Mengerti dan memahami mentalitas istighna dalam membaca kesombongan manusia bukan sekedar kajian teologis atau keagamaan semata; tetapi ini demi mengenal diri kita dan mencegah berbagai keburukan yang bermula dari kesombongan. Sekaligus mengarahkan bahwa masalah manusia hari ini adalah bukan kekurangan, tetapi rasa cukup yang keliru.
Ketika manusia mulai “merasa” tidak butuh pada manusia lain, merasa tidak butuh ibadah dan mulai bertindak semena-mena; maka ia sudah termasuk golongan yang disasar oleh ayat ini. Sebab kecongkakannya ia berbuat yang melampaui batas. Allah Swt berfirman dalam QS. Al-Alaq: 6-7
كَلَّآ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَيَطْغٰىٓ ۙ اَنْ رَّاٰهُ اسْتَغْنٰىۗ
Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia itu benar-benar melampaui batas ketika melihat dirinya serba berkecukupan.
Mari kita telusuri makna Istighna. Kata ini berasal dari kata غنى yang dimana Raghib al-Ishfahani (w. 502H) memaknainya dengan: tidak butuh terhadap sesuatu (Sifat ini hanya untuk Allah), keperluannya sedikit dan punya banyak kepemilikan.
Ibnu Katsir (w. 774H) menerangkan dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim bahwa ini adalah informasi yang Allah berikan bahwa manusia akan bangga, sombong, congkak dan melampaui batas jika melihat dirinya “merasa” cukup dan banyak hartanya. Sekaligus ini menjadi ancaman untuk mengingatkan bahwa mau seperti apapun harta kita, kita tetap akan kembali pada Allah dan mempertanggung-jawabkan apa yang sudah Allah titipkan.
Ketika Ibnu Katsir melibatkan “banyak harta” sebagai pintu perilaku berlebihan bagi manusia, maka kita perlu merekonstruksi pandangan terhadap harta. Kita harus bisa memandang harta sebagai amanah, bukan alat atau materi yang menjadi sarana meninggikan diri di atas manusia lain. Kalau dipandang sebagai amanah, maka kita punya kesadaran bahwa hal itu hanya titipan yang sewaktu-waktu bisa diambil.
Ibnu Abi Hatim berkata bahwa Abdullah bin Mas’ud berkata:
منهومان لا يشبعان, صاحب العلم وصاحب الدنيا ولا يستويان. فأما صاحب العلم فيزداد رضى الرحمن, وأما صاحب الدنيا فيتمادى في الطغيان
وقد روي هذا مرفوعا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم: منهومان لا يشبعان: طالب علم وطالب دنيا
Ada dua orang yang rakus dan tidak pernah merasa kenyang, yaitu orang yang punya ilmu dan punya dunia. Keduanya tidak sama; pemilik ilmu akan bertambah ridho pada-Nya dan yang punya harta akan terus menerus bertindak melampaui batas.
Penjelasan lain, dapat dilihat dari Tafsir al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, dari Abu ‘Abdillah al-Qurthubi (w. 671H) bahwa ayat kelima sampai akhir surah ini diturunkan untuk Abu Jahal. Sebab ia melarang Nabi melakukan shalat. Bukan hanya itu; Abu Jahal juga banyak berperilaku buruk terhadap Nabi, karena ia merasa “cukup” dengan segala apa yang dia miliki. Ini disebut juga dengan Istighna ‘Anillah merasa cukup tanpa Allah dan juga Istighna’ bighoirillah Merasa cukup dengan selain Allah. Sehingga Istighna dalam QS. Al-Alaq: 6-7 ini adalah perasaan cukup yang berkonotasi buruk. Demikian penjelasan Dr. Ahmad Husnul Hakim, dewan pakar Pusat Studi Al-Qur’an.
Berkaitan dengan kisah Abu Jahal, kita bisa belajar untuk hari ini. Tidak harus sekeras Abu Jahal untuk menyadari mentalitas istighna dalam diri kita atau kebanyakan manusia modern hari ini. Andaikan kita tidak merasa “butuh” nasihat, mempermainkan ibadah karena merasa hidup “baik-baik saja”, atau bahkan kita merasa “tidak butuh” mendekat pada Allah hanya karena kondisi kehidupan yang stabil. Terlebih lagi, kita merasa bahwa pencapaian hari ini adalah hasil kerja keras kita sendiri.
Ini adalah bentuk kesombongan yang sangat lembut, cenderung tidak kita sadari. Maka kita sangat-sangat perlu untuk terus menyambung koneksi batin dengan Allah melalui ibadah dan mengingat-Nya. Menjaga hati agar tidak menjadi rusak dan mencegah diri untuk melakukan tindakan-tindakan yang melampaui batas. Wallahu A’lam.
Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini