Belajar Mengatasi Konflik Rumah Tangga dari Rasulullah Saw

Tahun 2024 menjadi momen viral atas konflik rumah tangga yang dialami sejumlah kalangan Masyarakat di Indonesia. Konflik ini ramai dibicarakan melalui media sosial dengan berbagai isu pasutri mulai dari miskomunikasi sampai perselingkuhan.

Mari kita berkaca pada kehidupan rumah tangga Rasulullah Muhammad saw yang bahkan tidak bisa dihindari perselisihan dengan salah satu istri nya, yaitu Sayyidah Aisyah RA. Namun, Rasulullah menunjukkan kebijaksanaannya dalam menyelesaikan konflik tersebut  melalui tangan mertua nya,  Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq. Dalam situasi ini, Abu Bakar menjadi penengah dan mulai bertanya siapa yang akan memulai berbicara, Rasulullah menawarkan Sayyidah Aisyah namun ia menolak. Ia menjawab, “Engkau saja dulu yang mulai berbicara, dan jangan berbicara kecuali perkataan yang benar”. Ucapan Sayyidah Aisyah membuat Abu Bakar marah, dan Aisyah lari pada Rasulullah lalu bersandar di dada nya sambil tersipu malu. 

Dari kisah tersebut, kita bisa melihat bagaimana aksi Nabi saat menghadapi konflik rumah tangga. Pertama, pasutri perlu menerapkan konsep Mubadalah (kesalingan). Konsep ini telah digagas oleh kyai Faqihuddin Abdul Qadir yang merujuk pada sumber Hadis Nabi ataupun Sirah Nabawiyyah tentang teladan rumah tangga Nabi dengan para istrinya yang  menerapkan couple goals. Dari kisah Nabi dan Sayyidah Aisyah saling memahami bahwa konflik ini adalah hal lumrah dan biasa terjadi diantara kita. 

Kedua, dalam menyelesaikan konflik, penting mengedepankan sikap bijaksana dan kasih sayang. Lihat bagaimana sikap Nabi yang tersenyum dan penuh ketenangan saat perkataan Sayyidah Aisyah tertuju padanya. Sikap Nabi sangat rasional dengan mengundang Abu Bakar untuk menciptakan suasana yang lebih kondusif dan mencari keadilan bagi kedua pihak. Karakter Nabi ini sering kita dengar melalui Firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Anbiya’ 107:


وَمَا أَرْسَلْنكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعلَمِيْنَ 

Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Ketiga, romantis. Sikap romantis menjadi salah satu cara agar cinta terus bersemi dalam sanubari hati. Identitas Nabi sebagai seorang Rasulul Amin tidak menghalanginya untuk berlaku romantis pada istrinya. Dalam kitab Shahih Muslim halaman 732, Sayyidah Aisyah mengungkap cerita Nabi Muhammad saw. suatu ketika menggigit daging bekas gigitannya Sayyidah dan minum dari bekas mulutnya itu.

Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa Nabi dan Sayyidah Aisyah saling mendukung dalam hal spiritual ataupun hiburan seperti jalan-jalan di malam hari sambil deep talk (berbincang-bincang). Tentunya romantis nya Nabi pada istrinya tidak kaku, senang bergurau sehingga terlihat gigi geraham nya. 

Demikianlah tips rumah tangga harmonis dari Nabi Muhammad saw. dan Sayyidah Aisyah. Jika memang suatu saat ada konflik, mungkin yang perlu dibenahi adalah sikap keduanya, bukan menyalahkan satu pihak atau disebarkan melalui Instagram. Wallahu A’lam.

Rifa Tsamrotus saadah,S.Ag, Lc, MA., Ustadzah di Cari Ustadz

Tertarik mengundang ustadz Rifa Tsamrotus saadah,S.Ag, Lc, MA.? Silahkan klik disini