Makna Tersembunyi di Balik “Bismillahirrahmanirrahim”

Setiap hari, umat Islam mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim” berulang kali. Kalimat ini terasa sangat akrab, bahkan sering diucapkan tanpa berpikir panjang. Padahal, di baliknya tersimpan makna tentang kasih sayang Tuhan yang begitu dalam dan berlapis. Sejak kecil, banyak orang sudah terbiasa mengucapkan “Bismillah” sebelum melakukan apa pun. Sebelum makan, belajar, atau memulai aktivitas, kalimat ini menjadi pembuka. Ucapan ini terus diulang hingga dewasa, bahkan hingga akhir hayat. 

Namun justru karena terlalu sering diucapkan, maknanya sering kali lewat begitu saja.

Hal ini bukan berarti kebiasaan tersebut salah. Justru pengulangan adalah cara agar nilai-nilai agama tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya. Namun, di tengah dunia yang semakin kritis terhadap agama, memahami kembali makna dasar seperti ini menjadi penting. 

Tiga Kata yang Menggambarkan Sifat Tuhan

Kalimat “Bismillahirrahmanirrahim” terdiri dari tiga nama utama. Yang pertama adalah Allah. Kata ini tidak memiliki bentuk jamak, tidak juga memiliki jenis kelamin, dan bahkan tidak digunakan untuk selain Tuhan itu sendiri. Maka ketika seseorang memulai sesuatu dengan nama Allah, itu sama seperti mengaitkan dirinya dengan sesuatu yang mutlak dan tidak memiliki tandingan.

Al-Qur’an sendiri menegaskan keesaan ini dalam surah Al-Ikhlas: “Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa.” (QS. Al-Ikhlas: 1). Ayat ini menegaskan bahwa Allah adalah satu, tidak terbagi, dan tidak dapat disamakan dengan apa pun.

Dua nama berikutnya adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Keduanya berasal dari akar kata yang sama dalam bahasa Arab, yaitu r-h-m, yang juga berkaitan dengan kata “rahim”. Keduanya sama-sama berarti kasih sayang, tetapi tidak sepenuhnya sama. Ar-Rahman menggambarkan kasih sayang yang luas dan menyeluruh. Kasih sayang ini hadir untuk semua makhluk tanpa pengecualian. 

Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an bahwa “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A’raf: 156). Kasih sayang ini bisa dirasakan oleh siapa saja melalui kehidupan, rezeki, dan berbagai nikmat yang diberikan tanpa melihat latar belakang seseorang.

Sementara itu, Ar-Rahim memiliki makna yang lebih dalam dan berkelanjutan. Ia menggambarkan kasih sayang yang terus menyertai, terutama bagi orang-orang yang beriman. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa “Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 43). Ini menunjukkan bahwa ada bentuk kasih sayang yang lebih khusus, yang hadir dalam bentuk ampunan, petunjuk, dan harapan akan kebaikan di akhir.

Pemahaman tentang kasih sayang Tuhan juga diperkuat oleh hadis Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah hadis riwayat Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, Rasulullah bersabda bahwa “Sesungguhnya Allah membagi rahmat menjadi seratus bagian. Satu bagian diturunkan ke bumi, dengan itulah makhluk saling menyayangi. Sedangkan sembilan puluh sembilan bagian disimpan untuk hari kiamat.”

Hadis ini menunjukkan bahwa kasih sayang yang kita rasakan di dunia hanyalah sebagian kecil dari kasih sayang Tuhan yang sebenarnya.

Keistimewaan “Ar-Rahman” dan “Ar-Rahim”

Urutan Ar-Rahman dan Ar-Rahim dalam “Bismillah” juga terlihat unik dan istimewa. Dalam bahasa Arab, susunan kata memiliki makna. Dengan menyebut Ar-Rahman lebih dulu, lalu Ar-Rahim, terdapat pesan bahwa kasih sayang Tuhan yang luas datang lebih dahulu sebelum kasih sayang yang lebih khusus. Artinya, setiap manusia sudah berada dalam lingkup kasih sayang Tuhan sejak awal, bahkan sebelum melakukan apa pun.

Pemahaman ini menjadi penting, terutama di tengah anggapan bahwa agama sering kali bersifat eksklusif. Kalimat sederhana ini justru menunjukkan hal yang berbeda untuk menggambarkan Tuhan yang memulai hubungan dengan manusia melalui kasih sayang yang mencakup semua. Tentu saja, hal ini tidak berarti semua perbedaan dalam agama bisa diabaikan. Banyak persoalan tentang hukum, etika, dan kehidupan sosial yang tetap kompleks. 

Namun, setidaknya, memahami makna dasar seperti ini bisa menjadi titik awal untuk melihat agama dengan lebih jernih.

“Bismillahirrahmanirrahim” adalah bagian dari kehidupan sehari-hari alih-alih sebagai kalimat pembuka. Bahkan Al-Qur’an sendiri diawali dengan kalimat ini dalam surah Al-Fatihah: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.” (QS. Al-Fatihah: 1)

Dalam sebuah hadis, Rasulullah juga mengingatkan pentingnya memulai sesuatu dengan menyebut nama Allah, yang artinya adalah “Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan menyebut nama Allah, maka terputus keberkahannya.” (HR. Abu Dawud)

Mungkin, yang perlu dilakukan ialah berhenti sejenak untuk memahami. Bahwa setiap kali seseorang mengatakan “Bismillah” sama halnya sedang memulai sesuatu atas nama Tuhan yang sifat utamanya adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim, dengan makna yang berbeda, tetapi saling melengkapi.

Ilya Syafa’atun Ni’mah, M.Ag., KUMI., Alumni Bayt Al-Qur’an dan Ustadzah di Cariustadz.id

Tertarik mengundang ustadz Ilya Syafa’atun Ni’mah, M.Ag., KUMI.? Silahkan klik disini