Bilangan sudah disempurnakan, syawal sudah di hadapan. Kita menyebut hari ini adalah hari kemenangan, apakah kita sudah benar-benar merengkuh kemenangan? Atau ternyata kita terjebak dalam angan-angan dan perayaan tahunan. Alih-alih mendapat kemenangan, ternyata kita hanya memeluk euforia kosong tanpa pemaknaan. Mari, kita lihat bagaimana Al-Qur’an mendefinisikan “pemenang sejati” dalam QS. Ali Imran: 185
فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.
Al-Qur’an meredaksikan kata “kemenangan” dengan beberapa diksi. 2 diantarnya adalah kata الفوز dan الفلاح , keduanya sama-sama memiliki makna kemenangan atau keberhasilan. Dalam kaidah penafsiran ini disebut dengan الألفاظ التي يظن بها التي ترادف وليست منه atau terjemahnya adalah kata-kata yang diduga serupa tapi tidak sama.
Kemenangan yang diwakilkan oleh kata Al-Fauz adalah kemenangan yang kita capai di akhirat. Dengan terhindar dari api neraka dan dimasukkan kedalam surganya Allah. Maka demikian, Al-Qur’an juga menarasikan kebahagiaan dengan diksi atau kosakata yang beragam pula. Diantaranya ada Sa’adah, Farah, Hasanah dan lain sebagainya.
Salah satu mufassir, Abu Abdillah Muhammad al-Qurthubi (w. 671H) menyampaikan jika makna Sa’adah ialah puncak kebahagiaan. Dimana puncak kebahagiaan seorang hamba adalah masuk ke golongan orang-orang yang mendapat surga sebagaimana firman-Nya QS. Hud: 108:
۞ وَاَمَّا الَّذِيْنَ سُعِدُوْا فَفِى الْجَنَّةِ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا مَا دَامَتِ السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُ اِلَّا مَا شَاۤءَ رَبُّكَۗ عَطَاۤءً غَيْرَ مَجْذُوْذٍ
Adapun orang-orang yang berbahagia, maka (ia berada) di dalam surga. Mereka kekal di dalamnya selama masih ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain) sebagai karunia yang tidak putus-putusnya.
Hal ini diperkuat juga oleh Nawawi al-Bantani (w. 1314H) dalam kitab Nashaihul ‘Ibad bahwa Ghayah al-Farah atau puncak kebahagiaan ialah لمطلوب عفو الله تعالى mendapatkan pengampunan Allah Swt. Melalui ampunan inilah kita akan mendapatkan ridha-Nya, melalui ridha-Nya kita akan masuk dalam golongan penghuni Surga.
Jika demikian, penempaan bulan ramadhan sudah sangat tepat dan presisi dalam mendidik hati, jiwa dan fisik kita semua. Sebab di dalamnya terwujud pendidikan yang mengajarkan jika kebahagiaan yang utama adalah mengejar cinta Allah dan terus mendekatkan diri menggapai ridha-Nya. Ada satu nasihat dari Abu Hamid al-Ghazali (w. 505H) dalam kitab Kimyau as-Sa’adah bahwa:
فإن سعادة البهائم في الأكل والشرب والنوم والنكاح. فإن كنت منهم فاجتهد في إعمال الجوف والفرج
Letak puncak kebahagiaan binatang ternak pada makan, minum, tidur dan bersenggama. Kalau kamu merupakan bagian dari mereka, maka bersungguhlah pada amal-amal perut dan yang di bawah perut.
Andaikan dalam hidup kita menyandarkan puncak kebahagiaan pada hal-hal demikian, tak ubahnya kita seperti binatang ternak. Hidup untuk sekedarnya, menikmati seadanya, berpasrah tanpa tahu arahnya dan hanya menunggu waktu kapan menerima ajalnya. Tapi, puasa telah mendidik kita untuk berjuang dan berkorban menjemput kebahagiaan sejati dan menghidupkan nilai-nilai yang membuat manusia lebih berarti dan terus bermakna walau hidup sudah berganti jadi mati.
Inilah pemaknaan “kemenangan” dalam term atau diksi الفوز yakni kemenangan dalam wujud keberuntungan di akhirat kelak. Semoga kita senantiasa diberikan daya untuk selalu istiqomah dalam kebaikan.
Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini