Ada sebuah jokes yang berulang setiap awal Ramadan di masjid tempat penulis tinggal. Biasanya, di malam pertama tarawih, sang kiai memberi wejangan singkat, lalu menutup dengan kalimat yang selalu mengundang senyum jamaah:
“Semoga sampai 30 Ramadan nanti, tidak ada kemajuan.”
Tentu maksud beliau bukan mendoakan stagnasi spiritual. Yang dimaksud justru sebaliknya: semoga saff salat tarawih tidak semakin maju—tidak semakin pendek karena jamaahnya berkurang. Sebab, pengalaman bertahun-tahun menunjukkan satu gejala yang nyaris universal. Di banyak masjid, malam pertama Ramadan selalu penuh. Jamaah meluber sampai halaman. Suasananya hampir setara dengan hari raya. Namun setelah itu, pelan tapi pasti, barisan mulai menyusut. Hari kedua, hari ketujuh, hari kesepuluh, lalu terus berkurang hingga akhir bulan.
Alasannya bisa bermacam-macam. Ada yang semangatnya menurun. Ada yang mulai sibuk dengan urusan kerja. Ada pula yang mulai disibukkan persiapan lebaran—dari belanja, mudik, hingga agenda keluarga. Semua alasan itu manusiawi. Tetapi di balik fenomena ini, barangkali ada persoalan yang lebih mendasar, yaitu: cara kita memulai ibadah di bulan Ramadan.
Fenomena ini mengingatkan pada dunia diet dan kebugaran. Ade Rai, binaragawan yang kerap mengedukasi publik soal pola hidup sehat, pernah menyebut bahwa sekitar 95% orang yang memulai diet akan gagal di tengah jalan. Menariknya, kegagalan itu bukan karena mereka kurang niat atau kurang persiapan. Justru sebaliknya. Banyak yang sudah mendaftar gym setahun penuh, membeli baju olahraga khusus, menyetok protein, bahkan menyiapkan food prep sejak awal.
Namun dari sepuluh orang yang memulai, rata-rata hanya satu orang yang benar-benar bertahan sampai akhir. Sisanya tumbang di tengah jalan.
Menurut Ade Rai, masalahnya bukan pada niat, melainkan pada ledakan semangat yang terlalu besar di awal. Motivasi yang meledak-ledak itu sulit dijaga. Ketika tubuh mulai craving, ketika rasa lelah datang, yang terjadi bukan sekadar “kendur”, tetapi justru “balas dendam”: makan berlebihan, lalu melupakan seluruh alasan mengapa diet itu dimulai.
Pola ini terasa sangat relevan dengan pengalaman Ramadan kita. Ledakan amal di hari-hari pertama sering kali terlalu tinggi dibanding kapasitas yang sebenarnya. Akibatnya, tubuh dan jiwa kelelahan lebih cepat. Ibadah yang seharusnya menguatkan justru terasa memberatkan.
Maka benarlah sabda Nabi SAW:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten, meskipun sedikit.” (HR. Muslim, no. 783)
Ramadan tidak menuntut kita menjadi manusia baru secara mendadak. Ia tidak meminta semua orang langsung khatam Al-Qur’an berkali-kali, atau menambah seluruh jenis ibadah sunnah sekaligus. Justru yang lebih penting adalah menemukan ritme yang sanggup kita jaga sampai akhir.
Bagi yang belum terbiasa tadarus, tidak harus langsung one day one juz. Satu halaman per hari jauh lebih realistis, dan sering kali lebih bertahan. Bagi yang jarang shalat sunnah, memulai dengan tarawih delapan rakaat di masjid terdekat sudah sangat cukup. Prinsipnya sederhana: jangan menjadikan Ramadan sebagai panggung ledakan amal di awal, lalu kelelahan di tengah.
Ramadan bukan lomba sprint. Ia lebih mirip “maraton” panjang yang menuntut napas stabil dan langkah terukur.
Dr. Muhammad Asgar Muzakki, M. Ag, Ustadz di Cariustadz.id
Tertarik mengundang Dr. Muhammad Asgar Muzakki, M. Ag? Silakan klik disini