Mengantuk saat khutbah Jumat itu manusiawi. Demikian sebuah narasi yang diam-diam kita wajarkan.
Di tengah padatnya jam kerja, rutinitas yang melelahkan, dan beban hidup yang tidak ringan, banyak yang memaklumi jika ada jamaah yang “terlelap sebentar”. Bahkan, di beberapa kesempatan, penulis juga mendengar gurauan begini: kalau sulit tidur, coba saja dengarkan khutbah Jumat.
Kita tertawa. Kita mengangguk. Seolah itu hal biasa.
Padahal, di saat yang sama, kita tahu bahwa khutbah Jumat bukan sekadar pengantar salat. Ia adalah bagian dari ibadah itu sendiri—yang menuntut hadirnya perhatian, bukan sekadar kehadiran fisik.
Dalam sebuah hadis riwayat Ahmad, Nabi SAW bersabda:
…مَنْ لَغَا فَلَا جُمُعَةَ لَهُ
“Barangsiapa yang melakukan laghw (perkataan sia-sia saat khutbah), maka tidak ada Jumat baginya.”
Hadis ini sering dipahami sebagai larangan berbicara saat khutbah. Namun, maknanya lebih dalam dari sekadar itu. Ia menegaskan bahwa fokus, diam, dan menyimak adalah bagian dari kesempurnaan ibadah Jumat.
Masalahnya, kita mungkin tidak berbicara—tapi pikiran kita ke mana-mana. Kita tidak mengobrol—tapi kesadaran kita perlahan hilang. Dan di titik ini, rasa kantuk yang kita anggap wajar itu sebenarnya layak untuk dikritisi. Bukan untuk menyalahkan. Tapi untuk dievaluasi.
Karena jika kita terus memaklumi, kita bisa kehilangan sesuatu yang seharusnya kita jaga: kualitas kehadiran kita di hadapan Allah SWT.
Faktor Lain Selain Lelah
Tentu, tidak adil jika seluruh beban kita letakkan pada jamaah. Rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang tidak melulu soal fisik yang lelah, tapi juga soal khutbah itu sendiri.
Sudah menjadi semacam rahasia umum bahwa mimbar Jumat tidak selalu diisi oleh mereka yang benar-benar memiliki kesiapan dalam berdakwah. Bukan karena tidak ada yang peduli, tapi sering kali karena keterbatasan sumber daya di sebuah masjid. Akhirnya, siapa yang tersedia, dialah yang maju.
Tidak jarang, seorang khatib hanya bermodal beberapa ayat yang ia hafal, atau teks khutbah siap pakai yang tinggal dibaca. Secara fikih, ini mungkin sah. Tapi dalam konteks komunikasi, ini jauh dari ideal.
Karena khutbah bukan sekadar menyampaikan isi. Ia adalah upaya merebut perhatian.
Idealnya, seorang khatib tidak sekadar membaca. Ia menatap jamaah. Ia menyadari bahwa di hadapannya ada orang-orang yang datang dengan sisa energi setelah bergulat dengan kehidupan. Maka yang dibutuhkan bukan hanya suara, tapi juga kehadiran.
Ketika khatib tidak benar-benar “hadir” untuk jamaahnya, maka jamaah pun perlahan kehilangan alasan untuk tetap hadir secara utuh. Relasinya dua arah.
Persoalan lain yang juga tidak kalah penting adalah materi khutbah yang dibawakan. Tanpa bekal ilmu dakwah yang cukup, seorang khatib bisa saja mengabaikan satu hal mendasar—bahwa setiap jamaah itu berbeda. Latar belakang pendidikan, tingkat pemahaman agama, bahkan problem hidup mereka tidak sama.
Apa yang terasa dalam bagi satu komunitas, bisa terasa hambar di komunitas lain.
Karena itu, idealnya seorang khatib melakukan “riset kecil”: siapa jamaah yang ia hadapi? Apa yang mereka butuhkan? Apa yang sedang mereka hadapi? Tanpa itu, khutbah mudah jatuh menjadi formalitas. Disampaikan, tapi tidak sampai.
Penutup
Pada akhirnya, mengantuk saat khutbah Jumat memang manusiawi. Tapi menjadikannya sebagai kewajaran yang tidak perlu dikoreksi—itu yang berbahaya.
Kita semua punya peran. Jamaah bisa berikhtiar untuk hadir dengan lebih siap: menjaga istirahat, meluruskan niat, dan menyadari bahwa ini bukan sekadar jeda dari pekerjaan. Di sisi lain, para khatib juga perlu terus berbenah: tidak hanya menggenapkan 5 rukun khutbah, tapi juga memastikan bahwa khutbah mereka bermakna.
Dr. Muhammad Asgar Muzakki, M. Ag, Ustadz di Cariustadz.id
Tertarik mengundang Dr. Muhammad Asgar Muzakki, M. Ag? Silakan klik disini