Refleksi Musibah dan Syahidnya Perempuan Pejuang Rupiah

Sesungguhnya Allah memiliki pengetahuan tentang hari Kiamat, menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dia kerjakan besok. (Begitu pula,) tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti. (Qs. Luqman/31: 34)

Kecelakaan maut Commuterline lintas Cikarang dengan kereta api jarak jauh (KAJJ) Argo Bromo Anggrek Senin malam (27/4) menyisakan duka mendalam. Kereta dengan laju yang sangat cepat itu menghantam gerbong perempuan. Belasan perempuan syahid di tempat, puluhan lainnya luka-luka. Dari sekian banyak korban, ada perempuan pejuang rupiah yang di dalamnya anak perempuan dari seorang ayah dan ibu yang sedang menunggu di rumah, ada perempuan dari isteri seorang suami yang juga lelah mencari nafkah, juga perempuan tangguh yang rela berdesak-desakan selepas cuti melahirkan– bahkan ASIP (ASI Perah) menjadi saksi bisu betapa dahsyatnya perjuangan para Ibu bekerja (sekaligus ibu menyusui) ini tetap teguh menunaikan kewajiban menyusuinya.

Kita tahu bahwa perempuan pengguna KRL di kota besar (Jabodetabek) luar biasa banyak. Kecelakaan yang terjadi saat rush hour atau jam-jam sibuk sepulang kerja kian membuat kita nelangsa. Mereka, para perempuan terpilih itu, hanya ingin pulang. Hanya ingin sampai di rumah dalam keadaan sehat. Hanya ingin istirahat, merebahkan badan dan berkumpul kembali bersama keluarga. Tapi nahas, kecelakaan tak terhindarkan ini terjadi.

Data menyebutkan pertumbuhan volume pengguna di seluruh lintas KRL Jabodetabek meningkat pesat. Di lintas Bogor, jumlah pengguna meningkat dari 102.054.022 penumpang pada 2022. Jumlah ini terus meningkat utamanya di 2026 (CNBC). Terlebih, gerbong perempuan ditempatkan di paling ujung, hal yang juga menjadi catatan Menteri PPPA Arifah Fauzi mengusulkan gerbong perempuan ditempatkan di tengah rangkaian KRL Bekasi untuk meningkatkan keselamatan pasca kecelakaan.

Sedih dan sesak, sudah barang tentu kita rasakan. Ikut merasakan duka dan kehilangan, juga pasti tak kuasa tertahan. Selain menjadi evaluasi besar bagi seluruh tim moda transportasi, kejadian ini pula sontak membuat kita tersadar bahwa cara, dimana, sedang apa, kita kan berpulang, benar-benar menjadi rahasia Allah.

Selaras dengan ayat yang dikutip pada bagian awal artikel ini, M Quraish Shihab menguraikan dalam tafsirnya, pemilihan kata عِنْدَهٗ (‘indahû) mengandung makna pengkhususan, yakni (pengetahuan terjadinya) hal tersebut hanya berada di sisi-Nya, tidak pada siapa pun selain-Nya. Artinya, hanya Allah yang mengetahui rahasia hujan, apa yang dikandung perempuan, termasuk soal kematian. Ibn ‘Âsyûr juga menafsirkan bahwa Allah tak sekadar menurunkan hujan, tetapi bahwa Dia Yang Mengetahui kapan turunnya dan kadar hujan. Allah tak sekedar menumbuhkembangkan janin tanpa tujuan, termasuk, Allah yang Maha Menentukan dimana dan dalam keadaan apa kita mengalami kematian.

Lebih lanjut, M Quraish Shihab menekankan bahwa terdapat tiga ayat dalam Al-Quran yang merangkaikan sifat Khabir dengan Alim. Konteks ketiganya ialah mustahil atau sangat sulit diketahui manusia. Pertama, tempat kematian seperti pada ayat ini. Kedua, kualitas kemuliaan/ ketaqwaan seseorang pada Qs. Al-Hujurat/49: 13 dan terakhir kasus yang terjadi pada isteri Nabi di Qs. At-Tahrim/66: 3.

Qadarullah, kecelakaan ini menjadi musibah sekaligus upaya reflektif dan evaluatif bagi semua pihak, termasuk kepastian keamanan moda transportasi umum yang kerap digunakan para perempuan. Seluruh korban kecelakaan yang seluruhnya perempuan, adalah perempuan yang rela meninggalkan sejenak anak-anaknya agar bisa tetap bekerja. Kematian yang tidak mudah diterima, namun kita damba. Kematian yang kita harapkan menjadi syahid.

Terkait wafat dalam keadaan syahid, dalam hadis riwayat Shahih Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa syahid tidak hanya mereka yang wafat dalam peperangan. “Para syuhada itu ada lima: orang yang mati karena wabah tha‘un, orang yang mati karena sakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang mati tertimpa bangunan (shahibul hadm), dan orang yang mati syahid di jalan Allah.” (HR Bukhari).

Hadis lain dalam Sunan an-Nasa’i menambahkan bahwa orang yang meninggal karena tertimpa bangunan, terbakar, hingga perempuan yang wafat saat melahirkan juga termasuk dalam kategori syahid.

Para ulama kemudian menyimpulkan bahwa syahid terbagi dalam beberapa jenis salah satunya ialah seseorang yang meninggal saat pulang kerja, dalam rangka mencari nafkah halal untuk keluarga, memiliki nilai amal yang tinggi. Aktivitas mencari rezeki bukan sekadar rutinitas duniawi, tetapi bagian dari ibadah. Seperti diuraikan dalam kitab Hasyiyah al-Raudh al-Murabba karya Syeikh Abd Rahman al-‘Asimi disebutkan bahwa, “Di antara golongan yang memperoleh syahid akhirat adalah orang yang meninggal ketika sedang melakukan amal saleh, termasuk mencari nafkah untuk keluarganya.”

Mari luangkan waktu sejenak untuk mendoakan para korban wafat dan luka-luka. Semoga yang wafat, Allah ampuni dan menempatkan di tempat terbaik. Semoga yang terluka, segera pulih seperti sediakala. Demikian, Allahu ta’ala a’lam.

Dr. Ina Salmah Febriani, M.A., Ustadzah di Cariustadz.id

Tertarik mengundang ustadz Dr. Ina Salmah Febriani, M.A? Silahkan klik disini