Setelah memaknai kemenangan dengan kata “Al-Fauz”, mari kita telaah redaksi “Al-Falah” yang juga mengandung makna kemenangan. Bahkan, diksi Al-Qur’an ini sudah cukup familiar ditelinga kita melalui salah satu redaksi adzan yakni حي على الفلاح .
Adapun dalam diksi الفلاح adalah kemenangan yang dijemput melalui usaha dan totalitas selama kita hidup di dunia. Di mana proses upaya kita di dunia ini akan berdampak betul pada posisi kita di akhirat kelak. Contoh sederhana dapat kita lihat pada awal QS. Al-Mu’minun dimana muslim yang sukses dan menang adalah mereka yang: Shalatnya Khusyu’, meninggalkan hal tak berguna, membayar zakat, menjaga kemaluan dan menjaga amanat.
Bukankah khusyu’ butuh pelatihan? Meninggalkan hal tak berfaidah dalam ketaatan; bukankah ini butuh pembiasaan? Membayar zakat butuh kesadaran bahwa harta adalah titipan, menjaga kemaluan dan amanat adalah dua hal yang sangat rawan jatuh dalam wilayah khianat. Sebab, banyak dari kita yang sanggup menjaganya di ruang publik tapi gagal saat di ruang-ruang sunyi. Sekalipun, hari ini kita dapati secara mata telanjang orang-orang yang dengan bangga mengkhianati amanat.
Ini memperkuat bahwa untuk menjalani setiap hal-hal tersebut butuh perjuangan. Shalat wajib yang kita jalani setiap hari pada waktu-waktu yang ditentukan, itu juga butuh perjuangan dan peletakan ibadah sebagai skala prioritas utama. Sebab, seringkali kita menunda dan mengakhirkan shalat dengan berbagai alasan. Padahal jarak kemenangan hanyalah sebatas hati yang tertaut pada Allah, serta kening yang bersentuh dengan tempat sujud.
Di antara ayat lain yang menjelaskan diksi ini adalah QS. Al-Hajj: 77
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ارْكَعُوْا وَاسْجُدُوْا وَاعْبُدُوْا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ۚ۩
Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah, sembahlah Tuhanmu, dan lakukanlah kebaikan agar kamu beruntung.
Sayyid Quthb (w. 1386H) dalam Tafsir Fi Zhilal al-Qur’an menerangkan bahwa rukuk dan sujud adalah representasi jelas dari shalat, Dipilihnya kata rukuk dan sujud sebab ia menggambarkan ketundukan dan kepasrahan. Adapun penyembahan, adalah segala bentuk ibadah lain yang membangun ketaatan pada Allah dan kebaikan pada sesama manusia.
Pesan menarik juga diutarakan oleh Wahbah al-Zuhaily (w. 1436H) dalam Tafsir al-Munir, ketika menjelaskan perintah untuk melakukan kebaikan atau kebajikan. Beliau menyampaikan:
وَتَحَرُّوْا فِعْلَ الْخَيْرِ الَّذِي يَرْضَى رَبَّكُمْ وَيُقَرِّبُكُمْ مِنْهُ مِنْ أَدَاءِ نَوَافِلِ الطَّاعَاتِ، وَصِلَةِ الْأَرْحَامِ، وَمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ، وَهٰذَا يَشْمِلُ كُلَّ فَضِيلَةٍ فِي الْإِسْلَامِ
Dan berusahalah kalian melakukan kebaikan yang diridhai Tuhan kalian dan yang mendekatkan kalian kepada-Nya, berupa pelaksanaan ibadah-ibadah sunnah, menyambung tali silaturahmi, dan akhlak yang mulia, dan ini mencakup setiap keutamaan dalam Islam.
Dengan demikian, kita perlu menjemput kemenangan dengan melakukan berbagai kebaikan yang kita sanggupi secara optimal. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah (w. 273H) Hadis dari Abu Hurairah (w. 57H):
إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشًيْءٍ فًأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
Jika aku memerintahkan sesuatu pada kalian, maka lakukanlah sesuai dengan (batas optimal) kesanggupan kalian.
Sekaligus menekankan pada batin dan perasaan kita, bahwa beribadah dan berbuat baik tidak akan pernah merugikan. Sekalipun terkadang mendapat respon yang tidak baik dari sesama manusia, di sisi Allah sejatinya kita tengah berjalan meniti kesuksesan secara duniawi maupun ukhrawi.
Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini