Sebagai salah satu kitab tafsir yang menghimpun banyak sekali riwayat yang bersumber dari para pendahulu terutama Sahabat dan Tabi‘in, Al-Kasyf wa al-Bayān menjadi salah satu literatur tafsir klasik yang penting untuk dibaca oleh para pengkaji tafsir al-Qur’an. Abu Ishaq al-Tsa‘labi (w. 427/ 1035) berhasil menyusun kitab tafsirnya yang kemudian dikenal sebagai salah satu karya tafsir yang berpengaruh bagi para mufasir setelahnya.
Ketika membaca tafsir Q.S. al-Baqarah [2]: 183, ayat populer yang dijadikan dalil bagi kewajiban puasa Ramadan, para pembaca tafsirnya akan menjumpai riwayat yang menampilkan percakapan antara Nabiyullah Muhammad SAW. dan ‘Ali ibn Abi Thalib. Riwayat ini disampaikan oleh ‘Antarah ibn Abi Rahman al-Syaibani, nama seorang tabi‘in kalangan tua yang jarang didengar oleh para pembaca yang tidak familiar dengan literatur klasik, yang juga terlibat dialog dengan ‘Ali secara langsung. Ibn Hajar al-Atsqalani dan al-Dzahabi memberikan status tsiqah terhadap ‘Antarah.
Pada riwayat yang dibawanya, ‘Antarah menceritakan perbincangannya dengan ‘Ali ibn Abi Thalib yang mengisahkan pengalamannya berjumpa Nabi Muhammad secara khusus di kamarnya pada tengah siang yang terik. Ketika mendapati Rasulullah, ‘Ali kemudian menyampaikan salam dan Nabi pun membalasnya. Hal yang mengejutkan ‘Ali ialah tatkala Nabi mengatakan bahwa Jibril, saat itu ada bersama Nabi di kamarnya namun sepertinya ‘Ali tidak menyadarinya, juga menyampaikan salam pada ‘Ali. Dengan segera, ‘Ali kemudian menjawab salam Jibril.
Nabi Muhammad kemudian meminta ‘Ali mendekat padanya dan ‘Ali pun melaksanakan keinginan Nabi. Lalu, Nabi menyampaikan pesan Jibril pada ‘Ali, bahwa ‘Ali diperintahkan untuk berpuasa selama tiga hari di setiap bulannya. Jika ‘Ali mampu melalui puasa di hari pertama, ia akan diganjari pahala setara sepuluh ribu tahun; di hari kedua setara tiga puluh ribu tahun; dan di hari ketiga sejumlah seratus ribu tahun.
‘Ali pun merespons permintaan Jibril dengan menanyakan pada Nabi Muhammad perihal status puasa tersebut: apakah itu khusus untuknya ataukah berlaku secara umum. Nabi menjawabnya, bahwa ganjaran puasa itu memang diberikan untuknya, serta siapa saja yang mau mengamalkannya setelahnya. ‘Ali segera menanyakan kembali mengenai apa sebenarnya puasa yang diminta ia melakukannya itu. Nabi lalu mengatakan bahwa puasa yang dimaksud ialah ayyām al-bidh, puasa yang dikerjakan di hari ketiga belas (13), empat belas (14) dan lima belas (15) setiap bulannya (hijriah).
Pasca mendengar pengalaman istimewa ‘Ali ibn Abi Thalib, ‘Antarah kemudian bertanya pada ‘Ali tentang latar belakang di balik penamaan ayyām al-bidh. ‘Ali menjawab dan menjelaskan pada ‘Antarah perihal alasan diberikannya nama itu. ‘Ali bercerita bahwa puasa ini bermula ketika Adam as. diturunkan dari surga ke bumi. Ketika mencapai permukaan bumi, tubuh Adam as. menghitam tersengat panas matahari. Jibril yang menyaksikannya kemudian mendatangi Adam as. dan menawarkan cara agar kulitnya bisa kembali cerah (putih). Adam as. mengiyakan tawaran Jibril dan kemudian ia diberi amalan.
Jibril menyuruh Adam as. berpuasa di hari ketiga belas (13), empat belas (14) dan lima belas (15) setiap bulannya. Adam as. lalu menjalankan amalan yang diberikan Jibril. Di hari pertama ia berpuasa, hari ketiga belas di suatu bulan, sepertiga tubuh Adam as. berubah menjadi cerah (putih). Lalu di hari kedua, dua pertiga tubuhnya kembali ke keadaan sebelum ia turun ke bumi. Pada hari terakhir, seluruh tubuh Adam as. kembali ke kondisi awal (cerah/ putih) seperti saat ia di surga. Berdasarkan kisah Adam as. itu, puasa tiga hari di pertengahan setiap bulan hijriah ini dinamai ayyām al-bidh (hari-hari putih).
Selepas menarasikan riwayat tersebut, al-Tsa‘labi kemudian menukil pendapat para mufasir bahwa ketika sampai di Madinah, umat Islam memang diwajibkan untuk menjalankan dua puasa yaitu ‘Asyura dan Ayyām al-Bidh. Mereka konsisten melakukannya sampai turunnya syariat puasa Ramadan beberapa waktu sebelum perang Badar terjadi. Artinya, puasa Ramadan menjadi pengganti atas kewajiban dari dua puasa yang sebelumnya diwajibkan tersebut.
Melalui riwayat yang disarikan ulang pada tulisan ini, pembaca bisa mendapati bahwa ‘Ali ibn Abi Thalib digambarkan sebagai salah satu sahabat yang sangat istimewa di sisi Rasulullah Muhammad SAW. Ia bisa berkunjung ke kediaman Nabi, masuk ke dalam kamarnya dan bahkan mengalami keintiman percakapan dengan Jibril. Sekalipun melalui perantara Nabi ketika itu, karena memang tidak ada keterangan dalam teks yang mengatakan bahwa ‘Ali menyadari kehadiran Jibril di kamar Nabi Muhammad.
Selain itu, poin lain yang bisa dijumpai ialah perihal meminta amalan. Aktivitas ini menjadi salah satu hal yang sangat mungkin dilakukan secara langsung dengan Malaikat. Meskipun syaratnya, jika berdasar pada riwayat di atas, ialah menjadi seorang yang mampu mencapai level kenabian. Pada topik ini, sangat populer bahwa Nabi telah mewasiatkan jika setiap umat bisa mencapai derajat pewaris kenabian yaitu dengan menjadi pembawa obor pengetahuan. al-‘ulama waratsah al-anbiya’ (Orang-orang berilmu ialah pewaris para Nabi).
Terakhir, kita bisa mendapati sejarah singkat puasa Ramadan dan syariat apa yang sebelumnya dikerjakan oleh umat Islam sembari menanti kedatangannya. Uraian mengenai latar belakang di balik penamaan puasa ayyām al-bidh dan juga keistimewaannya telah memberikan pesan tersirat bahwa puasa dapat mengembalikan “kecerahan” diri kita yang sejatinya merupakan makhluk surgawi dan juga memberikan tambahan bekal yang berlimpah agar kita bisa kembali ke “rumah awal” kita.
Redaksi riwayat yang disarikan
روى عبد الملك بن هارون بن عنترة عن أبيه عن جده عن علي (رضي الله عنه) قال: أتيت رسول الله ﷺ ذات يوم عند انتصاف النّهار وهو في الحجر، فسلّمت عليه فردّ عليّ النبيّ ﷺ ثمّ قال: «يا علي هذا جبرئيل يقرئك السلام. فقلت: عليك وعليه السّلام يا رسول الله لم؟ قال: ادن منّي، فدنوت منه فقال: يا علي يقول لك جبرئيل: صم كل شهر ثلاثة أيام يكتب لك بأول يوم عشرة آلاف [سنة] وباليوم الثاني ثلاثين ألف [سنة] وباليوم الثالث مائة ألف [سنة] فقلت: يا رسول الله هذا ثواب لي خاصة أم للنّاس عامة؟ قال: يا علي يعطيك الله هذا الثواب ولمن يعمل مثل عملك بعدك. قلت: يا رسول الله وما هي؟ قال: أيام البيض: ثلاثة عشر وأربعة عشر وخمسة عشر.
قال عنترة: قلت لعلي (رضي الله عنه) : لأي شيء سميت هذه الأيام البيض؟ قال: لما أهبط آدم عليه السّلام من الجنّة إلى الأرض أحرقته الشمس. فاسودّ جسده ثمّ صام اليوم الثالث. فأتاه جبرئيل فقال: يا آدم أتحب أن يبيض جسدك؟ قال: نعم، قال: فصم من الشهر ثلاثة عشر وأربعة عشر وخمسة عشر فصام آدم عليه السّلام أول يوم فابيض ثلث جسده، ثمّ صام اليوم الثاني فابيض ثلثا جسده، ثمّ صام اليوم الثالث فابيض جسده كلّه. فسميت أيام البيض .قال المفسّرون: فرض الله على رسوله محمد ﷺ وعلى المؤمنين صوم عاشوراء وثلاثة أيام من كل شهر حين قدم المدينة فكانوا يصومونها إلى أن نزل صيام شهر رمضان قبل قتال بدر بشهر وأيام.
Alif Jabal Kurdi, S.Ag., M.A., Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang Alif Jabal Kurdi, S.Ag., M.A.? Silakan klik disini