Di zaman sekarang, dunia terasa semakin tidak pasti. Banyak masalah terjadi, seperti krisis ekonomi, konflik antar negara, perubahan iklim, dan perkembangan teknologi yang sangat cepat. Semua ini membuat manusia menghadapi satu pertanyaan lama yang terus muncul terkait bagaimana cara menghadapi ketidakpastian tanpa kehilangan harapan dan arah hidup?
Dalam situasi seperti ini, konsep tawakal dalam Al-Qur’an menjadi sangat penting. Tawakkal kerap dimaknai sebagai pedoman dalam menjalani hidup dengan tanggung jawab, ketenangan, dan ketahanan menghadapi masalah. Namun, masih banyak orang yang salah memahami tawakkal. Ada yang menganggap tawakal itu berarti pasrah tanpa usaha, atau bahkan dijadikan alasan untuk tidak bertanggung jawab. Padahal, dalam Al-Qur’an, tawakkal justru mengajarkan keseimbangan antara usaha dan kepercayaan kepada Allah.
Artinya, manusia tetap harus berusaha dengan maksimal, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Definisi Tawakal
Secara bahasa, tawakkal berasal dari kata wakala, yang berarti menyerahkan atau mempercayakan. Dalam agama, tawakkal berarti berserah diri kepada Allah setelah melakukan usaha terbaik. Al-Qur’an menjelaskan bahwa tawakkal dilakukan setelah seseorang mengambil keputusan dan berusaha.
Allah berfirman: “Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159)
Ayat ini menunjukkan bahwa tawakkal dilakukan setelah berpikir, merencanakan, dan bertindak. Hal ini juga diperkuat dengan ayat lain: “…dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 23)
Beberapa orang mengkritik tawakkal karena dianggap membuat orang menjadi malas atau tidak berkembang. Kritik ini memang bisa terjadi jika tawakkal disalahgunakan. Namun, sebenarnya masalahnya bukan pada ajaran tawakkal, tetapi pada cara memahaminya. Dalam Al-Qur’an, tawakkal justru berkaitan dengan keberanian dan tanggung jawab. Allah berfirman: “Barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupkan (keperluannya).” (QS. At-Talaq [65]: 3)
Pentingnya Tawakal di Era Saat ini
Di zaman modern, banyak orang mengalami stres, cemas, dan kelelahan mental. Salah satu penyebabnya adalah keinginan untuk mengontrol semua hal dalam hidup. Padahal, tidak semua bisa kita kendalikan. Allah berfirman: “Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami…” (QS. At-Taubah [9]: 51). Ayat ini mengajarkan bahwa ada hal-hal di luar kendali manusia. Dengan memahami ini, seseorang bisa lebih tenang dan tidak terlalu cemas.
Selain itu, Allah juga berfirman:“Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka Dia akan mencukupkan baginya.” (QS. At-Talaq [65]: 3). Ayat ini memberi rasa aman dan harapan bahwa Allah akan membantu hamba-Nya.
Dalam kehidupan, prinsip ini sangat penting. Dunia membutuhkan pemimpin yang rendah hati dan sadar bahwa manusia punya keterbatasan. Hadis Nabi juga menjelaskan dengan contoh yang sederhana:“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi rezeki seperti burung…”(HR. Tirmidzi). Burung tetap keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Artinya, tawakkal tetap membutuhkan usaha.
Dalam konteks ini, tawakkal juga bisa menjadi bagian dari dialog antarbudaya. Banyak ajaran lain yang memiliki konsep mirip, seperti percaya kepada Tuhan atau menerima keadaan. Namun, dalam Islam, tawakkal memiliki ciri khas yaitu ada keseimbangan antara usaha dan penyerahan diri.
Walaupun penting, menerapkan tawakkal tidak selalu mudah. Tantangannya adalah menjaga keseimbangan. Jika terlalu fokus pada usaha, seseorang bisa stres. Tapi jika terlalu pasrah, bisa menjadi malas. Meskipun demikian, manusia tidak perlu memilih antara berusaha atau pasrah. Keduanya bisa berjalan bersama, berusaha sebaik mungkin, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Dari sini muncul ketenangan dan keberanian dalam menghadapi kehidupan.
Ilya Syafa’atun Ni’mah, M.Ag., KUMI., Alumni Bayt Al-Qur’an dan Ustadzah di Cariustadz.id
Tertarik mengundang ustadz Ilya Syafa’atun Ni’mah, M.Ag., KUMI.? Silahkan klik disini