Mentalitet Korea, berdasarkan konsep yang dipopulerkan Bambang Pacul dan ditulis oleh Puthut EA, adalah mentalitas pantang menyerah, berani nekat, dan militan untuk bangkit dari kemiskinan atau posisi terendah. Mentalitet semacam ini disebut juga sebagai mentalitet rotan – makin ditekan, makin melenting.
Al-Qur’an memberikan motivasi kuat untuk tidak menyerah melalui larangan berputus asa dari rahmat Allah, menegaskan bahwa setiap kesulitan pasti disertai kemudahan, dan manusia tidak dibebani melampaui batas kemampuannya sebagaimana firman Allah swt dalam sejumlah ayat, seperti QS. Az-Zumar: 53, QS. Yusuf: 87, QS. Al-Insyirah: 5-6, QS. Ali ‘Imran: 139, dan sebagainya. Dari ayat-ayat ini, bisa dipahami bahwa Al-Qur’an membentuk mentalitas yang kuat yakni mentalitas yang tidak mudah putus asa, tetap berusaha, dan selalu yakin ada jalan keluar.
Jika ayat-ayat Al-Qur’an sebagai kerangka teologis-psikologis, maka hadis Nabi saw. di bawah ini berfungsi sebagai operasionalisasi praktisnya—yakni bagaimana mentalitas Qur’ani itu dijalankan dalam kehidupan konkret.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ ، اِحْـرِصْ عَـلَـى مَا يَـنْـفَـعُـكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَـعْجَـزْ ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَـيْءٌ فَـلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِـّيْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَـذَا ، وَلَـكِنْ قُلْ: قَـدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَـفْـتَـحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
Dari Abu Hurairah r.a, beliau berkata, Rasulullah saw bersabda, Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu, tetapi katakanlah, Ini telah ditakdirkan Allâh, dan Allâh berbuat apa saja yang Dia kehendaki, karena ucapan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan syaitan. (HR. Muslim no. 2664)
Hadis di atas menunjukkan bahwa seorang muslim harus berorientasi pada kekuatan (al-mu’min al-qawiy). Konsep “mukmin kuat” tidak bermakna fisik, melainkan mencakup kekuatan iman, mental, dan daya juang. Dalam bahasa yang lebih sederhana, Al-Qur’an menanamkan keyakinan “jangan berputus asa dari rahmat Allah, Allah selalu memberi jalan”, sedangkan Nabi saw. mengajarkan “berusahalah maksimal, tetap bergantung pada Allah, dan jangan hancur oleh penyesalan.”
Jika dikaitkan dengan mentalitas Korea yang sering dikenal kuat dan pantang menyerah, memang ada beberapa kesamaan. Misalnya, sikap tidak mudah menyerah sejalan dengan konsep mujahadah dalam Islam, yakni bersungguh-sungguh dalam berusaha. Namun dalam Islam, perjuangan ini tidak hanya berhenti pada kesuksesan dunia, melainkan mendapatkan ridha Allah.
Sikap “melenting” atau bangkit setelah jatuh juga mirip dengan konsep sabar dalam Islam. Tapi sabar di sini bukan diam saja, melainkan tetap berusaha walaupun dalam keadaan sulit. Al-Qur’an menggambarkan sabar sebagai active endurance, yakni kemampuan bertahan sembari tetap produktif. Ini terlihat dalam banyak ayat yang selalu mengaitkan sabar dengan amal (ṣabrū wa ‘amilū al-ṣāliḥāt).
Begitu juga dengan semangat kuat atau militansi, dalam Islam lebih tepat disebut istiqamah, yaitu konsisten berada di jalan yang benar. Dalam Islam, yang ditekankan tidaklah militansinya, melainkan istiqāmah—konsistensi dalam kebenaran. Militansi bisa berbahaya jika tidak dikontrol nilai, sedangkan istiqamah selalu berada dalam koridor etika ilahiah.
Sementara itu, tidak menyalahkan keadaan dan konsep qadar. Sikap tidak menyalahkan keadaan semacam ini memiliki kesesuaian dengan konsep riḍā bi al-qaḍā’ (menerima ketetapan Allah). Namun Islam menambahkan dimensi penting, yakni penerimaan tidak berarti fatalisme. Ada keseimbangan antara tawakkal dan ikhtiar. Ini yang sering hilang dalam narasi motivasi modern.
Terakhir, soal loyalitas layaknya seorang ksatria, dalam Islam diarahkan bukan hanya kepada manusia atau pemimpin, melainkan kepada Allah dan nilai kebenaran. Ketaatan kepada pemimpin bersifat kondisional (ṭā‘ah fī al-ma‘rūf). Ini membedakan secara fundamental dengan model loyalitas feodal atau militeristik. Jadi, ketaatan tetap ada batasnya—tidak boleh melanggar nilai agama.
Sebagai penutup, Al-Qur’an mengajarkan mental kuat yang tidak hanya tangguh secara mental, namun juga memiliki arah yang jelas secara spiritual. Bukan sekadar tidak menyerah, tetapi juga tahu untuk apa kita berjuang dan kepada siapa kita bergantung.
Senata Adi Prasetia, M.Pd, Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Senata Adi Prasetia, M.Pd? Silahkan klik disini