Fear of Missing Out (FOMO) adalah kondisi psikologis ketika seseorang merasa cemas, takut tertinggal, atau khawatir tidak ikut merasakan pengalaman yang sedang dialami orang lain. Fenomena ini semakin berkembang di era media sosial karena individu terus-menerus terpapar pada berbagai pencapaian, gaya hidup, hiburan, dan aktivitas orang lain secara digital. Akibatnya, banyak orang terdorong untuk selalu mengikuti tren, mencari pengakuan sosial, dan membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain.
FOMO berkaitan juga dengan kecenderungan social comparison atau perbandingan sosial yang dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang. Individu yang mengalami FOMO cenderung merasa tidak puas dengan dirinya sendiri, mudah gelisah, dan sulit menikmati kehidupannya karena terlalu fokus pada apa yang dimiliki orang lain. Fenomena ini menunjukkan bahwa manusia modern tidak hanya menghadapi tekanan sosial secara nyata, tetapi juga tekanan psikologis dari ruang digital.
Terkait hal ini, dalam Al-Qur’an terdapat perilaku berlomba-lomba dalam urusan dunia hingga melahirkan kelalaian telah dijelaskan dalam QS. At-Takatsur. Allah berfirman:
اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُۙ حَتّٰى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَۗ
Terjemah:
“1. Berbangga-bangga dalam memperbanyak (dunia) telah melalaikanmu. 2. sampai kamu masuk ke dalam kubur.
Tafsir QS. At-Takatsur
Menurut Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa ayat ini berbicara tentang manusia yang sibuk berlomba dalam urusan dunia seperti harta, kedudukan, dan kebanggaan sosial hingga lalai dari akhirat. Kesibukan tersebut membuat manusia lupa terhadap tujuan hidup yang sebenarnya (tafsir-ibnu-katsir- [Jilid 8]: 530).
Imam Al-Qurṭubi menjelaskan bahwa makna takatsur tidak terbatas pada harta, tetapi mencakup segala bentuk perlombaan untuk terlihat lebih unggul dibanding orang lain. Dinukil dari Ibnu Abbas, Muqatil, dan Al-Kalbi, QS. At-Takatsur turun tentang persaingan antar suku Quraisy dalam membanggakan jumlah pemimpin, pengikut, dan kemuliaan, sehingga menunjukkan bahwa takatsur tidak hanya berkaitan dengan harta, tetapi juga kebanggaan sosial dan status. Sikap ini dapat menimbulkan kesombongan, kecemburuan sosial, dan kelalaian spiritual (tafsir-qurthubi- [Jilid 20]: 683).
Sementara itu, Wahbah az-Zuḥaili dalam Tafsir Al-Munir menegaskan bahwa ayat ini merupakan peringatan agar manusia tidak tenggelam dalam perlombaan duniawi yang membuat hati tidak pernah merasa cukup dan selalu haus terhadap pengakuan. Dengan demikian, manusia kehilangan ketenangan hidup karena terus mengejar kepuasan yang bersifat sementara (tafsir-al-munir- [Jilid 15]: 655).
Pandangan Psikologis terhadap Fenomena FOMO
FOMO muncul karena keinginan untuk diakui dan diterima sosial, sehingga media sosial mendorong individu terus membandingkan diri dengan orang lain. Fenomena ini relevan dengan QS. At-Takatsur tentang budaya berlomba dalam urusan dunia, yang kini tampak dalam persaingan citra sosial di media digital.
Secara psikologis, FOMO dapat menimbulkan kecemasan, stres, dan rendahnya kepuasan hidup karena seseorang menggantungkan nilai dirinya pada pengakuan orang lain. Melalui QS. At-Takatsur, Al-Qur’an mengajarkan pentingnya qana‘ah dan pengendalian diri agar manusia tidak terjebak dalam perlombaan duniawi yang melahirkan kehampaan batin.
Penutup
Fenomena FOMO menunjukkan bagaimana manusia modern mudah terjebak dalam perlombaan sosial yang melelahkan secara psikologis. QS. At-Takatsur memberikan peringatan bahwa sikap bermegah-megahan dan obsesi terhadap pengakuan duniawi dapat melalaikan manusia dari makna hidup yang sebenarnya. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran spiritual dan pengendalian diri agar individu mampu menggunakan media sosial secara bijak, tidak terjebak dalam budaya perbandingan sosial, serta mampu membangun ketenangan batin melalui rasa syukur dan qana‘ah. Wallahu A’lam.
Saibatul Hamdi, M.Pd., Guru Al-Qur’an Hadis MTsN Seruyan dan Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang Saibatul Hamdi, M.Pd.? Silakan Klik disini