Mencintai guru adalah kemuliaan dan dicintai guru adalah keistimewaan. Mencintai guru adalah kemuliaan, karena beliau merupakan sosok yang telah membimbing kita dengan ilmu dan nilai-nilai kehidupan. Melalui pengajarannya, kita bisa tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Dicintai guru adalah keistimewaan, sebab mencerminkan rasa hormat dan penghargaan kita terhadap ilmu yang ia berikan.
Belajar memang menjadi pondasi utama dalam menentukan keberhasilan seorang pelajar. Mereka yang bersungguh-sungguh menekuni ilmu berpeluang besar untuk memahami, menguasai, dan mengembangkan pengetahuan yang dipelajarinya. Kisah para ulama klasik hingga kontemporer, misalnya, sarat akan keteladanan dan kegigihan—bagaimana mereka rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kenyamanan demi menuntut ilmu. Dari ketekunan itulah lahir ulama-ulama besar yang bukan hanya unggul secara intelektual, tetapi juga produktif melahirkan karya-karya monumental yang terus dibaca dan dirujuk lintas generasi.
Namun demikian, sekadar mencukupkan “belajar” pada dasarnya tidak akan cukup jika tidak disertai dengan adab memuliakan guru-gurunya. Dalam Islam, menghormati dan mencintai guru adalah salah satu cara untuk mendapatkan keberkahan dalam hidup.
Beragam Cara Mencintai Guru
Mencintai guru dalam tradisi Islam tidaklah tunggal. Ia hidup, bertingkat, dan berlapis—mengikuti kedalaman relasi murid dengan ilmu yang dipelajarinya. Karena itu, ekspresi cinta kepada guru tidak dapat diseragamkan. Setiap murid mencintai sesuai kapasitas spiritual, intelektual, dan perjalanannya masing-masing.
Bagi kalangan muhibbin awam, cinta kepada guru sering kali menemukan bentuknya dalam ritual-ritual keberagamaan yang sarat makna. Membacakan Surah al-Fatihah, misalnya, berziarah ke makam guru, menghadiri haul, atau sekadar mengenang jasa-jasa sang guru dengan penuh hormat adalah jalan cinta yang bisa ia lakukan. Dalam praktik ini, cinta terjalin melalui doa dan ingatan kolektif, sebagai ikhtiar menjaga sanad keberkahan agar tetap hidup.
Namun, bagi muhibbin yang berposisi sebagai penuntut ilmu, kecintaan terhadap guru tidak cukup berhenti pada ritual simbolik, akan tetapi harus diwujudkan dengan mengikuti keteladanan, manhaj berpikir, serta arah keilmuan yang diwariskan oleh sang guru. Mengikuti guru berarti meneladani cara berpikirnya yang jernih, sikapnya yang tawaduk, serta keberpihakannya pada kebenaran—bukan sekadar mengutip namanya tanpa memahami ruh pemikirannya.
Imam al-Muzani adalah contoh klasik tentang cinta murid kepada guru pada level keilmuan yang sangat tinggi. Kecintaannya kepada Imam asy-Syafi‘i tidak diwujudkan dalam pujian berlebihan atau sekadar memajang fotonya di tembok, melainkan dengan membukukan, merawat, dan mengembangkan pemikiran sang guru. Melalui tangan Imam Muzani, gagasan-gagasan Imam Syafi‘i tidak hanya lestari, tetapi juga menjadi fondasi mazhab yang terus hidup hingga hari ini.
Dalam kerangka ini, cinta kepada guru tidak pernah tunggal bentuknya. Ia beragam, mengikuti kondisi, maqam, dan kapasitas masing-masing murid. Sayyidina Ali pernah berkata,
قَالَ عَلِيٌّ كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ أَنَا عَبْدُ مَنْ عَلَّمَنِي حَرْفًا إنْ شَاءَ بَاعَ وَإِنْ شَاءَ اسْتَرَقَّ
“Saya adalah hamba sahaya bagi orang yang telah mengajariku satu huruf. Terserah padanya jika ingin menjualku atau membebaskanku.” (Abu Sa’id al-Khadimi, Bariqah Mahmudiyah, [Mathba’ah al-Halabi: 1348], juz V, halaman 185)
Dalam maqalah yang lain disebutkan,
الادب مع الشيوخ مقدم على الجامع فاذا رأيت رجلا اهان شيخه فاعلم انه رجل خذله الله
Sopan santun terhadap guru di atas segala-galanya, jika kalian melihat ada orang meremehkan gurunya ketahuilah orang itu adalah orang yang akan dihinakan oleh Allah SWT.
