Mengapa Guru Lebih Mudah Mengingat Kesalahan Murid daripada Kemajuannya?

Pernahkah seorang murid melakukan banyak hal baik, tetapi satu kesalahannya justru lebih lama melekat dalam ingatan guru? Ia mulai tertib, mengerjakan tugas tepat waktu, dan perlahan memperbaiki perilakunya. Namun, ketika suatu hari ia kembali melanggar aturan, penilaian lama seolah muncul kembali. Kemajuan yang telah diusahakannya terasa kalah oleh satu kesalahan.

Fenomena ini layak menjadi bahan refleksi bagi guru. Bukan berarti guru tidak menghargai kebaikan murid, melainkan karena perhatian manusia tidak selalu bekerja secara seimbang. Kita terkadang lebih cepat menyadari sesuatu yang mengganggu daripada perubahan positif yang berlangsung perlahan.

Ketika Kesalahan Lebih Menonjol daripada Kemajuan

Menurut perspektif psikologi, kecenderungan informasi negatif memiliki pengaruh lebih kuat daripada informasi positif dikenal sebagai negativity bias. Baumeister dan kolega (2001), melalui artikel Bad Is Stronger than Good, mengulas berbagai temuan yang menunjukkan bahwa peristiwa negatif dapat memberikan pengaruh lebih besar terhadap penilaian, ingatan, dan hubungan antarmanusia dibandingkan peristiwa positif.

Kecenderungan ini sejatinya dapat menjadi bahan introspeksi. Pelanggaran aturan kelas mungkin langsung menarik perhatian guru karena membutuhkan respons segera. Sebaliknya, kemajuan kecil seperti murid yang mulai berani bertanya, lebih bertanggung jawab, atau mampu mengendalikan emosinya bisa luput dari perhatian karena tidak menimbulkan persoalan.

Akibatnya, guru mungkin lebih mudah mengingat kapan seorang murid membuat masalah daripada kapan ia berusaha memperbaiki diri. Tentu, tidak semua guru mengalami kecenderungan ini. Pelanggaran tetap perlu ditangani, tetapi persoalan muncul ketika kesalahan menjadi satu-satunya lensa untuk melihat murid.

Ketika Penilaian Membatasi Kesempatan Bertumbuh

Cara guru memandang murid juga berkaitan dengan ekspektasi yang terbentuk selama proses pembelajaran. Ekspektasi guru dapat menjadi sasaran perubahan dan bahwa intervensi tertentu berpotensi memberikan dampak positif terhadap prestasi siswa (Boer dkk, 2018, full/10.). Penilaian guru bukan perkara sepele. Ketika seorang murid terus dipandang melalui kesalahan masa lalunya, guru berisiko kurang menyadari potensi dan perkembangan yang sedang tumbuh. Karena itu, perilaku yang keliru tetap perlu dikoreksi, tetapi penilaian terhadap murid harus terbuka terhadap perubahan.

Selain itu dalam proses menilai, prinsip keadilan juga harus selalu dikedepankan. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Ma’idah [5]: 8 sebagai berikut.

….اِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ …. 

Terjemah:

“8.   …. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. ….”

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa kebencian terhadap seseorang tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan keadilan (tafsir-qurthubi-[Jilid 6]: 264). Sejalan dengan itu, Prof. Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menerangkan bahwa keadilan harus ditegakkan, baik terhadap pihak yang disukai maupun yang menjadi lawan (tafsir-al-munir-[Jilid 3]: 452). 

Kedua penafsiran tersebut menegaskan bahwa penilaian tidak semestinya dikuasai oleh perasaan suka atau tidak suka. Berkaitan dengan konteks pendidikan, prinsip ini dapat menjadi refleksi bagi guru agar tidak membiarkan kesalahan masa lalu menjadi satu-satunya dasar dalam memandang murid. Perilaku yang keliru tetap perlu dikoreksi, tetapi usaha, perilaku positif, dan kemajuan yang ditunjukkan murid juga perlu diperhatikan.

Belajar Melihat Perubahan Kecil

Guru dapat memulainya dengan langkah sederhana, tidak hanya memperhatikan pelanggaran, tetapi juga mencatat perkembangan. Apresiasi yang spesifik, seperti “Hari ini kamu sudah berusaha menyelesaikan tugas tepat waktu,” membantu murid mengetahui bahwa usahanya diperhatikan. Ketika menegur kesalahan, guru juga perlu memberi kesempatan kepada murid untuk memperbaikinya.

Sesekali, guru dapat bertanya kepada diri sendiri tentang apakah penilaian saya terhadap murid ini didasarkan pada perilakunya sekarang, atau masih dibayangi kesalahan yang pernah dilakukannya?

Pada akhirnya, tugas guru bukan membenarkan setiap perilaku murid, melainkan membimbing mereka agar mampu berubah. Guru boleh mengingat kesalahan murid untuk membimbingnya, tetapi jangan sampai lupa mengingat kemajuannya untuk menguatkannya. Sebab, pendidikan bukan hanya tentang memperbaiki apa yang keliru, melainkan juga merawat setiap perubahan baik yang mulai tumbuh. Wallahu A‘lam.

Saibatul Hamdi, M.Pd., Guru Al-Qur’an Hadis MTsN Seruyan dan Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang Saibatul Hamdi, M.Pd.? Silakan Klik disini