Belajar dari Kisah Qarun: Cara Terbaik Menyikapi Perilaku “Flexing”

Flexing atau pamer menjadi fenomena yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Sebab, hari ini banyak dari kita yang senang memamerkan kepunyaan di hadapan banyak pasang mata. Mulai dari harta, jabatan, status sosial ataupun kekuatan yang sekiranya dapat mengundang rasa takjub dan validasi.

Efeknya, tidak sedikit dari pasang mata turut “ingin memiliki” atas apa yang mereka lihat. Sekalipun mereka mengerti; bahwa itu di luar batas kemampuan yang bisa diraih. Tak jarang, hal ini melahirkan pergeseran cara berpikir; mulai dari standar kebahagiaan yang berbasis materil sampai sikap yang rela “menghalalkan” segala cara demi mencapai tujuan yang diraih.

Al-Qur’an sebagai petunjuk dan penuntun jalan kehidupan manusia sejatinya sudah menuangkan kisah serupa ini, hanya saja tokoh dan waktu kejadiannya yang berbeda. Mari kita baca QS. Al-Qasas: 79:


فَخَرَجَ عَلٰى قَوْمِهٖ فِيْ زِيْنَتِهٖ ۗقَالَ الَّذِيْنَ يُرِيْدُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا يٰلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآ اُوْتِيَ قَارُوْنُۙ اِنَّهٗ لَذُوْ حَظٍّ عَظِيْم

Maka, keluarlah dia (Qarun) kepada kaumnya dengan kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, “Andaikata kita mempunyai harta kekayaan seperti yang telah diberikan kepada Qarun. Sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.”

Untuk mengenal Qarun lebih dekat, mari kita telusuri penjelasan Wahbah al-Zuhaily dalam Tafsir al-Munir:

{قارُونَ} هو قارون بن يصهر بن قاهث بن لاوى بن يعقوب عليه السلام. {مِنْ قَوْمِ مُوسى} كان ابن عمه؛ لأن موسى هو ابن عمران بن قاهث، وكان أيضا ابن خالته، وممن آمن به

Qarun adalah Qarun bin Yashhar bin Qahits bin Lawi bin Ya’qub ‘alaihissalam. Firman Allah, “termasuk dari kaum Musa”, menunjukkan bahwa Qarun adalah sepupu Nabi Musa, karena Musa adalah Musa bin Imran bin Qahits. Disebutkan pula bahwa Qarun juga merupakan sepupu dari jalur ibu (ibn khalah), dan pada awalnya termasuk orang yang beriman kepada Musa.

Perilaku pamer harta yang ditunjukkan Qarun, ini bukan dengan cara yang remeh, ia keluar bersama empat ribu orang dari pengikutnya yang berpakaian sutera dan berhias emas. Bahkan, kendaraan yang mereka tunggangi juga berhias emas. Sehingga mengundang  respon bagi yang melihat itu dengan berkata: Andaikata kita mempunyai harta kekayaan seperti yang telah diberikan kepada Qarun.

Realita Kehidupan

Melalui respon awal tadi kita melihat bahwa ini adalah gambaran kehidupan nyata. Tidak dapat dipungkiri ketika ada seseorang yang menunjukkan kemegahan dunia yang dia miliki secara “sementara” itu; banyak yang takjub dan bersikap demikian adanya. Anggap jika hari ini ada yang menunjukkan kepunyaan dan kebisaan melalui sosial medianya, lalu mengundang decak kagum.  

Namun untungnya, Allah SWT mengajarkan kita melalui respon kedua dari runtunan ayat yang menceritakan kisah ini:

وَقَالَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللّٰهِ خَيْرٌ لِّمَنْ اٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ۚوَلَا يُلَقّٰىهَآ اِلَّا الصّٰبِرُوْنَ

Orang-orang yang dianugerahi ilmu berkata, “Celakalah kamu! (Ketahuilah bahwa) pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. (Pahala yang besar) itu hanya diperoleh orang-orang yang sabar.”

Orang-orang yang dianugerahi ilmu ini adalah mereka yang senantiasa menautkan hatinya pada Allah Swt, senantiasa berpegang teguh pada firman-Nya. Mengejar dan mengutamakan akhirat-Nya dari apa-apa yang sementara di dunia. Menyadari bahwa segala kepemilikan yang ada pasti akan menemui masa akhirnya.

Antara Flexing dan Tahadduts bi an-Ni’mah

Lalu, bukankah menceritakan kenikmatan yang  Allah SWT berikan itu juga bentuk dari rasa syukur? Benar. Tapi ada titik perbedaan yang menegaskan antara flexing  dan tahadduts bi an-Ni’mah; 

Flexing akan memusatkan segala kepunyaan dan kemampuan pada diri sendiri tanpa menyandarkannya pada Allah SWT, sebagaimana Qarun pada QS. Al-Qasas: 78 yang terang-terangan menyatakan bahwa segala yang ia punya adalah berkat “Kemampuan” dan keilmuan yang ia miliki sendiri. Sedangkan Tahadduts sebisa mungkin akan mengajak para pendengar dan penontonnya untuk bersyukur pada Allah Swt. Ia akan bergerak untuk memberi inspirasi agar manusia lain berlomba-lomba dalam kebaikan.

Semoga Allah jaga kita dari rasa takjub berlebih terhadap kemegahan dunia, serta diluaskan hati kita untuk terus bisa mebsyukuri nikmat-nikmat-Nya.

Rizki Prayogo, SQ., M.Ag, Pendiri Antassalam Institute dan Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang ustadz Rizki Prayogo, SQ., M.Ag? Silahkan klik disini