Islam mengajarkan bahwa banyak perkara yang dapat membuat derajat seorang hamba menjadi lebih tinggi. Di antaranya adalah dengan belajar sehingga menjadi berilmu (QS. al-Mujadalah: 11), lebih-lebih bagi mereka yang dapat mengamalkan ilmunya.
Namun, realitas hidup serta fitrah manusia membuat mereka berbeda satu dengan yang lain dalam masalah kuantitas dan kualitas ilmu serta ibadah. Ada yang sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, sehingga tidak memiliki banyak waktu untuk belajar. Ibadah pun ditunaikan sekadarnya. Di sisi lain, ada yang memiliki waktu dan kesempatan lebih banyak untuk belajar, tetapi kecakapan otaknya lambat dalam memahami pelajaran.
Untungnya, Islam memiliki banyak pintu kebaikan yang dapat dimasukan oleh hamba, sehingga tetap dapat merasakan nikmatnya kemurahan hati Tuhan. Dalam hal ini, Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya-nya (kitab Riyadh al-nafs wa Tahdzib al-Akhlaq… jil. 3, hal. 52) mengutip perkataan Imam al-Junaid:
أربع ترفع العبد إلى أعلى الدرجات وإن قل عمله وعلمه الحلم والتواضع والسخاء وحسن الخلق وهو كمال الإيمان
“Empat hal yang dapat mengangkat seorang hamba menuju derajat yang paling tinggi, walau amal dan ilmunya sedikit. (Yaitu) sabar/murah hati, rendah hati, dermawan, dan akhlak yang baik. Itulah kesempurnaan iman.”
Al-Hilm: Kesabaran dan Kemurahan Hati
Allah Swt. berfirman:
“Orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134).
Al-hilm bukan sekadar kesabaran dalam menghadapi kesulitan, melainkan juga kemampuan mengendalikan diri ketika menghadapi sesuatu yang memancing kemarahan. Seseorang mungkin memiliki alasan untuk marah, merasa tersinggung, atau membalas perlakuan buruk orang lain. Namun, ia memilih untuk tidak terburu-buru bertindak berdasarkan emosinya.
Sikap ini membutuhkan kekuatan jiwa. Tidak semua orang mampu menahan perkataan ketika dihina atau tetap bersikap tenang ketika menghadapi perbedaan pendapat. Padahal, kemampuan mengendalikan diri dapat mencegah perselisihan yang lebih besar dan menjaga hubungan baik antarmanusia.
Karena itu, seseorang yang tidak memiliki banyak kesempatan untuk memperbanyak ibadah atau mendalami ilmu tetap dapat menghiasi kehidupannya dengan kesabaran. Ia belajar menerima kekurangan orang lain, tidak mudah terpancing emosi, dan memberi kesempatan kepada sesama untuk memperbaiki kesalahan. Kesabaran semacam ini bukan kelemahan, melainkan tanda kematangan iman.
Al-Tawadhu`: Kerendahan Hati
Rasulullah saw. bersabda:
“Tidaklah seseorang merendahkan hati karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim).
Kerendahan hati berarti menyadari bahwa segala kelebihan yang dimiliki merupakan karunia Allah, bukan alasan untuk merasa lebih mulia daripada orang lain. Orang yang rendah hati tidak menjadikan ilmu, jabatan, kekayaan, ataupun kedudukan sosial sebagai alat untuk merendahkan sesamanya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kerendahan hati dapat diwujudkan melalui kesediaan mendengarkan nasihat, mengakui kesalahan, menghargai pendapat orang lain, serta tidak malu belajar dari siapa pun. Orang berilmu tetap bersedia menerima kebenaran, sedangkan orang yang memiliki kedudukan tinggi tidak merasa terlalu terhormat untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Sikap ini juga mengingatkan kita agar tidak mengukur kemuliaan seseorang hanya berdasarkan banyaknya pengetahuan atau amal yang tampak. Bisa jadi, seseorang yang sederhana memiliki ketulusan dan kerendahan hati yang tidak kita ketahui. Dengan demikian, tawadhu menjaga seseorang dari kesombongan sekaligus menjadikan dirinya lebih mudah menerima kebenaran
Al-Sakha’: Kedermawanan
Allah Swt. berfirman:
“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali ‘Imran: 92).
Kedermawanan sering kali dipahami sebatas memberikan uang atau harta kepada orang lain. Padahal, kemurahan hati dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk pemberian sesuai dengan kemampuan masing-masing. Seseorang yang memiliki harta dapat membantu kebutuhan orang lain, sedangkan seseorang yang hidup sederhana tetap dapat berbagi melalui tenaga, waktu, perhatian, atau pengetahuan yang dimilikinya.
Tidak semua orang mampu bersedekah dalam jumlah besar. Namun, nilai kebaikan tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya pemberian, melainkan juga oleh keikhlasan dan kemampuan seseorang dalam berbagi. Bahkan, bantuan sederhana yang diberikan ketika orang lain benar-benar membutuhkan dapat memiliki arti yang besar bagi penerimanya.
Kedermawanan juga melatih manusia agar tidak terikat secara berlebihan pada kepentingan dirinya sendiri. Ia belajar memahami kesulitan orang lain dan menyadari bahwa rezeki bukan hanya untuk dinikmati sendiri, melainkan juga dapat menjadi jalan menghadirkan manfaat. Dengan demikian, keterbatasan harta tidak seharusnya menjadi penghalang untuk menumbuhkan jiwa yang dermawan.
Husn al-Khuluq: Akhlak yang Baik
Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Akhlak yang baik merupakan cerminan keimanan yang hadir dalam hubungan sehari-hari. Ia tampak dalam kejujuran ketika berbicara, kesantunan ketika menyampaikan pendapat, kesungguhan menepati janji, serta kepedulian terhadap orang-orang di sekitar. Akhlak tidak hanya terlihat ketika seseorang berhadapan dengan orang yang dihormati, tetapi juga ketika ia berinteraksi dengan orang yang tidak memiliki kedudukan atau kepentingan baginya.
Seseorang mungkin belum menguasai banyak ilmu agama atau belum mampu melakukan berbagai amalan sunah. Namun, ia tetap dapat berusaha menjaga lisannya agar tidak menyakiti, memenuhi amanah yang diberikan, menghormati tetangga, dan memperlakukan keluarga dengan baik. Hal-hal yang tampak sederhana ini justru menjadi bagian penting dari pengamalan agama dalam kehidupan nyata.
Tentu saja, akhlak yang baik bukan pengganti kewajiban menuntut ilmu dan menjalankan ibadah. Sebaliknya, akhlak merupakan bagian dari kesempurnaan pengamalan keduanya. Ilmu seharusnya membimbing perilaku, sedangkan ibadah semestinya menumbuhkan kebaikan dalam hubungan dengan sesama manusia.
Empat perkara yang disebutkan Imam al-Junaid tersebut memberikan pelajaran bahwa jalan menuju kemuliaan tidak hanya terbuka bagi mereka yang memiliki banyak ilmu, harta, atau kesempatan beribadah. Kesabaran, kerendahan hati, kedermawanan, dan akhlak yang baik juga merupakan pintu kebaikan yang dapat diusahakan oleh setiap orang sesuai dengan kemampuannya.
Namun, pesan ini bukanlah alasan untuk berhenti belajar, mengurangi ibadah, atau merasa cukup dengan keadaan diri. Justru, keterbatasan seharusnya mendorong kita untuk menemukan jalan kebaikan yang dapat dilakukan, sembari terus memperbaiki kualitas ilmu dan amal. Sebab, setiap orang memiliki kesempatan untuk bertumbuh, meskipun langkah dan kecepatannya berbeda.
Pada akhirnya, kita tidak perlu menunggu menjadi orang paling berilmu atau paling banyak beramal untuk mulai memperbaiki diri. Kita dapat memulainya dengan menahan amarah, mengakui kesalahan, berbagi sesuai kemampuan, dan memperlakukan sesama dengan baik. Bisa jadi, melalui amalan-amalan yang tampak sederhana itulah Allah membukakan jalan menuju derajat yang lebih tinggi.
Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag., Penyuluh Agama Islam Kotabaru dan Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang Taufik Kurahman, S.Ag., M.Ag.? Silakan Klik disini