Kita sangat perlu menjaga hati dan merawat ketaatan pasca berlalunya Ramadhan. Sebab, Allah yang kita sembah pada bulan Ramadhan adalah Allah yang sama pada bulan-bulan yang lain. Akan sangat merugi jika pembiasaan baik yang tumbuh saat ramadhan tidak dirawat dan ditingkatkan pada sebelas bulan lainnya.
Akan sangat menarik jika kita awali dengan mengenal hati terlebih dahulu, Menurut Abu Abdillah Muhammad ibn Ali al-Hakim al-Tirmidzi (w. 320H) dalam kitab Istafti Qalbak:
وفي الباطن مواضع منها ماهي من خارج القلب ومنها ماهي من داخل القب فأشبه اسم القلب اسم العينز اذا نقص منها واحد فسد ما سواه
Pada batin ada beberapa tempat. Di antaranya bagian dalam dan luar hati. Istilah hati menyerupai mata. Jika, rusak salah satu maka yang lainnya juga akan rusak
Sebagaimana mata yang memiliki beberapa lapis, hati juga demikian. Dalam perumpamaan lain Beliau mengibaratkan hati seperti rumah; memiliki lapisan terluar dan bagian terdalam. Ia membagi hati menjadi 4 lapis. Pertama adalah Shadr (Dada), kedua adalah Qalb (Hati), ketiga adalah Fuad (Nurani) dan Terakhir ialah Lubb (Lubuk Hati).
Sebagaimana rumah yang teras atau garasinya mudah berdebu, maka Shadr pada bagian hati adalah lokasi yang paling mudah terkena kotoran. Sekaligus, ia menjadi pintu-pintu keburukan yang kalau dibiarkan akan merusak hati. Oleh sebab itulah, jika hati kita merasa tidak tentram, kita diajarkan untuk membaca awal dari QS. Al-Insyirah:
اَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَۙ
Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Nabi Muhammad)
Adapun, Al-Qur’an sudah menyediakan solusi atas hal ini yang dapat kita tadabbur bersama pada QS. Yunus: 57
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ
Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi sesuatu (penyakit) yang terdapat dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang mukmin.
Dalam tafsir Marah Labid lil Kasyfi al-Ma’na al-Qur’an al-Majid karya Nawawi al-Bantani (w. 1314H) menjelaskan:
أَيْ قَدْ جَاءَكُمْ كِتَابٌ فِيهِ بَيَانُ مَا يَنْفَعُ الْمُكَلَّفَ وَمَا يَضُرُّهُ، وَدَوَاءٌ لِلْقُلُوبِ، وَهُدًى إِلَى الْحَقِّ، وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ بِإِنْجَائِهِمْ مِنَ الضَّلَالِ إِلَى نُورِ الْإِيمَانِ، وَتُخَلِّصُهُمْ مِنْ دَرَكَاتِ النِّيرَانِ إِلَى دَرَجَاتِ الْجِنَانِ
Telah datang kepada kalian sebuah kitab yang menjelaskan apa yang bermanfaat bagi manusia dan apa yang membahayakannya; sebagai obat bagi hati, petunjuk menuju kebenaran, serta rahmat bagi orang-orang beriman dengan menyelamatkan mereka dari kesesatan menuju cahaya iman, dan membebaskan mereka dari tingkatan neraka menuju derajat-derajat surga.
Maka, melalui pemaparan Al-Hakim al-Tirmidzi (w. 320H) dan Nawawi al-Bantani (w. 1314H) ini dapat diambil pelajaran bahwa merawat ketaatan bisa dilakukan dengan 3 hal:
Dengan ini semoga kita tersadar, bahwa taat pada Allah adalah kebutuhan mendasar, jangan jadikan sosmed sebagai standar, agar hidup tidak tersasar, kalau sudah terlanjur nyasar, hati jadi mudah gusar dan masalah hidup yang kecil terasa besar.
Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini