Memaknai Keikhlasan Lebih Dalam

Ikhlas, adalah kata yang sering kita ucapkan dan juga sering menjadi nasihat dari orang lain buat kita atau sebaliknya. Biasanya; kita ucapkan ini pada momentum di mana salah seorang dituntut untuk merelakan sesuatu. 

Namun, apakah makna ikhlas sebatas itu? Atau ada penjabaran yang lebih komprehensif untuk kita memahami makna ikhlas? Mari kita simak penjelasan Raghib al-Ishfahani.

Menurut Raghib al-Ishfahani

Dalam karyanya yang berjudul Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, Raghib menjelaskan bahwa:

الخالص كال صافي إلّا أنّ الخالص هو ما زاد عنه شوبه بعد أن كان فيه. والصافي قد يقال لما لا شوب فيه

“Al-khāliṣ (yang murni) itu seperti aṣ-ṣāfī (yang jernih/bersih), hanya saja al-khāliṣ adalah sesuatu yang telah hilang darinya campuran atau kotoran setelah sebelumnya ada padanya. Sedangkan aṣ-ṣāfī dapat digunakan untuk sesuatu yang sejak awal memang tidak memiliki campuran.”

Para ‘Ulama turut menjelaskan bahwa kata Ikhlas ini berasal dari  خلص yang bermakna memurnikan sesuatu dari apa-apa yang mengotorinya. Boleh jadi dalam ibadah kita ada rasa ‘Ujub, Riya’, Sum’ah atau Takabbur, maka Ikhlas adalah memurnikan ibadah dari segala hal itu. 

Pelajaran Penting dari Definisi Raghib al-Ishfahani

Pemaparan definisi Ikhlas dengan kata aṣ-ṣāfī, menjadi isyarat halus bahwa keikhlasan boleh jadi tidak muncul sejak awal kita melakukan amal-amal kebaikan. Tetapi, ada proses dan waktu dalam kita berusaha berlaku ikhlas. 

Sebagaimana disampaikan oleh al-Imam al-Qusyairi

الإخلاص إفراد الحق سبحانه بالقصد في الطاعة

“Ikhlas adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam tujuan ketika melakukan ketaatan.”

Mari, kita mulai ketaatan itu dengan berbagai dorongan sambil terus berusaha memurnikan tujuan. Jangan sampai, atas nama keikhlasan ibadah kita justru kurang optimal. Enggan sedekah banyak dengan dalih “belum ikhlas”. Menunda memaafkan dengan dalih ” Belum ikhlas” Serta berbagai contoh kasus lain. 

Keluarkan dulu sedekah yg kita mampu meski masih separuh ikhlas, maka selebihnya sambil berjalan waktu kita murni kan niatnya. Maafkan dahulu orang-orang yang mendzalimi kita, perlahan-lahan Allah yang akan obati hati dan memurnikan nya dari rasa benci. Wallahu al-musta’an.

Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini