Qanaah ditengah budaya Flexing di Media Sosial

Media sosial membuat kita semakin mudah melihat kehidupan orang lain. Hampir setiap hari kita disuguhi foto liburan, rumah baru, kendaraan, pakaian bermerek, hingga pencapaian yang dibagikan melalui berbagai platform digital. Apa yang dulu hanya bisa kita lihat dari lingkungan sekitar, kini dapat muncul di layar ponsel dalam hitungan detik. Tanpa disadari, kebiasaan melihat kehidupan orang lain tersebut dapat membuat seseorang terus membandingkan apa yang dimilikinya dengan apa yang dimiliki orang lain.

Fenomena flexing atau kebiasaan memamerkan kekayaan dan gaya hidup semakin memperkuat budaya tersebut. Ukuran kebahagiaan perlahan bergeser: memiliki barang terbaru dianggap sebagai tanda keberhasilan, mengikuti tren menjadi kebutuhan, dan kehidupan yang tampak mewah di media sosial seolah menjadi standar yang harus dicapai. Akibatnya, seseorang dapat merasa kurang bukan karena benar-benar kekurangan, tetapi karena terlalu sering melihat apa yang dimiliki orang lain.

Di tengah budaya semacam ini, Islam menawarkan satu sikap yang semakin penting untuk dirawat, yaitu qana’ah. Menurut bahasa Qana’ah artinya menerima apa adanya atau tidak serakah.( Sudarsono, Etika Islam : Tentang Kenakalan Remaja.57)  Sedangkan secara istilah ialah satu akhlak mulia yaitu menerima rezeki apa adanya dan menganggapnya sebagai kekayaan yang membuat mereka terjaga statusnya dari memintaminta kepada orang (Muhammad Fauki Hajjad, Tasawuf Islam dan Akhlak. terj. Kamran As‟ad Irsyady dan Fakhrin Ghozali;338-339). 

Pandangan lain dari Amin Syukur bahwa Qana’ah ialah menerimanya hati terhadap apa yang ada, walau sedikit, kemudian tidak lupa dibarengi dengan sikap aktif dan terus berusaha karena orang yang qana’ah akan menganggap cukup apa yang dipunya sebagai karunia dari Allah (Amin Syukur, Sufi Healing : Terapi dengan Metode Tasawu.62-63)

Qana’ah bukan berarti menolak bekerja keras atau berhenti mengejar cita-cita. Qana’ah adalah kemampuan untuk menerima dan merasa cukup atas apa yang Allah berikan, sembari tetap berusaha memperoleh kehidupan yang lebih baik. Dengan qana’ah, seseorang tidak menjadikan apa yang dimiliki orang lain sebagai ukuran kebahagiaannya.

Allah SWT., telah memberikan panduan cara ber qana’ah, di dalam Al-Qur’an QS. Thaha:131 dan QS Ibrahim”7

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِۦٓ أَزْوَٰجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

Artinya: “Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal”. (QS. Thaha:131)

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

Artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.(QS.Ibrahim.7)

Ayat ini bisa digunakan untuk menjelaskan bahwa qana’ah adalah belajar melihat dan mensyukuri apa yang sudah dimiliki.

Al-Qur’an tidak hanya mengingatkan manusia agar tidak terus-menerus memandang apa yang dimiliki orang lain, tetapi juga mengajarkan bagaimana seharusnya seseorang memandang apa yang telah dimilikinya. Setelah mengingatkan agar manusia tidak mengarahkan pandangan kepada berbagai kenikmatan yang diberikan kepada orang lain dalam QS. Thaha ayat 131, Al-Qur’an mengajarkan pentingnya bersyukur atas nikmat yang telah diterima. Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu” (QS. Ibrahim: 7).

Dua ayat tersebut memberikan pesan yang sangat relevan di tengah budaya flexing. Ketika seseorang terlalu sering melihat kehidupan orang lain, ia akan mudah merasa kurang. Sebaliknya, ketika ia belajar melihat kembali nikmat yang telah Allah berikan, tumbuh kesadaran bahwa kebahagiaan tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak harta yang dimiliki atau seberapa mewah kehidupan yang dapat ditampilkan kepada orang lain. Di sinilah qana’ah menemukan maknanya: bukan berhenti berusaha, melainkan belajar merasa cukup, menghargai nikmat yang ada, dan tidak menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran kebahagiaan diri.

