Kita Mengingat Isra Mi‘raj Lima Kali Sehari

Isra Mi‘raj biasanya kita ingat setahun sekali. Ceramah di masjid, poster di media sosial, dan kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik menembus langit. Setelah itu, kita kembali ke rutinitas. Isra Mi‘raj pun berlalu seperti peringatan-peringatan lain.

Padahal, jika mau jujur, Isra Mi‘raj tidak pernah benar-benar pergi. Ia justru terus kita ingat, lima kali dalam sehari.

Dalam sejarah kenabian, hampir semua ajaran Islam turun melalui satu pola yang sudah kita kenal. Wahyu disampaikan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad di bumi. Al-Qur’an turun berangsur-angsur. Puasa, zakat, dan haji pun datang dengan cara yang sama. Pola ini normal, wajar, dan menjadi ciri kerasulan.

Namun shalat punya kisah yang berbeda.

Sholat tidak diturunkan ke bumi. Nabi-lah yang dipanggil naik ke langit. Dalam peristiwa Isra Mi‘raj, Nabi Muhammad tidak hanya menerima perintah, tetapi juga mengalami sebuah perjumpaan. Di sanalah sholat ditetapkan sebagai kewajiban umat Islam.

Apakah ini berarti ibadah lain kurang penting? Tentu tidak. Semua ibadah bersumber dari Allah. Bahkan Al-Qur’an adalah kalam Allah yang paling agung, meskipun disampaikan melalui perantaraan Jibril. Maka, jika dipahami secara teknis, tidak tepat mengatakan bahwa hanya sholat yang “langsung dari Allah”.

Tetapi dakwah tidak selalu berbicara dalam bahasa teknis. Kadang ia berbicara lewat cara sebuah perintah disampaikan.

Sholat ditempatkan dalam sebuah momentum yang tidak biasa. Sebuah perjalanan yang melampaui jarak, logika, dan kebiasaan manusia. Seolah Allah ingin menanamkan satu kesadaran bahwa: sholat bukan sekadar tambahan dalam hidup beragama, tetapi porosnya. Ia adalah ‘agama’ itu sendiri. 

Itu sebabnya sholat tidak hadir sebagai ritual tahunan, bulanan, atau mingguan. Ia datang lima kali sehari. Terlalu sering untuk disebut simbol, tetapi terlalu penting untuk dianggap rutinitas.

Menariknya, sholat pada awalnya diwajibkan lima puluh kali. Angka yang nyaris mustahil dijalani manusia. Hingga akhirnya diringankan menjadi lima waktu, tanpa mengurangi nilai pahalanya. Kisah ini sering kita dengar sebagai cerita keringanan. Padahal, di balik itu ada pesan lain yang lebih dalam.

Allah tahu manusia lemah, tetapi Allah juga tahu manusia butuh sering diingatkan.

Dan pengingat itu bernama shalat.

Maka berangkat dari sini, Isra Mi‘raj menjadi sangat relevan. Kita mungkin hanya memperingatinya setahun sekali, tetapi sesungguhnya kita sedang mengulang maknanya setiap hari. Setiap kali berdiri menghadap kiblat, kita sedang menapaki kembali makna perjalanan itu. Bukan dengan tubuh, melainkan dengan kesadaran.

Sholat adalah Isra Mi‘raj versi harian umat Islam.

Sayangnya, justru karena ia begitu dekat, kita sering meremehkannya. Kita menunda shalat dengan alasan sibuk, lelah, atau tanggung. Kita perlakukan ia seperti jeda, bukan perjumpaan. Padahal, perintahnya lahir dari momen paling agung dalam sejarah kenabian.

Dr. Muhammad Asgar Muzakki, M. Ag, Ustadz di Cariustadz.id

Tertarik mengundang Dr. Muhammad Asgar Muzakki, M. Ag? Silakan klik disini