Kritik Tanpa Kebencian: Pesan Berlaku Adil dalam QS. Al-Maidah Ayat 8

Demonstrasi, kritik terhadap kebijakan, dan perdebatan di media sosial merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Ketika sesuatu dianggap tidak adil, manusia memiliki dorongan untuk menyampaikan ketidaksetujuan. Kritik pun dapat menjadi bentuk kepedulian terhadap keadaan yang dinilai perlu diperbaiki.

Namun, ada pertanyaan yang patut direnungkan, bisakah kita mengkritik sesuatu dengan tegas tanpa membenci orang yang kita kritik? Sebab, ketika emosi semakin kuat, kritik terhadap tindakan atau kebijakan terkadang bergeser menjadi penilaian terhadap keseluruhan pribadi seseorang. Kita bukan lagi mengatakan, “Saya tidak setuju dengan tindakannya,” tetapi mulai menganggap orang yang berbeda sebagai pihak yang sepenuhnya buruk dan tidak layak didengar.

Moral Reasonableness: Berbeda Tidak Selalu Berarti Tidak Masuk Akal

Menurut psikologi moral, terdapat konsep moral reasonableness, yaitu bagaimana seseorang memandang bahwa orang yang berbeda secara moral tetap mungkin sampai pada pandangannya melalui pertimbangan yang dilakukan dengan iktikad baik.

Samuelson dan Dahl (2026) melalui lima penelitian dan tiga studi replikasi terhadap total 853 partisipan menemukan bahwa ketika seseorang memandang pendapat yang berbeda sebagai morally reasonable, ia cenderung menunjukkan lebih sedikit permusuhan dan lebih bersedia berinteraksi dengan pihak yang berbeda tersebut.

Hal ini bukan berarti semua pendapat harus dibenarkan. Kita tetap dapat menganggap suatu tindakan keliru, mengkritiknya, bahkan memperjuangkan perubahan. Namun, ketegasan terhadap sesuatu yang dianggap salah tidak harus membuat kita kehilangan kemampuan menilai pihak lain secara adil.

Ketika Kebencian Mengganggu Keadilan

Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Ma’idah [5]: 8 sebagai berikut.

… وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ …. 

“ …. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. …”

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa kebencian terhadap suatu kaum tidak boleh menyebabkan seseorang meninggalkan keadilan dan memilih tindakan melampaui kebenaran. Menariknya, Imam Al-Qurthubi menegaskan bahwa perintah berlaku adil tetap berlaku sekalipun terhadap pihak yang dibenci (tafsir-qurthubi-[Jilid 6]: 264). 

Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir juga menjelaskan bahwa orang beriman diperintahkan menegakkan kebenaran dan memberikan kesaksian secara jujur, objektif, serta adil tanpa memihak atau menzalimi pihak lain. Kebencian dan permusuhan tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan keadilan (tafsir-al-munir-[Jilid 3]: 450). 

Ayat tersebut tentu tidak secara khusus berbicara mengenai demonstrasi atau perdebatan di media sosial. Namun, prinsipnya relevan direnungkan ketika perbedaan membuat emosi semakin kuat.

Tegas Tidak Harus Membenci

Keadilan bukan berarti diam terhadap kesalahan. Kita boleh tidak setuju, menyampaikan kritik, dan mempertanyakan keputusan yang dianggap bermasalah. Namun, kritik seharusnya tetap diarahkan pada persoalan yang dikritik, bukan berubah menjadi penghinaan, tuduhan tanpa dasar, atau kebencian kepada keseluruhan pribadi dan kelompok. Begitu pula ketika berada di pihak yang dikritik. Ketidaknyamanan menerima kritik tidak semestinya membuat seseorang menganggap semua pengkritik sebagai musuh.

Penutup: Keadilan Diuji ketika Kita Tidak Suka

Berlaku adil kepada orang yang kita sukai mungkin terasa mudah. Ujian yang lebih berat justru muncul ketika kita berhadapan dengan orang yang tidak kita sukai. Karena itu, kritik dan keadilan tidak perlu dipertentangkan. Kita dapat bersuara dengan tegas tanpa kehilangan penghormatan terhadap manusia. 

Kita dapat menolak suatu tindakan tanpa harus membenci pelakunya. Sebab, boleh jadi ukuran kedewasaan bukan hanya keberanian menyampaikan apa yang kita anggap benar, tetapi juga kemampuan menjaga keadilan ketika emosi mendorong kita melakukan sebaliknya. Wallahu A’lam.

Saibatul Hamdi, M.Pd., Guru Al-Qur’an Hadis MTsN Seruyan dan Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang Saibatul Hamdi, M.Pd.? Silakan Klik disini