Self Love VS Fake Love dalam Pandangan Islam dan Psikolog

Carisutadz.id, – Konsep tentang mencintai diri sendiri atau self love sedang banyak diperbincangkan terutama di media sosial. Bagi kita selaku umat Muslim, mencintai diri sendiri adalah bentuk rasa syukur kita kepada Allah Swt yang telah menganugerahkan kehidupan dan segala hal yang ada di dalamnya. Namun bagi sebagian kita terkadang self love ini berbeda tipis dengan fake love. Apa perbedaannya? Bagaimana Islam memandang hal ini? 

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut Cariustadz.id melalui program Ruang Tengah menghadirkan Rena Masri, S. Psi, M. Si dari halodoc dan Dr. Ali Nurdin, MA selaku pimpinan Cari Ustadz. Mereka berdua berusaha menjelaskan perbedaan antara self love dan fake love dan pandangan Islam tentang konsep mencintai diri sendiri. 

Rena Masri menjelaskan bahwa self love adalah menyayangi diri sendiri yang pada prakteknya kita melakukan upaya-upaya agar bisa terus berkembang dan bisa terus optimal. Akan tetapi fake love ini berlindung dibalik konsep sebelumnya, mencintai diri sendiri tetapi tidak membuat dirinya berkembang. Dia mencontohkan dari fisik misalnya orang mukanya penuh jerawat, dalam konsep mencintai diri sendiri yang benar kita melakukan upaya agar wajah kita bersih dan sehat. Lain halnya dengan fake love, kita akan denial dengan keadaan wajah berjerawat dan berlindung dengan istilah self love tanpa melakukan upaya apa pun.

“Fake love ini sebenarnya tidak mencerminkan bahwa dia mencintai diri sendiri karena tidak berusaha untuk memperbaiki atau memulihkan apa yang perlu diperbaiki atau dipulihkan dalam diri kita,” kata Rena menambahkan penjelasannya.

Selain self love, menurut Rena, perlu juga kita punya sikap self awareness atau kesadaran diri untuk terus mengevaluasi diri sendiri. Dengan self awareness dan self love, kita tahu apa segala hal tentang diri kita dan mau berusaha melakukan yang terbaik bagi diri kita. 

Menurut Ali Nurdin hidup adalah proses belajar terus menerus. Dalam bingkai ajaran Islam, kita dianugerahi pikiran dan hati nurani. Rasulullah saw bersabda, “istafti qalbak.” Artinya untuk mencapai titik keseimbangan hidup coba tanya hati nuranimu. Apakah yang kita lakukan adalah bentuk self love yang sesuai dengan aturan ajaran agama, atau malah fake love yang berarti melanggar norma-norma sosial dan agama. Misalnya dengan dalih ingin memanjakan diri, akan tetapi mengkonsumsi makanan atau minuman yang dilarang dalam agama atau melakukan hal hal yang berdampak negatif pada diri sendiri. 

“Penting bagi setiap orang untuk terus belajar agar dia bisa berada di titik tengah, artinya dia bisa mencintai dan menghargai diri sendiri tetapi pada saat yang sama dia bisa menjalani kehidupan yang menghargai hak orang lain,” terang Ali Nurdin.