Bayangkan seorang ibu yang menyodorkan ponsel agar anaknya berhenti rewel. Rumah pun tenang. Namun di balik ketenangan itu, ada waktu belajar, bercakap, dan meneladani yang terlewat. Al-Qur’an mengajarkan agar orang tua hadir, sabar, dan menjadi contoh, karena hal itu menjadi tarbiyah yang sesungguhnya.
Kata tarbiyah berasal dari rabba-yurabbi-tarbiyatan, dan seakar dengan kata Rabb, salah satu nama Allah. Ar-Raghib al-Asfahani dalam kitab Mufradat menjelaskan bahwa tarbiyah artinya menumbuhkan sesuatu sedikit demi sedikit sampai mencapai kesempurnaannya. Al-Baidhawi dalam tafsirnya menjelaskan hal yang mirip. Jadi, tarbiyah punya dua unsur yaitu yang bersifat bertahap (syai’an fasyai’an) dan menuju kesempurnaan (ila kamalih).
Kedua unsur ini membutuhkan orang yang setia mendampingi dari tahap ke tahap.
Al-Qur’an memakai akar kata ini untuk menggambarkan pengasuhan orang tua:
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“…dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku (rabbayani) pada waktu kecil.'” (QS. Al-Isra’: 24)
Kata rabbayani shaghira menunjukkan pengasuhan yang dimulai sejak kecil, berlangsung terus-menerus, dan penuh kasih sayang. Kata yang sama juga muncul ketika Fir’aun berkata kepada Musa, “Bukankah kami telah mengasuhmu (nurabbika) di antara kami waktu engkau masih kanak-kanak?” (QS. Asy-Syu’ara’: 18).
Dari dua ayat ini, terlihat bahwa tarbiyah dan pola pengasuhan anak diukur dari arah dan niat kehadiran orang tua.
Bentuk Kehadiran yang Applicable
Kehadiran yang dimaksud oleh konsep tarbiyah dapat diterjemahkan dalam bentuk yang sederhana namun konsisten. Pertama, kesabaran mendampingi tahap demi tahap seperti duduk bersama anak yang sedang kesal, alih-alih langsung mengalihkan perhatiannya, sehingga anak belajar bahwa emosinya boleh ada dan bisa dilalui bersama orang tua.
Kedua, keteladanan orang tua yang ingin anaknya jarang memegang gawai perlu terlebih dahulu menunjukkan bagaimana rasanya hidup tanpa terus-menerus menatap layar, karena anak belajar lebih banyak dari apa yang dilihatnya daripada apa yang didengarnya.
Ketiga, mengisi ruang yang selama ini diisi gawai dengan interaksi manusiawi yang sederhana. Ini bisa dilakukan dengan cara bercerita, bertanya tentang hari anak, bermain tanpa alat, atau sekadar hadir secara utuh tanpa terbagi perhatian. Ini semua tidak butuh keahlian khusus, hanya membutuhkan kesediaan untuk hadir secara konsisten persis seperti makna syai’an fasyai’an.
Dengan demikian, menjadi orang tua di zaman gawai bersifat penting dan mendesak untuk memastikan bahwa kehadiran fisik tetap menjadi yang utama. Sebab kelak, seperti doa yang diajarkan dalam QS. Al-Isra’ ayat 24, anak akan mengenang seberapa penuh orang tuanya hadir saat mereka kecil dan bertumbuh.
Ilya Syafa’atun Ni’mah, M.Ag., KUMI., Alumni Bayt Al-Qur’an dan Ustadzah di Cariustadz.id
Tertarik mengundang ustadz Ilya Syafa’atun Ni’mah, M.Ag., KUMI.? Silahkan klik disini