Hari raya kurban atau idul adha merupakan momen Istimewa yang sarat hikmah didalamnya. Jika kita mau memaknainya, idul adha tidak hanya sekedar seremonial yang dilewati begitu saja, namun sejatinya terdapat pelajaran berharga yang mengingatkan kita pada tujuan hidup di dunia, yakni meraih Ridha Allah Swt. Tujuan ini sering terlupakan karena sifat ke-Aku-an yang tidak kita sadari karena ‘merasa’ sudah melakukan dan ‘memiliki’ banyak hal. Ke-Aku-an yang membuat manusia merasa lebih baik, lebih tinggi, lebih kuat, lebih pintar, lebih banyak ibadahnya, dan lebih lainnya hingga memandang rendah orang lain daripada dirinya. Sifat ‘Aku’ inilah yang menyebabkan Iblis tidak mau menjalankan perintah Allah Swt saat diperintahkan untuk bersujud kepada Nabi Adam as (QS. Shad ayat 75-76)
Idul adha, mengingatkan kita pada satu peristiwa besar, yakni kisah Nabi Ibrahim As. dengan putera yang sangat dicintainya, Nabi Ismail As. Rasa sayang Nabi Ibrahim kepada sang putera, Allah uji dengan perintah yang sangat berat. Kisah masyhur ini terekam dalam Al-Qur`an surah As-Saffat ayat 102-105;
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105)
“Maka ketika anak itu sampai (pada usia) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Dia (Ismail) menjawab: ‘Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’. Maka ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya (untuk disembelih), lalu Kami memanggilnya: ‘Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.’ Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. As-Saffat [37]: 102–105)”
Prof. Dr. Quraish Shihab dalam tafsirnya mengatakan, jawaban Nabi Ismail `If’al maa tu`mar (laksanakan apa yang diperintahkan), bukan berkata “Sembelihlah aku!” mengisyaratkan sebab kepatuhannya, cara dan kandungan apa yang diperintahkan-Nya, makai a sepenuhnya pasrah. Dan ucapan Nabi Isma’il Satajidunii Insya Allahu min ash-Shabiriin (engkau akan mendapatiku insya Allah termasuk orang yang sabar), dengan mengaitkan kesabarannya dengan kehendak Allah, sambil menyebut terlebih dahulu kehendak-Nya, menunjukkan betapa tinggi akhlak dan sopan santun sang anak kepada Allah Swt.
Gejolak perasaan yang dialami oleh Nabi Ibrahim tidaklah mudah, apalagi penantian akan hadirnya buah hati tidaklah sebentar. Dan tatkala sang Putera tumbuh remaja, Allah memberikan perintah kepadanya untuk menyembelih Putera yang sangat dicintainya. Namun dengan penuh ketaatan, Nabi Isma’il tidak merasa berat ataupun ragu sedikit pun agar sang ayah melaksanakan perintah Allah tersebut. Indahnya akhlak sang anak menggambarkan ketauhidan yang diajarkan sang ayah telah meresap ke dalam jiwanya.
Dari kisah ini, maka kita dapat mengetahui bahwa penyembelihan Nabi Ismail yang pada akhirnya diganti Allah dengan domba adalah bentuk penghambaan dengan keimanan yang sangat tinggi dan teguh. Nabi Ibrahim mampu melepaskan diri dari rasa kepemilikan terhadap sang Putera, begitu pula Nabi Ismail yang memahami bahwa semuanya adalah milik Allah bahkan dirinya sendiri. Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu) dan disisi Allah pahala yang besar” (QS. At-Taghabun ayat 15).
Dalam kehidupan, kita senantiasa dihadapkan oleh beragam ujian untuk mengasah sejauh mana tingkat keimanan kita kepada Allah Swt. Ritual ibadah dengan tingkat spiritual yang dimiliki terkadang tidak seimbang. Kesenjangan ini disebabkan lalainya manusia dari rasa ke-Aku-an yang menggerogoti diri. Oleh karena itu, hari raya Idul Adha mengajak kita agar kembali membersihkan diri dari sifat-sifat ke-Aku-an ini. Sebagaimana Nabi Ibrahim menyembelih Nabi Isma’il—sejatinya beliau terlepas dari rasa kepemilikan kepada puteranya—begitu pun kita belajar melepaskan diri dari rasa memiliki terhadap apapun yang sejatinya bukan milik kita dengan memperbaiki diri untuk meraih Ridha Allah Swt. Allahu A’lam.
Nurhikmatul Maulia, Lc., S.Ag., Ustadzah di Cariustadz
Tertarik mengundang Nurhikmatul Maulia, Lc., S.Ag.? Silakan Klik disini