Pernahkah kita merasa sulit menerima dan bersikap defensif saat diperingati tentang kebaikan? atau bahkan, kita dengan mudahnya membantah peringatan dan ajakan kebaikan dari manusia lain. Sekalipun, bantahan dan sanggahan yang kita utarakan juga dilandasi alasan yang “benar.”
Sifat manusia ini, bukanlah hal yang mengejutkan. Sebab dari jauh-jauh hari Al-Qur’an sudah memperingati lewat QS. Al-Kahfi: 54
وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِيْ هٰذَا الْقُرْاٰنِ لِلنَّاسِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍۗ وَكَانَ الْاِنْسَانُ اَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا
“Sungguh, Kami telah menjelaskan segala perumpamaan dengan berbagai macam cara dan berulang-ulang kepada manusia dalam Al-Qur’an ini. Akan tetapi, manusia adalah (makhluk) yang paling banyak membantah.”
Tidak berhenti pada sebuah ayat, Mari kita perdalam dengan menelusuri penjelasan dari ‘Imaduddin Abi al-Fida Isma’il ibn Katsir (w. 774H) dalam kita Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim:
ولقد بيّنّا للنّاسِ في هذا القرآنِ, ووضحنَا لهمُ الأمورُ, وفصّلناها كي لايضلوا عن الحقّ ويخرجوا عن طريقِ الهُدى, ومع هذا البيان, وهذا الفرقان, الإنسان كثير المجادلة والمخاصمة, والمعارضة للحق بالباطل, إلّا من هدى الله وبصره لطريق النجاة
“Sungguh, telah kami jelaskan apa-apa yang ada dalam Al-Qur’an ini, telah kami terangkan juga berbagai perkara dan merincikan yang di dalamnya. Agar mereka tidak tersesat dari kebenaran dan tidak keluar dari petunjuk. Meskipun demikian jelas penjelasan dan penegasan dalam Al-Qur’an; manusia tetap banyak berdebat, berselisih dan menentang kebenaran dengan kebatilan. Kecuali, mereka yang Allah beri petunjuk dan dibukakan pandangannya pada jalan keselamatan.”
Mari sama-sama kita tarik pembahasan ini pada ranah praktis. Supaya bisa lebih dipahami dan diterapkan pada hidup sehari-hari. Salah satu contohnya adalah ketika kita “ditegur” teman karena ucapan kita yang berlebihan dan dikhawatirkan menyakiti perasaan orang lain; lalu kita menjawab “ah, lagian dia tidak paham-paham. Padahal sudah dijelaskan”
Dalam kejadian lain, kita juga sering melakukan “pembenaran” atas tindakan kita dengan dalih; saya memang orangnya begini, kalau suka ya bagus, kalau tidak ya terserah. Padahal, bagi orang yang menyaksikan dan merasakan, tindakan kita memang kurang tepat untuk dilakukan.
Sekalipun dalam hati kecil kita membenarkan nasihat dan teguran dari orang lain, tapi diri kita melawan kebenaran itu karena dirasa tidak nyaman ketika harus berubah. Dalam sebuah hadis, Nabi memberikan percontohan terkait kasus-kasus serupa ini. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Husain bin ‘Ali bahwa ‘Ali bin Abi Thalib menceritakan:
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم طرقه وفاطمة بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم ليلة, فقال: ألا تصليان؟ فقلت يا رسول الله إنما أنفسنا بيد الله, فإذا شاء أن يبعثنا بعثنا. فانصرف حين قلت ذالك, ولم يرجع إليّ شيئا، ثم سمعته وهو مول يضرب فخذه يقول: و َكَانَ الْاِنْسَانُ اَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا. أجرجاه في الصحيحين
“Bahwa Rasulullah SAW mendatangi Ali dan Fatimah lalu beliau bertanya: Tidakkah kalian berdua bangun untuk shalat? Lalu Ali bin Abi Thalib menjawab: Wahai Rasulullah, sungguh jiwa kami berada pada genggaman Allah, Jika Dia menghendaki untuk membangunkan kami, maka Dia akan membangunkan kami. Maka Rasulullah SAW pun berpaling ketika aku mengatakan hal itu dan beliau tidak menanggapi apapun kepadaku. kemudia aku mendengar beliau saat berbalik sambil menepuk pahanya: beliau bersabda: Dan manusia itu adalah makhluk yang paling banyak membantah. Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.”
Potret sikap Ali pada kejadian ini, mewakilkan kita yang kerap kali “banyak alasan” jika diajak pada kebaikan. Maka, dengan pemaparan QS. Al-Kahfi: 54 dan juga kisah Rasul bersama Ali dan Fatimah ini, kita bisa ambil sebuah pelajaran; lakukanlah kebaikan sebaik yang kita bisa, jika kita belum mampu dan belum sanggup; maka kita yang perlu berusaha lebih keras lagi. Bukan malah menimbun alasan dan berargumen untuk melakukan sebuah “pembenaran”. Semoga Allah mudahkan kita dalam melakukan kebaikan. Wallahu A’lam
Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini