Dalam kajian membumikan Al-Qur’an yang ke-37, Abi Quraish memaparkan terkait makna tadabbur Al-Qur’an. Penjelasan yang beliau sampaikan bersifat melengkapi dan menambahkan dari materi yang sebelumnya disampaikan oleh Dr. Muchlis Hanafi.
Beliau memulai dengan menjelaskan kata-kata yang berkaitan erat dengan proses interaksi seseorang dengan Al-Qur’an. mulai dari qira’ah, tilawah, tartil dan tadabbur. Setiap kata ini berbeda maknanya dan bertingkat. Qira’ah atau Iqra’ bisa terjadi walau seseorang hanya membacanya satu huruf. Lalu beliau mengutip ayat ke-20 dari QS. Al-Muzammil:
فَاقْرَءُوْا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْاٰنِۗ
Bacalah (ayat) Al-Qur’an yang mudah (bagimu)
Kemudian, Abi menjelaskan bahwa qira’ah ini berbeda dengan tilawah. kata ini berangkat dari تلا-يتلو-تلاوة yang artinya adalah mengikuti satu huruf dengan huruf yang lain, mengikuti pula satu kata dengan kata yang lain. Lalu Abi mengutip QS. Al-Ankabut: 45
اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Pada webinar, Abi hanya menambahkan penjelasan bahwa mengikuti bacaan dalam makna tilawah ini adalah mengamalkannya. Jadi proses tilawah ialam membaca-memahami dan mengamalkan.
Penjelasan tambahannya penulis kutip melalui Tafsir Al-Misbah yang menerangkan bahwa kata tilawah ini menegaskan jika objek bacaannya adalah sesuatu yang Agung dan suci atau benar. Adapun qira’ah lebih umum objeknya. mencakup yang suci maupun tidak suci. Baik yang kandungan bacaannya positif ataupun negatif. Sebab demikianlah QS. Al-Ankabut: 45 ini menggunakan kata utlu karena objeknya adalah wahyu.
Jika tartil maka maksudnya adalah membacanya dengan memperhatikan kaidah-kaidah bacaan. Berhenti dimana seharusnya berhenti dan memulai dimana seharusnya memulai. Sambil berusaha memperindah bacaan kita. Dengan tartil kita bisa memahami maksud ayat, jika tartilnya benar. Tapi jika waqaf-ibtidanya, madd dan qashrnya tidak tepat kita akan kehilangan makna dan maksudnya.
Tadabbur, ia merupakan puncak dari proses interaksi seseorang dengan Al-Qur’an. Sebab, tadabbur haruslah membawa dampak bagi mereka yang membaca Al-Qur’an. Abi mengutip perkataan Ibn Taimiyah: Seandainya saya menghadirkan dampak dari segala kegiatan saya, maka tidaklah saya berkegiatan kecuali membaca Al-Qur’an.
Karena, jika setiap orang memperhatikan dampak dari segala sesuatu yang dilakukannya niscaya ia akan mempunyai ilmu yang mempercepat dirinya sampai ke tujuan dan juga hati yang senantiasa mengarahkan.
Jika seseorang memperhatikan dampak buruk dari pembakaran hitan, maka ia tidak akan melakukannya. Juga dengan shalat kita, jika hanya masih pada sebatas gerakan tanpa melahirkan dampak, maka kita belum tergolong sebagai pribadi yang bertadabbur.
Lantas, apa perbedaan antara tafakkur dengan tadabbur? Tafakkur berkaitan dengan akal, tadabbur banyak berkaitan dengan hati. Ilmu berkaitan dengan akal dan kesadaran beragama terkait erat dengan hati. Ilmu mempercepat sampai ke tujuan tapi hati akan menentukan arah. dan apa yang ada dalam hati sulit dibatalkan, beda dengan ilmu yang bisa dibatalkan. Demikianlah mengapa tadabbur ditujukan pada hati. Bukan sekedar untuk memikirkan dan menafsirkan.
Sehingga, Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca dan didengarkan. Tapi juga harus diambil manfaat-manfaat darinya untuk kehidupan dan masyarakat. Jika tidak demikian, maka kita tak bedanya dengan seseorang yang memiliki unta, namun ia hanya tahu fungsi untuk ditunggangi. Padahal unta bisa diperah susunya dan dimanfaatkan untuk berbagai hal lainnya.
Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Pendiri Antassalam Institute dan Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini