Ketika berbicara tentang pendidikan anak, perhatian orang tua sering kali tertuju pada persoalan ibadah, sopan santun, prestasi, dan hubungan anak dengan sesama manusia. Sementara itu, hubungan anak dengan alam masih jarang dibicarakan bagi sebagian orang. Padahal, cara anak memperlakukan air, tumbuhan, hewan, makanan, dan lingkungan di sekitarnya juga menunjukkan bagaimana ia memahami tanggung jawab sebagai manusia.
Allah tidak menciptakan alam hanya sebagai tempat tinggal manusia. Namun juga menjadi tanda-tanda kebesaran-Nya. Karena itu, memperlakukan alam secara semena-mena pada dasarnya bertentangan dengan amanah manusia sebagai khalifah di bumi.
Allah berfirman dalam QS. al-Baqarah [2]: 30 bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi. Kedudukan tersebut bukan berarti manusia menjadi penguasa yang bebas melakukan apa saja terhadap alam. Namun bertanggung jawab untuk mengelola kehidupan dengan baik. Manusia diberi kemampuan untuk memanfaatkan alam, tetapi pemanfaatan tersebut harus disertai tanggung jawab dan tidak menimbulkan kerusakan.
Al-Qur’an secara jelas mengingatkan, “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diperbaiki” (QS. al-A’raf [7]: 56). Kerusakan yang dimaksud tidak hanya berupa bencana besar atau eksploitasi sumber daya dalam skala luas. Kebiasaan membuang sampah sembarangan, menyia-nyiakan makanan, membiarkan air terbuang percuma, menyakiti hewan tanpa alasan, dan merusak tanaman juga dapat menjadi bagian dari perilaku yang tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan. Karena itu, anak perlu dikenalkan sejak dini bahwa berbuat adil tidak hanya kepada manusia, tetapi juga kepada alam.
Keadilan Tidak Hanya untuk Manusia
Keadilan tidak hanya berbicara tentang bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya. Keadilan juga tercermin dalam cara manusia memperlakukan alam. Sebab, alam bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan manusia. Air, tanah, pepohonan, hewan, dan seluruh makhluk hidup merupakan ciptaan Allah yang memiliki fungsi dalam kehidupan. Karena itu, memperlakukan alam secara berlebihan dan merusaknya bukanlah bentuk hubungan yang adil.
Allah menciptakan alam dengan keseimbangan. Dalam QS. ar-Rahman [55]: 7-9, Allah menyebut mizan atau keseimbangan yang Dia tetapkan dalam penciptaan, kemudian manusia diperintahkan agar tidak melampaui batas terhadap keseimbangan tersebut. Ayat ini mengajarkan bahwa manusia hidup di dalam tatanan yang sudah Allah ciptakan dengan penuh perhitungan. Manusia boleh memanfaatkan alam, tetapi tidak berarti boleh mengambilnya tanpa batas.
Keadilan kepada alam, karena itu, dapat dimulai dari kesediaan manusia untuk mengenali batas. Menggunakan air secukupnya, tidak membuang makanan, merawat tanaman, tidak menyakiti hewan tanpa alasan, dan tidak membuang sampah sembarangan. Di dalamnya terdapat kesadaran bahwa alam tidak semestinya diperlakukan sesuka hati.
Anak perlu diperkenalkan dengan cara pandang semacam ini sejak dini. Ketika seorang anak menyiram tanaman, misalnya, ia tidak hanya sedang belajar merawat sesuatu yang indah. Ia sedang belajar bahwa tumbuhan adalah bagian dari ciptaan Allah yang perlu dipelihara. Ketika ia memberi makan hewan, ia belajar bahwa kasih sayang tidak hanya ditujukan kepada manusia. Ketika ia mematikan keran setelah menggunakan air, ia belajar bahwa sesuatu yang diberikan Allah tidak boleh digunakan secara sia-sia.
Sebaliknya, anak juga perlu memahami bahwa merusak alam bukan tindakan yang sepele. Mematahkan tanaman hanya untuk bermain, menyiksa hewan, membuang sampah sembarangan, atau membiarkan air mengalir tanpa kebutuhan merupakan kebiasaan yang perlahan membentuk cara pandang bahwa manusia bebas memperlakukan alam sesuka hati. Jika kebiasaan tersebut terus dibiarkan, anak dapat tumbuh dengan anggapan bahwa alam hanya ada untuk memenuhi keinginannya.
Mengajarkan Anak tentang Amanah
Kesadaran untuk berlaku adil kepada alam pada akhirnya perlu ditanamkan melalui pemahaman bahwa alam adalah amanah. Manusia memang diberi kesempatan untuk memanfaatkan apa yang tersedia di bumi, tetapi kesempatan tersebut tidak berarti kepemilikan tanpa batas. Apa yang ada di bumi pada hakikatnya adalah milik Allah, sementara manusia diberi tanggung jawab untuk mengelolanya.
Pemahaman tentang amanah ini penting dikenalkan kepada anak sejak dini. Anak dapat diajarkan bahwa air yang ia gunakan, makanan yang ia makan, pohon yang tumbuh, hingga hewan yang berada di sekitarnya merupakan bagian dari ciptaan Allah yang harus diperlakukan dengan baik. Dengan begitu, anak tidak hanya mengenal alam sebagai sesuatu yang dapat digunakan, tetapi juga sebagai sesuatu yang harus dijaga.
Misalnya, ketika anak hendak mengambil air, orang tua dapat mengajarkan bahwa air tidak boleh digunakan secara berlebihan. Ketika makan, anak dibiasakan mengambil makanan sesuai kebutuhan agar tidak ada yang terbuang. Ketika bermain dengan hewan, anak diajarkan untuk tidak menyakiti atau memperlakukannya secara kasar. Begitu pula ketika berada di lingkungan sekitar, anak dibiasakan untuk tidak merusak tanaman dan membuang sampah sembarangan.
Keteladanan Lebih Penting daripada Ceramah
Orang tua dapat mengajarkan pendidikan keadilan lingkungan melalui aktivitas sehari- hari. Nabi Muhammad saw. sendiri memberikan penghargaan yang besar terhadap tindakan yang memberikan manfaat bagi makhluk hidup. Dalam hadis riwayat Muslim, Nabi bersabda bahwa seorang muslim yang menanam pohon atau tanaman, kemudian dimakan oleh manusia, burung, atau hewan, maka apa yang dimakan tersebut bernilai sedekah baginya. Hadis ini menunjukkan bahwa manfaat yang diberikan kepada makhluk lain memiliki nilai kebaikan di hadapan Allah.
Dengan demikian, anak dapat belajar bahwa kebaikan tidak selalu berbentuk pemberian kepada manusia. Merawat pohon, menyediakan makanan bagi makhluk hidup, menjaga air, dan mempertahankan kebersihan lingkungan juga dapat menjadi bagian dari amal saleh.
Pendidikan semacam ini penting karena krisis lingkungan tidak hanya membutuhkan generasi yang mengetahui persoalan ekologis, tetapi generasi yang memiliki rasa tanggung jawab moral terhadap bumi. Dan mendidik anak untuk berlaku adil kepada alam adalah bagian dari mendidik mereka menjadi manusia yang amanah.
Anak perlu mengetahui bahwa bumi bukan warisan yang boleh dihabiskan untuk kepentingan satu generasi. Ada kehidupan lain yang bergantung pada alam, ada orang lain yang berhak memperoleh lingkungan yang sehat, dan ada generasi mendatang yang juga memiliki hak untuk menikmati bumi.
Laily Nur Zakiya, S.Ag, M.Pd, Ustadzah di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadzah Laily Nur Zakiya, S.Ag, M.Pd? Silakan klik disini