Imam az-Zarnuji dalam Ta‘limul Muta‘allim mengurai prinsip ini bahwa seorang penuntut ilmu tidak akan memperoleh ilmu—apalagi merasakan manfaatnya—kecuali dengan memuliakan ilmu itu sendiri dan orang-orang yang membawanya.
اِعْلَمْ بِأَنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ لاَ يَنَالُ الْعِلْمَ وَلاَ يَنْتَفِعُ بِهِ اِلَّا بِتَعْظِيْمِ الْعِلْمِ وَأَهْلِهِ وَتَعْظِيْمِ الْأُسْتَاذِ وَتَوْقِيْرِهِ. قِيْلَ مَا وَصَلَ مَنْ وَصَلَ اِلَّا بِالْحُرْمَةِ، وَمَا سَقَطَ مَنْ سَقَطَ اِلاَّ بِتَرْكِ الْحُرْمَةِ
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya seorang pelajar tidak akan bisa mendapatkan ilmu dan manfaat ilmu kecuali dengan menghormati ilmu dan orang yang berilmu, memuliakan guru dan menghormatinya. Dikatakan, tidak sukses orang yang telah sukses kecuali dengan hormat, dan tidak gagal orang yang gagal kecuali disebabkan tidak hormat” (Imam az-Zarnuji, Ta’limul Muta’allim fi Thariqit Ta’allum, halaman 55)
Memuliakan guru adalah kewajiban bagi setiap pelajar. Setiap orang yang pernah belajar—baik satu huruf maupun satu disiplin ilmu—telah masuk ke dalam relasi amanah dengan gurunya. Dalam pandangan para ulama, relasi ini tidak berhenti pada ruang kelas atau majelis pengajian, melainkan melekat sepanjang hayat. Sebab, ilmu yang sampai kepada seorang murid tidak pernah datang secara langsung, melainkan melalui perantara manusia yang bernama guru.
Sebagaimana nasihat yang disampaikan Syaikh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi,
كُنْ مُوَقِّرًا لِمُعَلِّمِكَ مُعَظِّمًا لَهُ، فَاِنَّ تَعْظِيْمَهُ مِنْ تَعْظِيْمِ الْعِلْمِ. وَلاَ يَنَالُ الْعِلْمَ اِلاَّ بِتَعْظِيْمِهِ وَتَعْظِيْمِ أَهْلِهِ، وَكُنْ مُعْتَقِدًا أَيْضَا أَهْلِيَتَهُ وَرُجْحَانَهُ عَلىَ مَنْ كَانَ فِي طَبَقَتِهِ
Jadilah kamu orang yang memuliakan serta mengagungkan pada gurumu. Karena sungguh, memuliakannya merupakan bagian dari memuliakan ilmu. Tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan memuliakan ilmu dan memuliakan orang yang berilmu. Dan, jadilah kamu orang yang yakin pada kapasitas dan keunggulannya pada orang yang ada pada masanya”.
Dari sini kita belajar bahwa memuliakan guru adalah bentuk cinta yang abadi. Cinta terhadap guru tidak sebatas bersifat emosional, akan tetapi menjelma menjadi tanggung jawab spiritual, substansial, keilmuan dan moral. Cinta semacam inilah yang melahirkan ilmu yang hidup—ilmu yang tidak hanya dipahami, namun diamalkan dan diwariskan sepanjang hayat.
Senata Adi Prasetia, M.Pd, Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Senata Adi Prasetia, M.Pd? Silahkan klik disini