Muharram: Momentum Menyantuni Anak Yatim

Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Allah SWT memasukkan Muharram ke dalam empat bulan haram (al-asyhur al-hurum), yaitu bulan-bulan yang memiliki keutamaan khusus. Di bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh, memperkuat ketakwaan, serta mengisi hari-harinya dengan berbagai bentuk ibadah dan kepedulian sosial.

Keutamaan Muharram juga tampak dalam anjuran berpuasa, khususnya pada tanggal 10 Muharram yang dikenal sebagai Hari Asyura. Rasulullah Saw bahkan menyebut puasa Muharram sebagai salah satu puasa sunnah yang paling utama setelah puasa Ramadan. Oleh karena itu, bulan ini sering dijadikan momentum untuk meningkatkan kualitas hubungan seorang hamba dengan Allah Swt sekaligus mempererat hubungan dengan sesama manusia.

Di tengah berbagai amal kebaikan yang dapat dilakukan, menyantuni anak yatim menjadi salah satu amalan yang sangat relevan. Anak yatim merupakan kelompok yang mendapatkan perhatian besar dalam ajaran Islam. Al-Qur’an berulang kali memerintahkan umat Islam untuk menjaga, memuliakan, dan memenuhi hak-hak mereka. Karena itulah, banyak masyarakat Muslim menjadikan bulan Muharram sebagai kesempatan untuk berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yatim. 

Mengusap Kepala Anak Yatim di Hari Asyura

Di berbagai daerah di Indonesia, terdapat tradisi yang telah lama dikenal masyarakat, yaitu mengundang anak-anak yatim pada Hari Asyura untuk diberikan santunan. Kegiatan tersebut biasanya dilaksanakan di masjid, mushalla, lembaga pendidikan Islam, maupun majelis taklim, atau secara pribadi mendatangi rumah-rumah anak yatim. Selain memberikan bantuan berupa uang, makanan, perlengkapan sekolah, atau pakaian, masyarakat juga menunjukkan perhatian dan kasih sayang kepada mereka.

Salah satu bentuk perhatian yang sering dilakukan adalah mengusap kepala anak yatim. Tindakan sederhana ini bukan sekadar simbol seremonial, melainkan bentuk ungkapan kasih sayang dan kepedulian. Dalam budaya masyarakat Muslim Indonesia, mengusap kepala anak yatim sering diiringi doa agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang saleh, kuat, dan memperoleh kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Tradisi ini tentu perlu dipahami sebagai sarana menumbuhkan empati dan kepedulian sosial. Yang terpenting bukanlah besarnya santunan yang diberikan, melainkan ketulusan dalam membantu serta upaya menjaga martabat anak yatim agar mereka tetap merasa dihargai di tengah masyarakat.

Dalil dan Pendapat Ulama

Islam memberikan perhatian yang sangat besar kepada anak yatim. Rasulullah Saw bersabda:

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim akan berada di surga seperti ini.” Kemudian beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengah yang dirapatkan. (HR. al-Bukhari)

Hadis ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan orang yang peduli terhadap kehidupan anak yatim. Mereka bukan hanya mendapatkan pahala karena membantu sesama, tetapi juga memperoleh kedekatan dengan Rasulullah Saw di surga.

Terkait mengusap kepala anak yatim, terdapat hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah. Ketika seseorang mengeluhkan kerasnya hati kepada Rasulullah Saw, beliau bersabda:

“Usaplah kepala anak yatim dan berilah makan orang miskin.” (HR. Ahmad)

Para ulama menjelaskan bahwa mengusap kepala anak yatim merupakan salah satu sarana untuk melembutkan hati. Ketika seseorang berinteraksi langsung dengan anak yang kehilangan ayahnya, ia akan lebih mudah merasakan empati, belas kasih, dan rasa syukur atas nikmat yang dimilikinya. Karena itu, amalan ini tidak hanya bermanfaat bagi anak yatim, tetapi juga bagi orang yang melakukannya.

Apabila santunan diberikan pada Hari Asyura dalam keadaan seseorang sedang menjalankan puasa sunnah, maka ia berpotensi memperoleh dua jenis pahala sekaligus: pahala ibadah puasa dan pahala sedekah atau santunan kepada anak yatim. Walaupun tidak ada dalil khusus yang menetapkan keutamaan mengusap kepala anak yatim hanya pada Hari Asyura, menggabungkan dua amalan saleh pada hari yang mulia tentu termasuk bentuk berlomba-lomba dalam kebaikan yang dianjurkan dalam Islam.

Abu al-Laits al-Samarqandi, seperti yang dikutip NU online, menjelaskan bahwa:

Barang siapa yang berpuasa di hari Asyura pada bulan Muharram, niscaya Allah akan memberikan pahala seribu malaikat dan pahala 10.000 syuhada. Dan barang siapa mengusap kepala anak yatim di hari Asyura, niscaya Allah mengankat derajatnya pada setiap rambut yang diusapnya.

Dampak Sosial, Ekonomi, dan Psikologis

Menyantuni anak yatim memiliki dampak yang sangat luas, baik bagi individu maupun masyarakat. Dari sisi sosial, perhatian yang diberikan masyarakat dapat menguatkan posisi anak yatim di lingkungan sekitarnya. Mereka tidak merasa terasing atau ditinggalkan, melainkan menjadi bagian dari komunitas yang peduli dan siap mendukung pertumbuhan mereka. Kehadiran masyarakat yang memberikan perhatian juga menumbuhkan rasa percaya diri dan semangat untuk berinteraksi dengan lingkungan.

Dari sisi ekonomi, santunan yang diberikan dapat membantu memenuhi berbagai kebutuhan dasar anak yatim. Kehilangan ayah sering kali berdampak pada berkurangnya sumber pendapatan keluarga. Bantuan berupa uang, makanan, perlengkapan sekolah, atau kebutuhan lainnya dapat meringankan beban yang ditanggung ibu maupun wali yang merawat mereka. Walaupun nilainya mungkin tidak besar, bantuan tersebut sering kali sangat berarti bagi keberlangsungan pendidikan dan kehidupan sehari-hari mereka.

Adapun dari sisi psikologis, kasih sayang yang ditunjukkan melalui sentuhan, perhatian, doa, dan kebersamaan memiliki pengaruh yang mendalam. Anak yatim membutuhkan bukan hanya bantuan materi, tetapi juga dukungan emosional. Ketika mereka merasakan bahwa banyak orang peduli dan mendoakan mereka, tumbuhlah rasa aman, dihargai, dan dicintai. Perasaan ini penting untuk membangun kesehatan mental serta perkembangan kepribadian yang positif.

Lebih jauh lagi, perhatian kepada anak yatim dapat membantu mengurangi perasaan kehilangan, kesepian, dan rendah diri yang kadang muncul setelah wafatnya ayah. Dengan dukungan lingkungan yang hangat, mereka memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh menjadi pribadi yang optimis, mandiri, dan berkontribusi bagi masyarakat.

Muharram menjadi momentum yang tepat untuk menghidupkan kembali semangat kepedulian tersebut. Dengan menyantuni anak yatim, kita tidak hanya menjalankan ajaran Islam, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi kehidupan mereka.

Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag., Penyuluh Agama Islam Kotabaru dan Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag.? Silakan Klik disini