Hakikat Berkurban: Belajar Melepaskan yang Kita Cintai

Idul Adha sering dipahami sebatas hari penyembelihan hewan kurban. Padahal, jika kita menyelami lebih dalam, kurban sesungguhnya berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar darah dan daging. Ia berbicara tentang hati manusia; tentang bagaimana seseorang belajar melepaskan ego, mengendalikan keinginan diri, dan menempatkan Allah di atas segala-galanya.

Karena itu, Al-Qur’an mengingatkan:

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ 

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj [22]: 37)

Ayat ini penting sekali dipahami bahwa kurban tidak sekadar ritual materialistik. Allah tidak membutuhkan daging hewan kurban kita. Allah juga tidak bertambah mulia karena banyaknya sembelihan manusia. Yang Allah lihat adalah ketulusan hati, keikhlasan, dan kesediaan manusia untuk taat kepada-Nya.

Di sinilah letak hakikat kurban. Yang sebenarnya disembelih bukan hanya hewan, melainkan juga sifat-sifat buruk dalam diri manusia: kesombongan, kerakusan, egoisme, dan keterikatan yang berlebihan kepada dunia.

Kita seringkali merasa memiliki banyak hal: harta, jabatan, keluarga, status sosial bahkan diri kita sendiri. Padahal semuanya hanyalah titipan Allah. Kurban datang untuk mengingatkan bahwa suatu saat manusia harus belajar melepaskan apa yang paling dicintainya demi sesuatu yang lebih tinggi, yaitu ridha Allah.

Karena itu, kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bukan sekadar cerita tentang seorang ayah yang diperintah menyembelih anaknya. Kisah itu merupakan pelajaran tentang cinta dan kepasrahan. Al-Qur’an merekam momentum spiritual itu dengan sangat menyentuh:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

“Maka ketika anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” (QS. Ash-Shaffat [37]: 102)

Bayangkan betapa berat ujian itu. Nabi Ibrahim sudah sangat lama menanti kehadiran Ismail. Namun tatkala rasa cinta kepada anak bisa saja membuat seseorang lupa kepada Tuhan, Allah menguji Ibrahim: siapakah yang paling ia cintai?

Dan yang menarik, Nabi Ismail menjawab dengan penuh ketenangan:

قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat [37]: 102)

Di sini kita melihat bahwa pengorbanan dalam Islam bukanlah lahir dari keterpaksaan, namun dari cinta kepada Allah. Ketika seseorang benar-benar mencintai Tuhan, maka ketaatan tidak lagi terasa sebagai beban. 

Itulah sebabnya para ulama sering mengatakan bahwa cinta membuat pengorbanan terasa ringan. Seorang ibu rela tidak tidur demi anaknya. Seorang ayah rela bekerja keras demi keluarganya. Mengapa? Karena cinta. Maka Ibrahim pun rela menjalankan perintah Allah karena cintanya kepada Allah jauh lebih besar daripada cintanya kepada dunia.

Makna ini juga dapat kita lihat dalam ibadah haji. Tawaf mengelilingi Ka’bah, misalnya, bukan sekadar berjalan memutar tujuh kali. Tawaf mengajarkan bahwa hidup manusia harus berpusat kepada Allah.

Segala sesuatu di alam semesta bergerak pada porosnya. Planet beredar mengelilingi matahari. Elektron bergerak mengelilingi inti atom. Dan manusia pun seharusnya bergerak mengelilingi nilai-nilai ketuhanan, bukan mengelilingi ego dan hawa nafsunya sendiri.

Begitu pula sai antara Shafa dan Marwah. Siti Hajar berlari mencari air untuk Ismail kecil dengan penuh harapan, meski tidak tahu dari mana pertolongan akan datang. Dari sini kita belajar bahwa manusia wajib berusaha maksimal, sementara hasil akhirnya diserahkan kepada Allah.

Dalam kehidupan sekarang, pelajaran ini terasa sangat penting. Banyak orang ingin segala sesuatu serba cepat dan pasti berhasil. Padahal agama mengajarkan bahwa tugas manusia hanyalah berikhtiar dengan sungguh-sungguh, sedangkan hasil adalah wilayah Allah.

Sayangnya, kadang-kadang ritual keagamaan hanya berhenti pada bentuk lahiriah. Orang sibuk membicarakan besar kecilnya hewan kurban, mahalnya biaya haji, ritualitas shalat atau kemeriahan perayaan, tetapi lupa memperbaiki dirinya sendiri. 

Padahal inti ibadah ialah perubahan akhlak. Kalau setelah berkurban seseorang masih mudah sombong, masih rakus, masih menyakiti orang lain, maka mungkin yang berubah baru penampilan ritualnya, belum hatinya.

Karena itu, Idul Adha sesungguhnya mengajak kita bertanya kepada diri sendiri: apa yang selama ini paling mengikat hati kita selain Allah? Bisa jadi harta, jabatan, ambisi, bahkan ego diri sendiri.

Maka hakikat kurban pertama-tama bukan tentang menyembelih hewan, namun sudahkah kita menyembelih sifat kebinatangan dalam diri ini. Ketika ego berhasil ditundukkan, manusia akan lebih mudah merasakan kedekatan dengan Allah dan lebih ringan menjalani hidup dengan penuh ketulusan. Di situlah kurban menemukan maknanya yang paling dalam: belajar mencintai Allah melebihi segala sesuatu.

Senata Adi Prasetia, M.Pd, Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang ustadz Senata Adi Prasetia, M.Pd? Silahkan klik disini