Pemangku jabatan tidaklah luput dari perhatian Al-Qur’an. Sebagai pemandu dan pegangan kehidupan orang-orang beriman, Al-Qur’an tidak meluputkan poin-poin penting yang membutuhkan perhatian intens. Salah satunya terkait jabatan dan amanah.
Sehingga, siapapun yang memangku jabatan; baik dari tingkat akar rumput sampai ke pusat Negara perlu menyadari betul adanya pertanggung-jawaban dihadapan Allah. Sepanjang-panjangnya hayat akan bertemu matinya juga, Sekuat-kuatnya tubuh-pun akan menemukan masa lemahnya. Mari renungi dua nasihat al-Qur’an yang terkandung dalam QS. Shad: 26
يٰدَاوٗدُ اِنَّا جَعَلْنٰكَ خَلِيْفَةً فِى الْاَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوٰى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَضِلُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيْدٌ ۢبِمَا نَسُوْا يَوْمَ الْحِسَابِ ࣖ
(Allah berfirman,) “Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah (penguasa) di bumi. Maka, berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan hak dan janganlah mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari Perhitungan.”
Nasihat Pertama: Allah yang menjadikanmu Khalifah
Nabi Daud adalah Nabi dan Rasul yang Allah kehendaki untuk menjadi raja. Melalui jalan ini pula Nabi Daud dicintai Allah. Ia menjalankan amanah dengan adil dan penuh kebijaksanaan. Sampai Al-Qur’an mengabadikannya dalam potongan QS. Shad: 25
وَاِنَّ لَهٗ عِنْدَنَا لَزُلْفٰى وَحُسْنَ مَاٰبٍ
“Sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang benar-benar dekat di sisi Kami dan tempat kembali yang baik.”
Bermula pada satu kenyataan bahwa Allah yang menjadikan khalifah, hendaknya bisa melahirkan kesadaran bahwa pada-Nya pula kita bertanggung-jawab. Laporan diatas kertas bisa dimanipulasi, sesama manusia dan petinggi bisa saling berkongsi, namun pada hari datangnya pertanggung-jawaban itu; mulut kita terkunci, tubuh kita lah yang akan bersaksi atas perilaku kita sendiri.
Dalam Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj, Wahbah al-Zuhaily menegaskan dengan satu tambahan hadis yang sangat menentuh hati. Hadis yang diriwayatkan At-Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud berkata:
نام رسول الله صلى الله عليه وسلم على حصير, فقام وقد أثر في جنبه, فقلنا: يا رسول الله لو اتخذنا لك؟ فقال: مالي وما للدنيا, ما أنا في الدنيا إلّا كراكب استظل تحت شجرة, ثم راح وتركها
“Rasulullah Saw tidur beralaskan tikar hashir (terbuat dari anyaman dedaunan). Lalu beliau terbangun dan tampak pada tubuh beliau ada bekas-bekas jejak tikar. Lalu kami berkata: wahai Rasulullah, bagaimana kalau kami sediakan alas tidur yang lembut untuk Anda? Lalu Rasulullah Saw bersabda: Apa urusanku dengan denia? Di dunia ini aku hanya semisal dengan seorang musafir yang istirahat dan berteduh sejenak di bawa sebuah pohon. Kemudia ia melanjutkan perjalanan dan meninggalkan pohon itu.”
Rasulullah sebagai pemimpin, mencontohkan gaya hidup yang sederhana dan jauh dari gelimang fasilitas.
Nasihat Kedua: Jangan Ikuti Hawa Nafsu Agar Tidak Tersesat
Bagian ini merupakan peringatan sekaligus wasiat Allah untuk penguasa agar benar-benar memutuskan perkara ataupun mengambil kebijakan baik infrastruktur, ekonomi ataupun program, harus dilakukan dengan sebijak mungkin. Sebab jika dalam hal ini kita menyimpang; efeknya kita akan jatuh pada kesesatan dari jalan Allah Swt. Juga kita seolah melupakan adanya hari perhitungan pada hari mendatang.
Mari kita renungi nasihat Rasulullah; Imam Ahmad menyampaikan dalam Musnad-nya; Menyampaikan hadits yang diriwayatkan oleh Abi Sa’id al-Khudriy; ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda:
إنّ أحب النّاس إلى الله يوم القيامة وأقربهم منه مجلسا, إمام عادل. وإنّ أبغض الناس إلى الله يوم القيامة وأشدهم عذابا, إمام جائر
“Sesungguhnya manusia yang paling dicintai Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya dengan-Nya adalah pemimpin yang adil. Dan sesungguhnya manusia yang paling dibenci Allah pada hari kiamat serta paling berat azabnya adalah pemimpin yang zalim.”
Semoga Allah berkahi kita dengan indahnya sifat amanah, dijauhkan dari buruknya perangai khianat. Wallahu A’lam.
Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini