Belakangan ini, Stres dan Trauma menjadi dua diksi yang cukup melekat dengan generasi muda. Entah, ucapan ini hanya sekedar ekspresi lelah menghadapi realita, atau memang benar-benar sedang dalam tekanan.
Riset kesehatan dasar pada 2018 menyampaikan jika 6,2% penduduk Indonesia berusia 15-24 mengalami depresi. Pada 2022 untuk usia 10-17 tahun, 5,5% diantaranya mengalami gangguan mental.
Terlebih kita perlu mengingat, stres dan trauma bukan semata-mata disebabkan oleh diri sendiri. Ada peran dari lingkungan sekitar, pengalaman masa lalu dan hal-hal lain yang dapat memicu. Termasuk di dalamnya adalah musibah yang kita tidak pernah bisa prediksi kapan waktu kedatangannya.
Dikutip melalui jurnal ilmiah psikologi, ada dua konsekuensi yang bisa kita terima dalam menghadapi tekanan stres. Pertama, Eustres yakni hasil dari respon terhadap stres yang bersifat positif, konstruktif dan sehat. Diantara hal baiknya ialah peningkatan kualitas diri dan kemampuan menghadapi tekanan. Kedua, Distres yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat tidak sehat, negatif dan mengarah pada hal-hal destruktif. Bukan tanpa alasan, ini merupakan konsekuensi dari penyakit sistemik dan tingkat ketidakhadiran (absenteeism) yang tinggi dan diasosiasikan dengan keadaan sakit, penurunan dan kematian.
Lalu bagaimana dengan trauma? ia merupakan reaksi emosional dan psikologis seseorang setelah mengalami peristiwa menyakitkan, menakutkan dan mengejutkan seperti kecelakaan, kekerasan, bencana ataupun pengalaman yang dirasa membawa luka pada jiwa. Gejalanya bisa berupa cemas berlebih, sulit mempercayai orang lain atau bahkan mati rasa secara emosi.
Dalam perjalanannya, stres dan trauma bisa mencapai level lebih meresahkan. Dikenal dengan istilah Post-Traumatic Stress Disorder atau PTSD; seseorang akan mengalami reaksi yang terus berlanjut dan menggangu produktivitas sehari-hari yang disebabkan oleh stres dan trauma.
Penelitian medis menyebutkan bahwa 5-10% populasi manusia pernah mengalami PTSD. Angka potensi terjadinya PTSD pada tiap individu dilaporkan mencapai 61-80% yang diantaranya karena kematian keluarga atau rasa sakit yang mengancam pada anak. Dalam data lain yang dinukil dari Uppsala Conflict Data Program (UCDP) bahwa rentang 1989 – 2019 sebanyak 227 juta manusia merupakan survivor PTSD
Mari kita telaah sejenak respon Al-Qur’an pada QS. Thaha: 124
وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى
Siapa yang berpaling dari peringatan-Ku (Dzikr), maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit. Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.”
Wahbah al-Zuhaili dalam Tafsir Munir menerangkan:
أَيْ وَ مَنْ أَدْبَرَ عَنْ دِيْنِي وَ تِلَاوَةِ كِتَابِي وَ الْعَمَلِ بِمَا فَيْهُ , فَإُنَّ لَهُ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا عَيْشًا ضَيِّقًا, وَ مَعِيْشَةً شَدِيْدَةً مُنْغَصَةً, إِمَّا بِشَحِّ الْمَادَّةِ وَ إِمَّا بِالْقَلَقِ وَالهُمُومِ وَالْأَمْرَاضِ
Dan barangsiapa berpaling dari agama-Ku dan tidak mau membaca Kitab Suci-Ku serta tidak mengamalkan kandungannya, maka di dunia ini dia akan hidup dalam kehidupan yang sempit dan sangat sulit, bisa jadi karena sedikitnya materi, atau karena kegelisahan, kekhawatiran, dan penyakit.
Melalui penjelasan Wahbah al-Zuhaili, sekiranya kita dapat mengambil beberapa poin terkait dzikir sebagai pelipur stres dan trauma:
Semoga Allah jaga kita semua dalam kebaikan dan keberkahan. Wallahu A’lam.
Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini