Hedonic Treadmill dan QS. Al-Hadid Ayat 20: Dunia Tak Pernah Terasa Cukup

Hedonic treadmill merupakan konsep dalam psikologi yang menjelaskan kecenderungan manusia untuk kembali pada tingkat kebahagiaan semula setelah memperoleh suatu pencapaian atau kenikmatan. Ketika seseorang berhasil mendapatkan pekerjaan impian, membeli rumah baru, memperoleh kenaikan jabatan, atau memiliki barang yang diinginkan, rasa bahagia yang muncul biasanya hanya berlangsung sementara. Setelah itu, ia akan kembali merasa biasa dan mulai mengejar target berikutnya.

 Fenomena ini menyebabkan manusia seolah-olah terus berlari di atas treadmill, terus bergerak, tetapi tidak pernah benar-benar merasa sampai pada kepuasan yang bertahan lama. Al-Qur’an telah memberikan peringatan mengenai kecenderungan tersebut melalui QS. Al-Hadid [57]: 20. Ayat ini menggambarkan bagaimana manusia mudah terpesona oleh gemerlap kehidupan dunia sehingga sibuk berlomba dalam kebanggaan dan kepemilikan materi. Allah berfirman:

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ ….

Terjemah:

“20.   Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan….”

Tafsir QS. Al-Hadid [57]: 20 tentang Rendahnya Kehidupan Dunia

Menurut Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini menjelaskan bahwa kehidupan dunia bersifat sementara dan sering membuat manusia terlena oleh berbagai kenikmatannya. Berbangga dengan harta, kedudukan, dan keturunan merupakan kecenderungan manusia, namun semuanya akan berakhir dan tidak layak dijadikan tujuan utama kehidupan (Tafsir Ibn Katsir [Jilid 8]: 59).

Imam Al-Qurṭhubi juga menjelaskan bahwa frasa tafakhur (saling berbangga) dan takathur (berlomba memperbanyak) menggambarkan kecenderungan manusia untuk mencari kebanggaan melalui kepemilikan duniawi. Persaingan tersebut dapat membuat seseorang lalai dari tujuan hidup yang sesungguhnya apabila tidak disertai kesadaran akan kehidupan akhirat (Tafsir Al-Qurthubi [Jilid 18]: 65-66).

Sementara itu, Wahbah az-Zuḥaili dalam Tafsir Al-Munir menerangkan bahwa Islam tidak melarang manusia memiliki harta atau menikmati kehidupan dunia, tetapi melarang menjadikan kenikmatan dunia sebagai orientasi utama hidup. Dunia hanyalah sarana untuk beribadah dan berbuat kebajikan, bukan tujuan akhir yang harus dikejar tanpa batas (Tafsir Al-Munir [Jilid 14]: 353).

Hedonic Treadmill sebagai Isyarat Dunia Tak Pernah Terasa Cukup

Fenomena hedonic treadmill menjelaskan mengapa sebagian orang tetap merasa kurang meskipun telah memiliki penghasilan tinggi, jabatan yang baik, atau berbagai fasilitas hidup. Fokus yang berlebihan pada pencapaian eksternal membuat kebahagiaan menjadi bergantung pada hal-hal yang terus berubah. 

Pesan QS. Al-Hadid: 20 sangat relevan dengan konsep tersebut. Ayat ini menggambarkan bahwa manusia cenderung terjebak dalam permainan kebanggaan, persaingan status, dan perlombaan memperbanyak harta. Al-Qur’an tidak melarang manusia bekerja keras atau meraih kesuksesan, tetapi mengingatkan agar pencapaian duniawi tidak menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan. Ketika kebahagiaan hanya bergantung pada materi dan pengakuan sosial, seseorang akan sulit merasa cukup karena selalu muncul target baru yang ingin diraih.

Menurut perspektif psikologi, salah satu cara untuk keluar dari siklus hedonic treadmill adalah dengan menumbuhkan rasa syukur (gratitude) dan kepuasan terhadap apa yang dimiliki. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa individu yang terbiasa bersyukur memiliki tingkat kesejahteraan psikologis yang lebih tinggi dan tidak mudah terjebak dalam perlombaan tanpa akhir untuk memperoleh lebih banyak. 

Melalui QS. Al-Hadid: 20, Al-Qur’an mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada banyaknya kepemilikan, melainkan pada kemampuan menempatkan dunia secara proporsional. Ketika seseorang menjadikan dunia sebagai sarana, bukan tujuan akhir, ia akan lebih mudah merasakan ketenangan, bersyukur atas nikmat yang dimiliki, dan terbebas dari siklus ketidakpuasan yang terus berulang.

Penutup

Hedonic treadmill menunjukkan bahwa kebahagiaan yang hanya bergantung pada pencapaian duniawi cenderung bersifat sementara dan mendorong manusia untuk terus mengejar kepuasan yang tidak berujung. Melalui QS. Al-Hadid [57]: 20, Al-Qur’an mengingatkan agar manusia tidak terjebak dalam perlombaan kebanggaan dan materi, tetapi membangun kebahagiaan yang berlandaskan syukur, qana’ah, dan orientasi hidup kepada Allah. Dengan demikian, seseorang dapat menikmati nikmat dunia tanpa kehilangan ketenangan batin dan tujuan hidup yang hakiki. Wallahu A’lam.

Saibatul Hamdi, M.Pd., Guru Al-Qur’an Hadis MTsN Seruyan dan Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang Saibatul Hamdi, M.Pd.? Silakan Klik disini