Manusia hari ini, terasa dekat sekali dengan kegelisahan. Meski perkembangan teknologi terus melaju, manusianya seringkali merasa tertinggal. Memiliki banyak materi, tetapi merasa kosong dan hampa. Seolah ada tang terus dicari tapi tidak pernah benar-benar ditemukan.
Seolah jadi roda kegelisahan yang terus menggilas, kita diombang-ambingkan pula oleh standarisasi yang dipola oleh sosial media yang kian hari semakin kompleks. Alih-alih scrolling jadi pelepas penat, malah menjadi sumber kegelisahan baru.
Maka, jika hari ini kita tengah berada dalam kegelisahan; Al-Qur’an sejak awal sudah menginformasikan bahwa gelisah merupakan sifat dasar manusia. Kita tidak bisa menghilangkannya; tapi bisa mengelolanya.
Allah Swt berfirman dalam QS. Al-Ma’arij: 19
۞ اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًاۙ
Sesungguhnya manusia diciptakan dengan sifat keluh kesah lagi kikir.
Lalu, apa yang dimaksud dengan keluh kesah secara makna yang mendalam? Mari kita telusuri bersama; Secara bahasa pengertian dari kata هلوعا dalam tafsir Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an dijelaskan oleh Abu Abdillah Al-Qurthubi (w. 671H) yaitu:
أشد الحرص وأسوأ الجزع وأفحشه. والمعنى : إنه لا يصبر على خير ولا شر حتى يفعل فيهما مالا ينبغي
Orang yang sangat kikir (serakah), sangat buruk dan keji kegelisahannya. Maknanya adalah manusia tidak dapat bersabar terhadap kebaikan atau keburukan, sehingga dia melakukan sesuatu “yang tidak semestinya” pada kebaikan dan keburukan itu. (Dua sifat pada ayat selanjutnya; جزوعا dan منوعا adalah bagian dari sifat هلوعا)
Sehingga, ini bukanlah gelisah dan kecemasan biasa. Berakar dari ambisi yang begitu tinggi, kontrol diri yang tak terkendali lalu reaksi yang tidak mawas dengan segala risiko yang akan terjadi. Ini juga yang menjadi alasan; manusia bisa menjadi sangat ambisius dalam mengejar sesuatu, namun begitu rapuh ketika tidak mendapatkannya. Disinilah, letak penting kita memasrahkan hasil pada-Nya, setelah segala usaha yang kita lakukan.
Adh-Dhahhak menambahkan penjelasan bahwa هلوعا (halu’an) adalah tidak pernah merasa kenyang. Sedangkan منوعا (manu’an) adalah orang yang apabila mendapat harta maka dia tidak menunaikan hak Allah dari harta tersebut.
Pemaparan ini membuat kita mengerti bahwa “kegelisahan” dalam konteks ayat ini bukanlah kegelisahan biasa; melainkan kegelisahan yang lahir dari obsesi yang eksplosif dan impulsif. Di mana pada suatu saat mendatang, jika apa yang menjadi keinginan tidak terwujud, maka manusia bersangkutan akan menerjang segala cara untuk mendapatkannya.
Maka, perhatikanlah sabda Nabi Muhammad Saw dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud:
شر ما أعطي العبد: شحّ هالع وجبن خالع
Seburuk-buruk sifat yang diberikan kepada hamba adalah sifat kikir yang gelisah dan sifat yang sangat penakut.
Perasaan gelisah, risau dan tidak tenang memang seringkali datang tanpa disengaja. Namun jangan sampai kita terjatuh pada kegelisahan yang menimbulkan sifat-sifat tercela seperi serakah, kikir dan kehilangan kendali atas diri sampai menghalalkan segala cara demi sebuah tujuan.
Ibnu Kaisan berkata: Allah menciptakan manusia mencintai sesuatu yang dapat membahagiakan dan memuaskannya, lalu dia akan lari dari sesuatu yang tidak disukai dan dibencinya. Setelah itu, Allah memerintahkannya untuk beribadah yaitu menginfakkan apa yang dicintainya dan bersabar atas sesuatu yang tidak disukainya.
Pengecualian, bagi mereka-mereka yang konsisten dalam shalatnya. Niscaya ia tidak akan terjatuh pada kegelisahan yang sampai menghilangkan cahaya iman dalam dirinya. Allah perintahkan kita bersujud, bersedekah, Infaq dan berbagai syari’at tentu bukan tanpa tujuan. Setiap perintah-Nya adalah kasih sayang, agar manusia tidak kehilangan arah dan tenggelam semakin parah. Wallahu A’lam.
Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini