Mudik dan Idul Fitri: Momen Reflektif Untuk Memperbaiki Diri

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan,” (Qs. Al Hasyr/18)

Tibalah penghujung Ramadan 1447 H. Umat Muslim menyambut Idul Fitri dengan suka cita kendati sedih dan berat meninggalkan bulan Ramadan nan mulia. Sebagaimana kita rasakan dan alami, akhir Ramadan setiap tahunnya selalu dihiasi dengan mudik. Tradisi yang telah dipertahankan bertahun-tahun ini kerap menjadi momen spesial yang sangat ditunggu. Momen bersua, bersilaturahim, merekatkan kembali hubungan kekeluargaan dari berkah hari raya. Tak sekedar berkumpul dan bersua, mudik setidaknya memiliki filosofi yang dalam. Mudik yang berarti mulih, kembali, berpulang, bermakna bahwa pertemuan dengan keluarga besar diharapkan menjadi penyembuh atau dengan makna lain pertemuan yang memulihkan. Pertemuan yang memungkinkan tiap-tiap anggota keluarga menyadari bahwa momen perkumpulan tahunan ini bukan untuk mengonfirmasi update pekerjaan, gaji, kondisi finansial maupun pertanyaan yang kadang menyakitkan sebagian pihak seperti “Kapan nikah?”, “Kapan punya anak?”, “Kapan nambah anak?”, “Kok gemukan?” dan pertanyaan sejenis yang terkadang membuat pihak yang ditanya kurang nyaman. Kendati tiada niat untuk menyinggung, nampaknya kita perlu merevitalisasi makna silaturahim menjadi momen perekat kebersamaan sehingga tiada satupun anggota keluarga merasakan ketidaknyamanan.

Silaturahmi berasal dari dua kata dalam bahasa Arab: “silah” yang berarti hubungan, dan “rahim” yang berarti kasih sayang. Dalam konteks Islam, silaturahmi mengacu pada menjaga hubungan kasih sayang dan persaudaraan dengan sesama manusia, terutama dengan keluarga dan kerabat. Islam sangat menekankan pentingnya silaturahmi, baik dalam Al-Quran maupun hadits Nabi Muhammad SAW.

Sejalan dengan makna silaturrahim, Ali bin Abi Thalib menekankan bahwa silaturahmi membawa keberkahan dalam hidup, baik dari segi umur, rezeki, maupun hubungan antar keluarga. Sementara itu, Ibnu Katsir menegaskan bahwa silaturahmi bukan hanya hubungan sosial, tetapi juga bentuk ibadah yang mendatangkan kebaikan di dunia dan akhirat. Senada dengan Imam Al Ghazali, menggarisbawahi bahwa silaturahmi adalah kunci untuk mendapatkan ridha Allah dan membangun hubungan yang kuat dengan sesama manusia. Betapa mulia makna silaturrahim ini hingga seyogyanya, kita sadar bahwa mudik (pulang) hendaknya kembali memurnikan niat yang salah satunya ialah menyambung silaturrahim. Dengan niat yang tepat dan benar, maka mudik bukann hanya membuat kita lelah sebab bermacet-macet puluhan bahkan ratusan kilometer, melainkan dapat menjadi bekal terbaik untuk “berpulang” yang sebenarnya.

Mendiskusikan mudik di momen khas Idul Fitri, berkaitan erat dengan Qs. Al Hasyr/18 di atas, yang mengingatkan kita tentang pentingnya mempersiapkan bekal untuk hari esok (akhirat). Menurut Prof. M. Quraish Shihab, kelompok ayat sebelumnya, berbicara tentang orang-orang Yahudi dan munafik yang kesudahan mereka adalah siksa duniawi dan ukhrawi. Ayat di atas mengajak kaum muslimin untuk berhati-hati jangan sampai mengalami nasib seperti mereka itu. Allah berfirman: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, yakni hindarilah siksa yang dapat dijatuhkan Allah dalam kehidupan dunia dan akhirat dengan jalan melaksanakan perintah- Nya sekuat kemampuan kamu dan menjauhi larangan-Nya, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dikedepankannya, yakni amal saleh yang telah diperbuatnya, untuk hari esok yang dekat, yakni akhirat.

Setelah memerintahkan bertakwa didorong oleh rasa takut, atau dalam rangka melakukan amalan positif, perintah tersebut diulangi lagi—agaknya agar didorong oleh rasa malu atau untuk meninggalkan amalan negatif. Allah berfirman: Dan, sekali lagi Kami pesankan, bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah menyangkut apa yang senantiasa dan dari saat ke saat kamu kerjakan. Allah Maha Mengetahui sampai sekecil apa pun.

Kata مَا قَدَّمَتْ (mâ qaddamat/apa yang telah dikedepankannya) digunakan dalam arti amal-amal yang dilakukan untuk meraih manfaat di masa datang. Ini seperti hal-hal yang dilakukan terlebih dahulu guna menyambut tamu sebelum kedatangannya.

Perintah memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok dipahami oleh Thabâthabâ’î sebagai perintah untuk melakukan evaluasi terhadap amal-amal yang telah dilakukan. Ini seperti seorang tukang yang telah menyelesaikan pekerjaannya. Ia dituntut untuk memperhatikannya kembali agar menyempurnakannya bila telah baik, atau memperbaikinya bila masih ada kekurangannya, sehingga jika tiba saatnya diperiksa, tidak ada lagi kekurangan dan barang tersebut tampil sempurna. Setiap mukmin dituntut melakukan hal itu. Kalau baik, dia dapat mengharap ganjaran, dan kalau amalnya buruk, dia hendaknya segera bertobat.

Penggunaan kata نفس (nafs/diri) yang berbentuk tunggal—dari satu sisi untuk mengisyaratkan bahwa tidaklah cukup penilaian sebagian atas sebagian yang lain, tetapi masing-masing harus melakukannya sendiri- sendiri atas dirinya, dan di sisi lain ia mengisyaratkan bahwa dalam kenyataan autokritik ini sangatlah jarang dilakukan.

Autokritik, sebagai upaya reflektif untuk memurnikan niat dan apa yang telah kita lakukan satu tahun penuh. Dalam konteks mudik, re-thinking menjadi momen yang sangat penting: untuk apa kita mudik? Apa yang akan saya lakukan selama bertemu dengan keluarga besar? Bagaimana mengekspresikan rasa rindu terbaik untuk mereka? Serta, apa makna pertemuan tahunan ini untuk perbaikan diri dan ibadah kita?

Semoga, mudik menjadi momen reflektif terbaik untuk mengingat ni’mat-ni’mat Allah dan merekatkan kembali ikatan kekeluargaan yang sempat terputus, serta mempersiapkan diri secara sadar menghadapi hari yang besar. Hari dimana manusia akan ditanya bagaimana kondisi ia dan keluarganya selama berada di dunia. Sehingga, mudik mampu menjadi momen reflektif yang menyadarkan, menyenangkan dan menenangkan, bukan menyisakan perasaan stress, sedih dan tertekan karena lelah membandingkan diri dengan pencapaian maupun kondisi finansial orang lain. Wallahu a’lam

Dr. Ina Salmah Febriani, M.A., Ustadzah di Cariustadz.id

Tertarik mengundang ustadz Dr. Ina Salmah Febriani, M.A? Silahkan klik disini