Persatuan dikatakan menjadi modal sosial terbesar bagi kemajuan sebuah peradaban. Sebab tanpa adanya persatuan, perpecahan dan konflik akan selalu mengintai dan membayangi serta menunggu waktu yang tepat untuk datang.
Dalam konteks negara bangsa, persatuan sangat dibutuhkan dalam mewujudkan cita-cita yang diinginkan untuk memajukan peradaban dan kesejahteraan masyarakatnya. Tanpa persatuan, segala keinginan dan tujuan yang telah dicanangkan oleh sebuah negara bangsa hanya akan menjadi khayalan semu di siang hari. Maka dari itu, Islam membawa komitmen yang tinggi dalam menjaga persatuan sebagai bagian inti yang disampaikan dalam ajarannya.
Salah satu ajaran Islam yang hadir sebagai mediator dalam menjaga persatuan di tengah umat ialah silaturahmi. Secara bahasa, silaturahmi merupakan istilah serapan dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata shilah yang bermakna hubungan, koneksi, relasi; dan raḥm yang dimaknai kasih sayang sebagaimana kata raḥmah.
Secara sederhana, silaturahmi dapat diterjemahkan sebagai sebuah aktivitas yang berupaya untuk terus mempertahankan hubungan, koneksi, relasi dengan sesama yang didasarkan pada raḥmah atau kasih sayang. Bahkan, di dalam al-Qur’an ditegaskan bahwa orang-orang yang mampu menjaga tali silaturahmi dikelompokkan ke dalam golongan ūlūl albāb (kaum beriman yang menggunakan kemampuan akalnya). Sebagaimana dijumpai dalam Q.S. al-Ra’d [13]: 19:
وَالَّذِيْنَ يَصِلُوْنَ مَآ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ اَنْ يُّوْصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُوْنَ سُوْۤءَ الْحِسَابِ ۗ
Orang-orang yang menghubungkan apa yang Allah perintahkan untuk disambungkan (seperti silaturahmi), takut kepada Tuhannya, dan takut (pula) pada hisab yang buruk.
Melalui ayat ini, terlihat jelas bahwa al-Qur’an tidak hanya sekedar menjadikan silaturahmi sebagai upaya merekatkan kohesi sosial, tapi juga bagian dari aktualisasi keimanan. Narasi yang sama juga dipertegas dalam hadis-hadis Rasulullah SAW., seperti halnya riwayat berikut:
مَن كانَ يُؤْمِنُ باللَّهِ واليَومِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، ومَن كانَ يُؤْمِنُ باللَّهِ واليَومِ الآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ، ومَن كانَ يُؤْمِنُ باللَّهِ واليَومِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أوْ لِيَصْمُتْ (ومَن كانَ يُؤْمِنُ باللَّهِ واليَومِ الآخِرِ فلا يُؤْذِ جارَهُ)
Barangsiapa yang beriman kepada Allah Swt. dan hari Akhir hendaknya ia memuliakan tamunya, menyambung silaturahim, berkata yang baik atau hendaknya diam jika tidak mampu bertutur yang etis, serta tidak menyakiti tetangganya.
Ajaran silaturahmi sekaligus mempertegas identitas Islam sebagai agama yang menjadi rahmat bagi semesta alam (raḥmatan lil ‘ālamīn). Sebuah karakter yang dinyatakan langsung dalam al-Qur’an pada Q.S. al-Anbiya’ [21]: 107:
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Ayat ini menginformasikan bahwa Nabi Muhammad SAW. merupakan perwujudan fisik dari raḥmah itu sendiri dan sekaligus merupakan bentuk aktual dari ajaran al-Qur’an. Sebagaimana jawaban Sayyidah ‘Aisyah ra. ketika ditanya oleh para sahabat mengenai akhlak Rasulullah SAW. dalam riwayat berikut:
يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ، أَنْبِئِينِي عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَتْ: أَلَسْتَ تَقْرَأُ الْقُرْآنَ؟ قُلْتُ: بَلَى، قَالَتْ: فَإِنَّ خُلُقَ نَبِيِّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ الْقُرْآنَ.
Wahai Ummul Mu’minīn, coba beritahukan aku bagaimana akhlak Rasulullah SAW.; lalu ‘Aisyah ra. balik bertanya: tidakkah kamu membaca al-Qur’an?; sahabat menjawab: iya, tentu; Maka dilanjutkan oleh ‘Aisyah ra.: sesungguhnya akhlak Nabiyullah Muhammad ialah al-Qur’an itu sendiri. (HR. Muslim)
Riwayat yang bersumber dari percakapan sahabat ra. dan ummul mu’minīn menunjukkan bahwa ketika meneladani Nabi Muhammad SAW., sama halnya dengan mengaktivasi nilai-nilai al-Qur’an ke dalam hidup kita. Utamanya ketika umat Islam mampu menjadi pewaris Rasulullah yang mampu menampilkan Islam sebagai agama yang membawa kasih sayang bagi semesta alam.
Kasih sayang dalam interaksi sosial menjadi fondasi bagi tercapainya persatuan dan terwujudnya persatuan menjadi modal penting bagi kemajuan peradaban. Dengan demikian, silaturahmi dalam pengertian ini menjadi sangat penting keberadaannya di tengah kehidupan umat manusia.
Silaturahmi menjadi perekat terbaik bagi keberlangsungan persatuan dalam suatu bangsa dan sekaligus menjaganya dari potensi konflik yang bisa saja terjadi di tengah pluralitas manusia terutama pada konteks masyarakat Indonesia.
Dalam Q.S. al-Hujurat [49]: 13:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.
Allah SWT. menerangkan bahwa heterogenitas latar belakang manusia merupakan sesuatu yang niscaya atau sunnatullah, dan cara untuk menyikapinya ialah melalui ta‘āruf (saling kenal-mengenal satu sama lain). Dalam konteks berbangsa dan bernegara, ta‘āruf yang dilakukan harus juga dilengkapi dengan silaturahmi. Sebab dengan itu, perkenalan yang terjadi tidak hanya formalitas belaka namun juga diikuti dengan aktualisasi interaksi yang memiliki tendensi keimanan berupa raḥmah atau kasih sayang.
Bukankah melalui silaturahmi, umat Islam tidak hanya mendapatkan nuansa persaudaraan (ikhwah) yang dirajut oleh raḥmah (kasih sayang), namun juga keberkahan berupa perpanjangan umur serta kelapangan rezeki, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW.:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Siapa saja yang mendamba agar dilapangkan rezekinya serta dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi (HR. Bukhari – Muslim).
Alif Jabal Kurdi, S.Ag., M.A., Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang Alif Jabal Kurdi, S.Ag., M.A.? Silakan klik disini