Cara ber-Qana’ah di Media Sosial

Qana’ah bukan berarti seseorang harus berhenti memiliki keinginan atau cita-cita. Islam tidak melarang seseorang untuk bekerja keras, memiliki kehidupan yang layak, ataupun berusaha mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Qana’ah justru mengajarkan seseorang untuk tetap merasa cukup atas apa yang telah Allah berikan, sembari terus berusaha memperbaiki kehidupannya. Di tengah budaya flexing dan kebiasaan membandingkan diri melalui media sosial, sikap ini menjadi semakin penting untuk dimiliki.

Langkah pertama untuk melatih qana’ah adalah menerima dengan rela apa yang ada. Maksudnya sesuatu yang diberikan oleh Allah haruslah diterima dengan senang hati dan tidak mudah menggerutu, karena dalam qana‟ah sendiri sikap rela (ridha) tertera dalamnya. Berhenti menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran kebahagiaan. Media sosial membuat kita dapat melihat pencapaian orang lain setiap hari. Ketika melihat teman membeli rumah baru, kendaraan baru, berlibur ke luar negeri, atau memperoleh pekerjaan yang lebih baik, kita terkadang lupa bahwa apa yang ditampilkan di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain hanya akan membuat kita sibuk menghitung apa yang belum dimiliki dan melupakan berbagai nikmat yang telah diterima.

Karena itu, qana’ah perlu dibangun dengan membiasakan diri menghitung nikmat, bukan hanya menghitung kekurangan. Ketika keinginan untuk memiliki sesuatu muncul, seseorang dapat berhenti sejenak dan bertanya kepada dirinya sendiri: apakah sesuatu itu benar-benar dibutuhkan atau hanya muncul karena melihat orang lain memilikinya?. Pertanyaan sederhana ini dapat membantu seseorang membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Dengan demikian, seseorang tidak mudah terjebak dalam perilaku konsumtif hanya demi mengikuti tren atau mendapatkan pengakuan dari orang lain.

Qana’ah juga bukan alasan untuk berhenti berkembang. Seseorang tetap boleh memiliki cita-cita, meningkatkan pendidikan, mengembangkan pekerjaan, dan meningkatkan penghasilan. Perbedaannya terletak pada cara memandang hasil. Orang yang qanaah tidak menggantungkan kebahagiaannya pada seberapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan. Ia tetap berusaha, tetapi ketika mendapatkan hasil, ia mensyukurinya. Ketika belum mendapatkannya, ia tidak merasa dirinya lebih rendah daripada orang lain.

Di era media sosial, menjaga qana’ah juga berarti belajar memilih apa yang kita konsumsi setiap hari. Tidak semua hal yang muncul di layar harus diikuti dan tidak semua kehidupan orang lain harus dijadikan standar. Jika melihat konten tertentu membuat seseorang terus merasa kurang, iri, atau terdorong membeli sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan, maka mengurangi paparan terhadap konten tersebut merupakan bagian dari menjaga diri. Karena menjaga hati dari rasa tidak pernah cukup juga merupakan bagian dari upaya menjaga kehidupan agar tetap tenang dan bersyukur.

Pada akhirnya, qana’ah bukan tentang memiliki sedikit atau banyak, tetapi tentang bagaimana hati menyikapi apa yang dimiliki. Seseorang boleh memiliki harta yang banyak, tetapi tetap qanaah jika ia tidak diperbudak oleh hartanya. Sebaliknya, seseorang yang memiliki banyak hal dapat tetap merasa kekurangan jika hatinya selalu membandingkan diri dengan orang lain. Karena itu, di tengah dunia yang terus mengajak kita untuk memiliki banyak hal, qana’ah mengajarkan satu hal sederhana “belajar merasa cukup tanpa berhenti berusaha”.

Lailiyatun Nafisah, M.Ag., Ustadzah di Cariustadz.id

Tertarik mengundang Lailiyatun Nafisah, M.Ag.? Silakan Klik disini