People Pleasing dan Keberanian Menjadi Diri Sendiri

People pleasing merupakan kecenderungan seseorang untuk selalu berusaha menyenangkan orang lain demi memperoleh penerimaan sosial dan menghindari penolakan. Individu yang memiliki perilaku ini sering merasa tidak nyaman ketika harus menolak permintaan orang lain, takut mengecewakan orang di sekitarnya, serta cenderung menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan dirinya sendiri. Meskipun tampak sebagai bentuk kebaikan, perilaku ini dapat menimbulkan tekanan psikologis ketika dilakukan secara berlebihan.

Islam mengajarkan pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama manusia, namun tidak sampai mengorbankan prinsip kebenaran atau menjadikan penilaian manusia sebagai tujuan utama hidup. Salah satu ayat yang dapat dijadikan landasan dalam memahami hal ini adalah QS. Al-Ma’idah [5]: 54 yang menggambarkan karakter orang-orang beriman yang tidak takut terhadap celaan manusia ketika menjalankan kebenaran. Allah Swt. Berfirman:

….يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لَاۤىِٕمٍ ۗ…. 

“…Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut kepada celaan orang yang mencela….”

Tafsir QS. Al-Ma’idah [5]: 54 tentang Isyarat Teguh pada diri Sendiri untuk Kebenaran

Menurut Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa ayat ini menggambarkan sifat orang-orang beriman yang teguh menjalankan perintah Allah dan tidak meninggalkan kebenaran hanya karena takut terhadap kritik, celaan, atau penolakan manusia. Mereka lebih mengutamakan keridaan Allah daripada penilaian makhluk (tafsir-ibnu-katsir- [Juz 6]: 519-520).

Imam Al-Qurṭhubi menjelaskan bahwa frasa “la yakhafuna laumata la’im” menunjukkan keberanian moral dalam mempertahankan kebenaran. Seorang mukmin tidak menjadikan pujian maupun celaan manusia sebagai ukuran utama dalam bertindak. Sikap seperti ini tentu sangat berbeda dengan sikap yang dimiliki oleh orang-orang munafik (tafsir-qurthubi- [Jilid 6]: 528).

Sementara itu, Prof. Wahbah az-Zuḥaili dalam Tafsir Al-Munir menegaskan bahwa ayat ini mengajarkan keteguhan sikap dan kekuatan kepribadian. Orang yang beriman tetap melakukan kebaikan dan mempertahankan prinsip yang benar meskipun menghadapi tekanan sosial dari lingkungannya (tafsir-al-munir- [Jilid 3]: 566).

People Pleasing dan Keberanian Menjadi Diri Sendiri 

People pleasing sering muncul karena kebutuhan yang tinggi akan penerimaan sosial. Seseorang merasa khawatir jika pendapat atau tindakannya membuat orang lain kecewa sehingga berusaha menyesuaikan diri secara berlebihan. Perilaku ini umumnya dipengaruhi oleh ketakutan terhadap penolakan (fear of rejection) dan keinginan untuk selalu mendapatkan persetujuan dari lingkungan (Dasi, 2025, article/view/).

Pada awalnya, perilaku ini dapat membuat seseorang tampak ramah dan mudah diterima. Namun dalam jangka panjang, people pleasing sering menyebabkan kelelahan emosional karena individu terus-menerus menekan keinginan dan pendapat pribadinya. Ia menjadi sulit menetapkan batasan (personal boundaries) dan merasa bersalah ketika tidak mampu memenuhi harapan orang lain.

Selain itu, ketergantungan pada validasi sosial dapat membuat seseorang kehilangan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri (Haq & Amirah, 2026, article/view/). Keputusan yang diambil lebih banyak didasarkan pada kekhawatiran terhadap reaksi orang lain daripada pada nilai, keyakinan, atau kebutuhan pribadinya. Akibatnya, individu rentan mengalami kecemasan sosial, stres, dan penurunan kepercayaan diri.

Melalui QS. Al-Ma’idah [5]: 54, Al-Qur’an mengajarkan keberanian untuk tetap berpegang pada kebenaran meskipun menghadapi kritik atau penolakan. Ayat ini tidak mengajarkan sikap keras kepala atau mengabaikan nasihat orang lain, tetapi menanamkan kesadaran bahwa nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh pujian maupun celaan manusia. Ketika seseorang menjadikan keridaan Allah sebagai orientasi utama, ia akan lebih mampu bersikap autentik, menyampaikan pendapat dengan bijak, dan tidak mudah terombang-ambing oleh penilaian sosial.

Dengan demikian, keberanian menjadi diri sendiri dalam Islam bukanlah bentuk individualisme, melainkan kemampuan untuk tetap menjaga prinsip dan identitas diri tanpa terjebak dalam ketergantungan berlebihan pada penerimaan orang lain.

Penutup

Fenomena people pleasing menunjukkan bahwa banyak individu masih menggantungkan nilai dirinya pada penerimaan dan penilaian sosial. Melalui QS. Al-Ma’idah [5]: 54, Al-Qur’an mengajarkan pentingnya keberanian untuk tetap berpegang pada kebenaran tanpa takut terhadap celaan manusia. Guna menjadikan keridaan Allah sebagai orientasi utama, seseorang dapat membangun kepercayaan diri yang sehat, menjaga prinsip hidupnya, serta terbebas dari ketergantungan berlebihan pada validasi sosial. Wallahu A’lam.

Saibatul Hamdi, M.Pd., Guru Al-Qur’an Hadis MTsN Seruyan dan Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang Saibatul Hamdi, M.Pd.? Silakan Klik disini