Haus validasi membuat harga diri bergantung penuh pada pujian atau pengakuan dari luar. Ketika kehidupan kita bergantung pada penerimaan orang lain, secara tak sadar sesungguhnya kita sedang mengorbankan atau kehilangan jati diri. Memang tidak dapat dipungkiri, pada dasarnya, manusia memang membutuhkan pengakuan.
Seorang anak membutuhkan apresiasi orang tua, seorang pelajar memerlukan penghargaan atas usahanya, dan seseorang membutuhkan penerimaan dari lingkungan sosialnya. Yang menjadi persoalan bukan kebutuhan untuk dihargai, akan tetapi ketika harga diri sepenuhnya ditentukan oleh penilaian orang lain. Sebagai contoh, ketika kita dipuji, kita merasa berharga. Ketika dikritik, kita merasa tersinggung. Ketika unggahan media sosial kita mendapatkan banyak tanda suka, kita merasa diterima, dan sederet validasi lainnya.
Pada titik tertentu, kita tidak lagi hidup berdasarkan nilai yang diyakini, melainkan berdasarkan reaksi orang lain terhadap diri kita. Ini yang berbahaya.
Tidak Semua yang Viral Itu Bernilai
Fenomena berburu panggung ini acap kali membuat kita melupakan tolok ukur hakiki dari sebuah nilai. Standar kebenaran seolah bergeser: apapun yang ramai, itulah yang dianggap benar; apapun yang viral, itulah yang dianggap berharga. Padahal, riuh-rendah mayoritas bukanlah jaminan kualitas. Al-Qur’an secara tegas memperingatkan mengenai cara pandang ini.
قُلْ لَّا يَسْتَوِى الْخَبِيْثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ اَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيْثِۚ فَاتَّقُوا اللّٰهَ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ࣖ
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tidaklah sama yang buruk dengan yang baik meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu. Maka, bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang berakal sehat agar kamu beruntung.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 100)
Ayat ini secara eksplisit mengingatkan bahwa kuantitas tidak pernah bisa menggantikan kualitas. Hal-hal yang buruk atau tidak bernilai—meskipun dikemas dengan begitu memikat hingga membius mata dan hati banyak orang—tetaplah tidak sebanding dengan kebaikan yang hakiki.
Imam Ibn Jarir at-Thabari menjelaskan bahwa frasa “meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu” merujuk pada kekaguman manusia terhadap kuantitas yang melimpah—baik itu harta, jumlah pengikut, maupun popularitas—yang diraih dengan cara tidak baik. At-Thabari menekankan bahwa kebaikan yang sedikit namun disertai ketakwaan jauh lebih mulia di sisi Allah daripada keburukan melimpah yang hanya menyilaukan mata sementara.
Sementara dalam tafsir yang lain, Imam al-Mawardi dalam Nukat wal ‘Uyun, menguraikan ayat ini dari sudut pandang hakikat keberadaan. Menurut beliau, sesuatu yang khabits (buruk/murahan) tetap tidak akan pernah bisa menyamai thayyiib (baik/murni), sebab yang buruk selalu diiringi kekosongan penyesalan dan kehampaan makna, sedangkan yang baik mendatangkan kedamaian sejati (thuma’ninah). Al-Mawardi mengaitkannya dengan kesadaran akal (ulil albab): orang yang berakal sehat tidak akan tertipu oleh bungkus luar yang megah jika isinya hampa.
Validasi Semu
Mengejar validasi manusia adalah dahaga yang tak pernah tuntas. Semakin diminum, semakin haus. Tatkala tolok ukur kebahagiaan kita digantungkan pada jempol dan komentar orang lain, secara tidak langsung sesungguhnya kita sedang “menyerahkan” kemudi hidup kita kepada massa yang volatil—yang hari ini memuja, besok bisa saja mencela. Menghayati pesan QS. Al-Ma’idah: 100 adalah langkah awal untuk kurasi jiwa. Kita diajak untuk tidak silau oleh apa yang sekadar viral, melainkan fokus pada apa yang bernilai dan berbekas (atsar).
Tidak semua yang viral dan bergerombol itu benar, dan tidak semua yang sunyi itu tak berharga. Kebahagiaan sejati tidak ditemukan pada angka-angka di layar kaca, melainkan pada ketenangan dada saat kita tahu bahwa apa yang kita lakukan bernilai baik di hadapan Sang Pencipta—meski tak ada satu pun manusia yang menepuk tangan.
Senata Adi Prasetia, M.Pd, Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Senata Adi Prasetia, M.Pd? Silahkan klik disini