Komunikasi merupakan bagian penting dalam proses pendidikan. Guru tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga memberikan nasihat, motivasi, koreksi, dan teguran kepada peserta didik. Namun, keberhasilan komunikasi tidak hanya ditentukan oleh isi pesan, melainkan juga oleh cara menyampaikannya. Teguran yang keras dan merendahkan dapat membuat siswa merasa diserang, sedangkan perkataan yang lembut dapat membantu mereka lebih terbuka terhadap nasihat.
Kondisi emosional seseorang memengaruhi bagaimana ia menerima pesan. Ketika merasa dipermalukan atau disalahkan, seseorang dapat menjadi defensif sehingga lebih fokus mempertahankan diri daripada memahami pesan. Prinsip ini memiliki relevansi dengan konsep qawlan layyinan, yaitu perkataan yang lembut dalam Al-Qur’an sebagaimana termaktub dalam QS. Taha [20]: 44 berikut.
فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى
Terjemah:
“44. Berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.”
Tafsir QS. Taha [20]: 44 tentang Komunikasi yang Lemah Lembut
Ayat ini berisi perintah Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Harun ketika menghadapi Fir’aun. Meskipun Fir’aun merupakan sosok yang keras dan bahkan mengaku sebagai Tuhan, keduanya tetap diperintahkan menggunakan perkataan yang lembut.
Menurut Ibnu Katsir, kelembutan dalam berbicara diharapkan dapat membuka jalan bagi munculnya kesadaran (tafsir-ibnu-katsir- [Jilid 5]: 383-384). Sementara Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan pentingnya kelembutan dalam memberikan nasihat dan mengajak seseorang kepada kebenaran (tafsir-qurthubi- [Jilid 11]: 535). Adapun Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menerangkan bahwa perkataan yang lembut dapat memberikan kesempatan kepada seseorang untuk berpikir dan menerima pesan yang disampaikan (tafsir-al-munir- [Jilid 8]: 480).
Hal ini menunjukkan bahwa kelembutan bukan berarti membiarkan kesalahan. Kelembutan merupakan cara menyampaikan kebenaran agar lebih mudah diterima.
Psikologi Komunikasi dalam Teguran
Guru memang perlu menegur ketika siswa melakukan kesalahan. Namun, teguran sebaiknya diarahkan kepada perilaku, bukan menyerang pribadi. Misalnya, kalimat “Tugasmu belum selesai, mari kita cari tahu apa yang membuatmu kesulitan” lebih konstruktif daripada “Kamu memang malas.” Kalimat pertama menunjukkan masalah sekaligus membuka ruang penyelesaian, sedangkan kalimat kedua memberikan label negatif terhadap siswa.
Perbedaan tersebut penting karena siswa dapat membedakan antara “saya melakukan kesalahan” dan “saya adalah anak yang buruk.” Kesalahan merupakan perilaku yang dapat diperbaiki, sedangkan label negatif dapat memengaruhi cara siswa memandang dirinya. Karena itu, komunikasi korektif sebaiknya menjelaskan kesalahan, menggunakan bahasa yang menghargai, dan memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Kelembutan Bukan Berarti Lemah
Qawlan layyinan juga tidak berarti guru harus kehilangan ketegasan. Pendidikan tetap membutuhkan aturan dan konsekuensi. Yang membedakan adalah cara penyampaiannya. Guru dapat berkata, “Bapak/Ibu memahami keadaanmu, tetapi aturan ini tetap harus dipatuhi. Mari kita cari solusi agar kesalahan ini tidak terulang.” Kalimat tersebut menunjukkan bahwa empati dan ketegasan dapat berjalan bersama.
Guru juga perlu menjadi teladan dalam berkomunikasi. Ketika guru membiasakan diri berbicara santun, mendengarkan siswa, dan mengoreksi tanpa mempermalukan, siswa belajar bahwa komunikasi yang baik bukan hanya teori, tetapi sesuatu yang dipraktikkan.
Penutup
Qawlan layyinan memberikan pelajaran bahwa kelembutan merupakan bagian penting dalam komunikasi pendidikan. Cara menyampaikan pesan dapat memengaruhi keterbukaan seseorang terhadap koreksi. Karena itu, guru hendaknya mampu menegur tanpa merendahkan, mengoreksi tanpa mempermalukan, dan bersikap tegas tanpa kehilangan kelembutan. Pada akhirnya, tujuan teguran bukan membuat siswa merasa takut atau malu, tetapi membantu mereka menyadari kesalahan dan memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik. Perkataan yang lembut bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kebijaksanaan dalam mendidik. Wallahu a‘lam.
Saibatul Hamdi, M.Pd., Guru Al-Qur’an Hadis MTsN Seruyan dan Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang Saibatul Hamdi, M.Pd.? Silakan Klik disini