Tahun ajaran baru adalah musim yang ditunggu-tunggu banyak orang, termasuk yang berstatus sebagai “orang tua”. Banyak orang tua yang mencari sekolah terbaik, mengikuti proses seleksi, membeli perlengkapan belajar, hingga rela mengeluarkan biaya yang tidak sedikit demi mendapatkan pendidikan yang dianggap berkualitas.
Apa yang dilakukan oleh orang tua adlah bagian dari ikhtiar terbaik. Namun, di balik semangat memilih sekolah, ada satu hal yang sering luput dari perhatian, yakni anggapan bahwa pendidikan anak baru dimulai ketika ia memasuki ruang kelas.
Padahal, jauh sebelum mengenal guru dan bangku sekolah, seorang anak terlebih dahulu belajar dari rumah. Cara orang tua berbicara, menyelesaikan masalah, hingga memperlakukan orang lain akan direkam oleh anak sebagai pelajaran pertama dalam hidupnya.
Dalam Islam, keluarga adalah pendidikan yang paling dasar. Keluarga disebut sebagai rumah. Rumah bukan sekadar tempat anak bertumbuh secara fisik, melainkan ruang pertama tempat nilai-nilai keimanan, akhlak, kebiasaan, dan karakter ditanamkan. Apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan di rumah menjadi fondasi bagi cara berpikir, bersikap, dan berperilaku di kemudian hari.
Salah satu gambaran tentang pendidikan dalam keluarga dapat ditemukan dalam kisah Luqman al-Hakim yang diabadikan dalam Al-Qur’an.
Allah Swt. berfirman:
وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.‘ (QS. Luqman: 13)
Ayat tersebut memperlihatkan bahwa pelajaran pertama yang diberikan Luqman kepada putranya bukanlah tentang membaca, berhitung, ataupun keterampilan hidup, melainkan tentang tauhid. Ini menjadi isyarat bahwa pendidikan dalam Islam tidak hanya bertujuan mencerdaskan akal, tetapi juga membentuk keimanan dan karakter.
Rumah adalah Madrasah Pertama
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang dikenal oleh seorang anak. Di sanalah ia belajar mengucapkan kata-kata pertamanya, mengenal kasih sayang, memahami aturan, hingga membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Peran tersebut tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh sekolah. Guru memang mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan, tetapi waktu kebersamaan anak dengan guru sangat terbatas. Sebaliknya, rumah menjadi tempat anak menghabiskan sebagian besar waktunya. Apa yang dilakukan orang tua setiap hari, mulai dari cara berbicara, menyelesaikan masalah, memperlakukan pasangan, hingga menjalankan ibadah, akan menjadi pelajaran yang diamati dan ditiru oleh anak.
Pendidikan yang diberikan orang tua tidak hanya mencakup aspek intelektual, tetapi juga pendidikan tauhid, akhlak, jasmani, dan pengembangan kemampuan berpikir. Sekolah berfungsi memperkuat proses tersebut, bukan menggantikan peran keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama.
Ketika Rumah Kehilangan Fungsinya sebagai Sekolah Pertama
Tidak sedikit orang tua yang merasa telah menjalankan tanggung jawabnya hanya dengan memenuhi kebutuhan materi atau menyekolahkan anak di lembaga pendidikan terbaik. Padahal, kehadiran secara fisik tidak selalu berarti hadir secara emosional.
Akibatnya, rumah perlahan kehilangan fungsinya sebagai tempat belajar yang paling utama. Anak lebih banyak belajar dari media sosial, tayangan digital, atau lingkungan pergaulan dibandingkan dari orang tuanya sendiri.
Mereka mungkin memperoleh banyak informasi, tetapi belum tentu mendapatkan teladan tentang kejujuran, kesabaran, tanggung jawab, dan kasih sayang. Padahal, nilai-nilai tersebut tidak cukup diajarkan melalui ceramah, melainkan harus hadir dalam kehidupan sehari-hari di tengah keluarga.
Di sinilah pentingnya menghidupkan kembali peran rumah sebagai madrasah pertama. Pendidikan bukan hanya terjadi ketika orang tua mengajari anak membaca atau mengerjakan pekerjaan rumah, tetapi juga ketika mereka meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita anak, salat berjamaah bersama, makan dalam satu meja, berdialog dengan penuh kasih sayang, dan memperlihatkan akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan-kebiasaan sederhana itulah yang kelak membentuk karakter anak jauh lebih kuat daripada sekadar nasihat yang sesekali disampaikan.
Kualitas pendidikan anak tidak hanya ditentukan oleh megahnya gedung sekolah atau tingginya biaya pendidikan yang dikeluarkan. Lebih dari itu, kualitas pendidikan sangat dipengaruhi oleh suasana yang dibangun di dalam rumah. Rumah yang dipenuhi kasih sayang, keteladanan, dan nilai-nilai keislaman akan melahirkan anak yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat iman dan mulia akhlaknya.
Itulah sebabnya Islam menempatkan keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama dan utama. Sekolah dapat mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi rumah membentuk kepribadian. Maka, marilah kita mulai pendidikan anak dari tempat yang paling dekat, yaitu rumah kita sendiri. Wallahua’lam.
Lailiyatun Nafisah, M.Ag., Ustadzah di Cariustadz.id
Tertarik mengundang Lailiyatun Nafisah, M.Ag.? Silakan Klik disini