Mengapa Pseudo-sains Digemari Umat Beragama?

Beberapa hari belakangan, sering muncul konten dari Agustino Zulys, Guru Besar FMIPA UI, di beranda akun Instagram saya. Beliau meluruskan berbagai pseudo-sains yang beredar di kalangan umat beragama, khususnya muslim. 

Fenomena pseudo-sains di kalangan umat beragama bukan hal baru. Ia telah muncul sejak beberapa abad yang lalu, ketika ilmu pengetahuan saintifik mulai dapat menjelaskan berbagai doktrin agama. Berbagai klaim yang mencoba “membuktikan” ajaran agama melalui sains beredar luas—mulai dari kesehatan, kosmologi, hingga numerologi. Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam satu agama, melainkan lintas tradisi keagamaan.

Apa Itu Pseudo-sains dan Mengapa Diminati?

Pseudo-sains adalah klaim atau praktik yang tampak ilmiah, menggunakan istilah atau gaya sains, tetapi tidak mengikuti metode ilmiah yang benar. Thung Ju Lan, dalam buku Sains dan Teknologi dalam Konteks Kultur (2024, hal: 37) mengutip Indonesian Skeptics Society yang menjelaskan bahwa pseudo-sains adalah klaim atau kepercayaan yang secara salah dipresentasikan sebagai ilmiah. 

Pseudo-sains biasanya tidak berbasis bukti yang kuat, tidak dapat diuji, dan menggunakan logika yang lemah serta cenderung selektif. Dalam kerangka Philosophy of Science, salah satu ciri penting sains adalah kemampuan untuk diuji dan dibantah (falsifiable). Ketika sebuah klaim tidak memenuhi standar ini, ia cenderung masuk wilayah pseudo-sains.

Lalu, mengapa pseudo-sains begitu digemari oleh sebagian umat beragama?

Ju Lan (hal: 39) memamparkan sebelas alasan mengapa orang cenderung mudah memercayai pseudo-sains. Dan dalam kaitannya dengan umat beragama, berikut beberapa alasannya:

Pertama, sejalan dengan kepercayaan pribadi atau keagamaan mereka. Dalam hal ini ia memberi contoh di mana umat Kristiani banyak yang menolak teori evolusi Darwin karena bertentangan dengan doktrin ajaran mereka. 

Kedua, ketika seseorang terpapar pseudo-sains, mereka tidak mendapatkan akses pada fakta-fakta ilmiah yang sebenarnya. Hal ini salah satunya disebabkan karena orang tua yang fundamentalis melarang anak-anaknya untuk mempelajari penjelasan sains yang bertentangan dengan ajaran agama.

Ketiga, ada selebritas dan ilmuwan yang memercayainya. Terkait alasan ini, Halimatusa’diah dalam buku yang sama (hal: 59) melakukan penelitian lapangan di mana beberapa muslim percaya pseudo-sains akibat ada ulama yang memercayainya. Contohnya adalah teori Bumi Datar yang dipercayai oleh Syaikh bin Baz dan Syaikh Shalih al-Fauzan, dua ulama ternama Arab Saudi yang berpengaruh besar di Indonesia.

Selain itu, ada keinginan untuk mendapatkan legitimasi modern. Di era di mana sains dianggap sebagai otoritas kebenaran, ajaran agama terasa “lebih kuat” jika tampak sejalan dengan sains. Sehingga dapat menguatkan klaim bahwa “agama telah menjelaskannya jauh sebelum sains membuktikannya.”

Akibatnya, muncul upaya untuk mencocok-cocokkan ajaran agama dengan temuan ilmiah, meskipun sering kali dilakukan secara longgar atau dipaksakan.

Contoh Kasus: Dari Babi hingga Gerakan Salat

Ketika berbicara mengenai pseudo-sains, saya selalu teringat buku berjudul Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir karya Marvin Harris. Dalam buku tersebut, dikutip pandangan seorang ulama yang menjelaskan keharaman babi dari sisi kesehatan—bahwa babi kotor dan membawa penyakit seperti cacing pita.

