Lima Kemuliaan Umat Nabi Muhammad saw.

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam,” demikian firman Allah dalam surah al-Anbiya ayat 107.

Ayat di atas menjadi bukti nyata betapa mulia dan agungnya pribadi Nabi Muhammad saw. Ia adalah makhluk pilihan yang menjadi rahmat, penunjuk jalan cinta bagi seluruh makhluk lainnya.

Ketika ruh ditiupkan ke dalam kandungan ibundanya, Aminah al-Zuhriyyah, seluruh alam bergembira. Angin sepoi-sepoi berembus membawa kesejukan pagi. Buah-buahan menjadi matang dan manis. Rerumputan hijau memenuhi gurun tandus. Hingga hewan-hewan suku Quraisy saling bercerita bahwa makhluk termulia sedang dikandung. Demikian, seperti yang dilantunkan dalam kitab al-Barzanji.

Dengan kemuliannya, kelak umatnya pun menjadi mulia. Dalam kitab Tanbiih al-Ghaafiliin (hal. 398) karya Abu al-Laits al-Samarqandi disebutkan bahwa Allah swt. memberikan kemuliaan kepada umat Nabi Muhammad saw. dengan lima karamah/kemuliaan:

Pertama,mereka diciptakan dhu’afa (lemah), sehingga tidak (seharusnya) berlaku sombong.

Kelemahan manusia menjadi pengingat bahwa sehebat apa pun kekuatan, jabatan, atau ilmunya, semuanya terbatas dan bergantung kepada Allah Yang Maha Kuasa. Karena itu, tidak ada alasan untuk bersikap angkuh. Justru orang yang kuat dan berkedudukan dituntut semakin rendah hati karena semua kelebihan hanyalah titipan-Nya.

Kelemahan juga membuat manusia lebih mudah menyadari kebutuhannya kepada Allah. Saat sakit, tertimpa musibah, atau kehilangan kekuatan, seseorang akan memahami bahwa tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Nya. Kesadaran inilah yang melahirkan sifat tawaduk, gemar berdoa, dan tidak mudah merendahkan orang lain.

Sebaliknya, kesombongan sering muncul ketika seseorang lupa bahwa seluruh kekuatan yang dimilikinya dapat hilang dalam sekejap. Dan ingatlah, kesombonganlah yang menyebabkan iblis dikeluarkan dari surga.

Kedua,mereka diciptakan shugara’ (bertubuh kecil), sehingga mereka hanya membutuhkan sedikit makan, minum, dan pakaian.”

Tubuh yang lebih kecil merupakan kemudahan. Kebutuhan hidup menjadi lebih ringan sehingga manusia tidak terbebani dengan kebutuhan yang berlebihan. Bayangkan jika umat Nabi Muhammad memiliki tubuh sebesar Nabi Adam a.s. yang dalam riwayat disebut mencapai enam puluh hasta. Tentu kebutuhan makanan, pakaian, dan tempat tinggal akan jauh lebih besar, sehingga kehidupan menjadi lebih berat.

Tubuh yang lebih kecil juga memungkinkan manusia bergerak lebih lincah dan mudah menjalankan aktivitas sehari-hari. Dengan kebutuhan yang lebih sedikit, seseorang memiliki kesempatan lebih besar untuk berbagi kepada sesama. Islam sendiri mengajarkan hidup sederhana dan tidak berlebihan. Karena itu, ukuran tubuh yang tidak terlalu besar dapat dipandang sebagai salah satu bentuk kemudahan yang Allah swt. berikan kepada umat Nabi Muhammad saw.

Ketiga,umur mereka dijadikan qashiir (pendek), sehingga dosa-dosa mereka dapat lebih sedikit.”

Usia yang lebih singkat juga merupakan kasih sayang Allah. Semakin panjang umur seseorang, semakin banyak pula peluang melakukan kesalahan apabila tidak diiringi amal saleh. Bandingkan dengan Nabi Nuh a.s. yang berdakwah selama sembilan ratus lima puluh tahun. Umat Nabi Muhammad umumnya memiliki usia lebih pendek sehingga kesempatan berbuat dosa pun relatif lebih sedikit, sementara pintu taubat selalu terbuka.

Pendeknya usia bukan berarti kesempatan beramal menjadi sedikit. Justru Allah memberikan keistimewaan berupa amal-amal yang bernilai sangat besar. Satu malam Lailatul Qadar, misalnya, lebih baik daripada seribu bulan. Demikian pula berbagai ibadah yang dilipatgandakan pahalanya. 

Dengan rahmat Allah, umat Nabi Muhammad dapat meraih pahala yang melampaui usia mereka yang relatif singkat dibandingkan umat-umat terdahulu.

Keempat,mereka dijadikan fuqara’ (miskin), sehingga hisab mereka di akhirat kelak lebih sedikit.

Harta memang nikmat, tetapi juga amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Semakin banyak harta yang dimiliki, semakin banyak pula perkara yang akan dihisab: dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan. Rasulullah saw. bersabda bahwa kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat hingga ditanya tentang hartanya, dari mana ia mendapatkannya dan untuk apa ia membelanjakannya (HR. Tirmidzi). 

Bukan berarti Islam memuliakan kemiskinan atau melarang seseorang menjadi kaya. Banyak sahabat Nabi yang merupakan saudagar sukses. Namun, kekayaan selalu disertai amanah yang besar. Semakin banyak harta, semakin banyak pula hak orang lain yang melekat di dalamnya, seperti zakat, infak, sedekah, dan berbagai bentuk tanggung jawab sosial. 

Karena itulah, kehidupan yang sederhana sering kali membuat hisab menjadi lebih ringan dibandingkan mereka yang memiliki harta berlimpah. Dan dengan demikian, kehidupan yang sederhana dapat menjadi kemuliaan apabila disertai kesabaran dan rasa syukur.

Kelima,mereka dijadikan sebagai umat paling terakhir, sehingga waktu mereka di kubur (menunggu kiamat) menjadi lebih sebentar.”

Seluruh manusia, dari Nabi Adam hingga umat terakhir, akan dibangkitkan pada hari kiamat yang sama. Artinya, siapa pun yang wafat lebih dahulu akan menunggu lebih lama di alam kubur dibandingkan mereka yang datang belakangan. Karena umat Nabi Muhammad adalah umat penutup, masa penantian mereka menuju hari kebangkitan menjadi lebih singkat dibanding umat-umat sebelumnya.

Keistimewaan menjadi umat terakhir juga menunjukkan kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad saw. Meskipun datang paling akhir dalam sejarah kenabian, umat ini justru diberi berbagai kemuliaan. Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa umat Nabi Muhammad adalah umat terakhir di dunia, tetapi termasuk yang pertama memperoleh keputusan dan memasuki surga pada hari kiamat (HR. al-Bukhari dan Muslim). 

Dengan demikian, menjadi umat terakhir bukanlah keterlambatan, melainkan sebuah keutamaan yang telah Allah tetapkan.

Lima kemuliaan ini mengajarkan bahwa apa yang sering dipandang sebagai kekurangan justru dapat menjadi bentuk kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad saw. Kelemahan, tubuh yang sederhana, usia yang terbatas, kehidupan yang tidak berlebihan, hingga menjadi umat terakhir, semuanya mengandung hikmah besar. 

Semoga kita termasuk hamba yang mampu mensyukuri setiap karunia tersebut dengan memperbanyak amal saleh, menjauhi kesombongan, dan mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan akhirat.

Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag., Penyuluh Agama Islam Kotabaru dan Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag.? Silakan Klik disini