

Kata mu‘jizah berakar dari kata ‘ajaza yang menunjukkan ketidakmampuan; Al-Qur’an disebut mukjizat karena manusia tidak mampu mendatangkan tandingan yang semisal dengannya. Sehingga para ahli sya’ir pada masa itu  turut takjub dengan susunan ayat dan surah yang ada pada Al-Qur’an. 

Adapun, bacaannya yang bernilai ibadah maknanya ialah setiap huruf dari  al-Qur’an yang dibaca oleh seorang muslim akan mendatangkan pahala dan kebaikan. Sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW dari Ibnu Mas’ud

من قرأ حرفًا من كتابِ اللهِ فله به حسنةٌ، والحسنةُ بعشرِ أمثالِها لا أقولُ (الـم) حرفٌ ولكنْ (ألفٌ) حرفٌ و(لامٌ) حرفٌ و(ميمٌ) حرفٌ

Siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka ia memperoleh satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan bahwa ‘Alif Lām Mīm’ adalah satu huruf. Namun, Alif satu huruf, Lām satu huruf, dan Mīm satu huruf

Sedangkan makna mutawatir adalah sebuah periwayatan yang diriwayatkan dengan jumlah yang besar. Sederhananya, Al-Qur’an tidak sampai kepada kita melalui satu-dua orang, tetapi ditransmisikan secara luas dari generasi ke generasi sehingga keotentikan transmisinya mencapai tingkat kepastian.

Lalu, Apa Bedanya Dengan Hadis Qudsi?

Secara pengertian hadis qudsi adalah adalah hadis Nabi SAW yang disandarkan pada Allah Swt. Jelasnya,saat Nabi SAW menyampaikan hadis ini , beliau dalam posisi menyampaikan kalam Allah SWT tapi redaksi lafazhnya berasal dari Nabi SAW Sendiri. Namun, berbeda dengan Al-Qur’an, hadis qudsi tidak memiliki seluruh karakteristik khusus Al-Qur’an.

Al-Qur’an hanya disandarkan pada Allah SWT dan juga bernilai ibadah, cukup dengan membacanya kita akan mendapat pahala, tidak demikian dengan ilmu atau bacaan yang lain.

Berbeda dengan Al-Qur’an yang seluruhnya diterima secara mutawatir, hadis qudsi tidak disyaratkan demikian. Karena itu, sebagaimana hadis Nabi pada umumnya, riwayat hadis qudsi diteliti berdasarkan sanad dan dapat berstatus sahih, hasan, ataupun daif.

Setelah mengenal beberapa karakteristik Al-Qur’an, kita mungkin mulai memahami bahwa kitab yang selama ini kita baca memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Ia bukan sekadar bacaan, tetapi kalam Allah yang membacanya saja bernilai ibadah. Barangkali benar kata pepatah di awal tulisan ini: untuk semakin mencintainya, kita perlu terlebih dahulu mengenalnya.

Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Pendiri Antassalam Institute dan Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini