Emotional Spillover dalam Pendidikan: Ketika Masalah Rumah Ikut Masuk Kelas

Emotional spillover adalah kondisi ketika emosi yang muncul dalam satu situasi atau lingkungan kehidupan terbawa ke situasi lainnya. Berkaitan dengan kehidupan seorang guru, emotional spillover dapat terjadi ketika persoalan, tekanan, atau konflik yang dialami di rumah tanpa disadari memengaruhi suasana hati dan cara merespons murid di sekolah. Guru yang sedang menghadapi masalah keluarga, misalnya, mungkin menjadi lebih mudah tersinggung, kurang sabar, atau lebih sensitif ketika menghadapi perilaku murid di kelas.

Kondisi tersebut sebenarnya sangat manusiawi. Guru bukanlah manusia yang terbebas dari persoalan kehidupan. Sebelum memasuki ruang kelas, seorang guru mungkin telah menghadapi masalah keluarga, tekanan pekerjaan, kelelahan, maupun persoalan lainnya. 

Kondisi emosional guru menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Emosi guru dapat memengaruhi kualitas interaksi dengan murid dan suasana emosional di kelas. Karena itu, kemampuan mengenali dan mengelola emosi bukan hanya penting bagi kesejahteraan guru, tetapi juga menjadi bagian dari tanggung jawab seorang pendidik.

Islam memberikan perhatian terhadap kemampuan manusia dalam mengendalikan emosi, khususnya kemarahan. Allah berfirman dalam QS. Ali ‘Imran [3]: 134:

…. وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ 

Terjemah:

  1. …. orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.

Tafsir QS. Ali ‘Imran [3]: 134 tentang Mengendalikan Amarah

Imam Al-Qurṭhubi menjelaskan bahwa al-kazimina al-ghayz menggambarkan orang-orang yang mampu menahan amarah ketika memiliki kesempatan untuk melampiaskannya. Menahan amarah bukan berarti tidak merasakan kemarahan, tetapi mampu mengendalikan dorongan tersebut agar tidak berubah menjadi tindakan yang merugikan orang lain (tafsir-qurthubi [Jilid 4]: 510).

Sementara itu, Prof. Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan bahwa menahan amarah merupakan bagian dari karakter orang-orang yang bertakwa. Kemampuan tersebut menunjukkan kekuatan jiwa dan kemampuan mengendalikan diri. Bahkan, ayat tersebut dilanjutkan dengan sikap memaafkan dan berbuat baik kepada orang lain (tafsir-al-munir-[Jilid 2]: 423).

Pesan tersebut sangat relevan bagi seorang guru. Guru boleh merasa marah, kecewa, sedih, atau lelah. Islam tidak menuntut manusia untuk kehilangan emosinya. Namun yang perlu dijaga adalah bagaimana emosi tersebut dikelola sehingga tidak mendorong seseorang melakukan tindakan yang tidak semestinya.

Ketika Emosi dari Rumah Terbawa ke Kelas

Bayangkan seorang guru yang sejak pagi menghadapi persoalan keluarga. Pikirannya masih dipenuhi masalah ketika memasuki ruang kelas. Ketika beberapa murid kemudian berbicara sendiri, perilaku yang sebenarnya biasa terjadi tiba-tiba terasa sangat mengganggu. Guru pun menegur dengan suara lebih keras daripada biasanya.

Keadaan inilah yang dapat memunculkan emotional spillover. Murid mungkin tidak mengetahui persoalan yang sedang dihadapi gurunya, tetapi mereka menerima dampak dari emosi tersebut. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat memengaruhi hubungan guru-murid dan suasana belajar di kelas.

Karena itu, guru perlu belajar mengenali kondisi emosionalnya sebelum memberikan respons. Pertanyaan sederhana seperti, “Apakah saya sedang marah karena perilaku murid, atau karena sebenarnya saya sedang membawa masalah lain?” dapat menjadi bentuk refleksi yang penting.

Penutup

Guru tidak harus datang ke sekolah tanpa masalah. Guru juga boleh lelah, sedih, kecewa, dan memiliki persoalan yang belum selesai. Namun, murid tetap memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan perlakuan yang baik. Karena itu, emotional spillover perlu disadari agar masalah dari satu ruang kehidupan tidak begitu saja tumpah ke ruang kehidupan yang lain.

Tidak semua emosi harus dibawa ke kelas, dan tidak semua masalah harus menjadi beban murid. Mengelola emosi bukan berarti menjadi guru yang sempurna, tetapi menjadi guru yang mampu berhenti sejenak sebelum bereaksi. Sebab, terkadang keteladanan seorang guru bukan terlihat dari bagaimana ia mengajar ketika semuanya baik-baik saja, melainkan dari bagaimana ia tetap mampu menjaga sikap ketika hatinya sendiri sedang tidak baik-baik saja. Wallahu A’lam.

Saibatul Hamdi, M.Pd., Guru Al-Qur’an Hadis MTsN Seruyan dan Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang Saibatul Hamdi, M.Pd.? Silakan Klik disini