Namun, Harris mengkritik argumen ini. Ia menunjukkan bahwa risiko penyakit dari babi bisa diminimalkan dengan pengolahan daging yang benar. Ia menjelaskan bahwa hewan lain seperti sapi juga dapat membawa penyakit jika tidak dimasak dengan baik dan benar. 

Artinya, alasan kesehatan tidak cukup konsisten untuk menjelaskan larangan tersebut. Harris kemudian menawarkan penjelasan alternatif: larangan babi lebih masuk akal dilihat dari faktor ekologi dan budaya, terutama dalam konteks masyarakat Timur Tengah kuno.

Penjelasan ini juga digunakan oleh Prof. Zulys melalui konten Instagramnya (07/04/2026). Beliau menambahkan bahwa saat ini “belum ada” jawaban keharaman babi menurut sains. Tetapi, beliau memberikan catatan bahwa di masa mendatang ada kemungkinan keharaman hewan ini dapat dijelaskan secara saintifik.

Salah satu pemantik untuk penelitian lebih lanjut disebutkan oleh Prof. Zulys adalah riset soal DNA pada babi. Berdasarkan riset, kemiripan DNA manusia dan babi mencapai 98%. Beberapa struktur organ hewan ini, seperti jantung, ginjal, dan kulit, sangat mirip dengan manusia. Sehingga, kata beliau, kalau suatu hari teknologi rekayasa genetika semakin maju, maka memakan daging babi apakah dapat disebut sebagai kanibalisme semu?  

Contoh lain adalah klaim bahwa gerakan salat sama dengan yoga. Memang ada kemiripan bentuk antara beberapa gerakan, seperti rukuk dan sujud dengan pose tertentu dalam yoga. Namun, menyimpulkan bahwa salat adalah “yoga terbaik” atau memiliki manfaat kesehatan spesifik tanpa bukti kuat adalah bentuk pseudo-sains.

Dalam ajaran Islam sendiri, penting dibedakan antara tujuan dan hikmah. Tujuan salat adalah menunaikan perintah Allah (ibadah), sedangkan hikmahnya dapat berupa manfaat tambahan, seperti ketenangan atau kesehatan. Meski kesehatan sedikit-banyak tercapai dalam gerakan shalat, ia tidak dapat serta-merta dipaksakan sebagai pembenaran ilmiah.

Melihat Agama dan Sains Secara Lebih Jernih

Agar tidak terjebak dalam pseudo-sains, penting untuk membedakan dua pendekatan. Pertama, pendekatan teologis yang jujur. Ajaran agama dijalankan karena keyakinan dan perintah ilahi. Tidak semua hal harus atau bisa dijelaskan oleh sains. Kedua, pendekatan ilmiah yang murni. Sains bekerja dengan metode: observasi, eksperimen, dan verifikasi. Ia tidak bertugas membenarkan atau menyangkal doktrin agama, melainkan menjelaskan fenomena alam.

Jika suatu ajaran agama belum atau tidak dapat dijelaskan secara ilmiah, tidak perlu memaksakan penjelasan. Bisa jadi sains belum sampai pada tahap itu atau memang berada di luar jangkauan sains. Islam sendiri memiliki konsep ta’abbudi (perintah atau larangan yang cukup dikerjakan tanpa perlu mengetahui alasannya) dan ta’aqquli (hal-hal yang dapat diijtihadkan).

Pada akhirnya, agama dan sains tidak harus selalu dipertemukan dalam bentuk “pembuktian”. Keduanya bisa berdiri berdampingan dengan perannya masing-masing. Justru dengan pemahaman yang jernih, kita dapat menghindari jebakan pseudo-sains dan melihat baik agama maupun sains secara lebih utuh.

Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag., Penyuluh Agama Islam Kotabaru dan Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag.? Silakan Klik disini