Isra’ Mi‘raj dan Ilusi Solusi Instan dalam Beragama

Peristiwa Isra’ Mi‘raj sering dipahami sebagai momen agung yang identik dengan keajaiban dan kemuliaan spiritual. Namun, konteks historisnya justru lahir dari fase paling gelap dalam kehidupan Rasulullah ﷺ, yang dikenal sebagai ‘Āmul Ḥuzn. Pada masa ini, beliau kehilangan Khadijah dan Abu Thalib, mengalami kegagalan dakwah di Thaif, serta menghadapi tekanan sosial yang semakin keras di Makkah. Dalam situasi krisis itulah Isra’ Mi‘raj terjadi. Ini memberi pesan awal bahwa kedekatan dengan Allah tidak selalu hadir setelah masalah selesai, tetapi justru sering datang ketika masalah memuncak.

Puncak Isra’ Mi‘raj bukanlah janji kemenangan politik atau hilangnya penindasan Quraisy, melainkan perintah shalat. Allah berfirman, “Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku” (QS. Ṭāhā [20]: 14). Ayat ini menunjukkan bahwa shalat secara maqāṣidī berfungsi sebagai penjaga orientasi iman dan kesadaran ilahiah, bukan sebagai alat penghapus masalah duniawi secara instan. Tujuan utama shalat adalah ḥifẓ al-dīn (menjaga agama) dan ḥifẓ al-‘aql (menjaga akal dan kesadaran), agar manusia tetap lurus di tengah tekanan hidup, bukan agar realitas sosial langsung berubah.

Kesalahan umum dalam beragama adalah memahami ayat “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong” (QS. al-Baqarah [2]: 45) secara mekanis, seolah shalat adalah tombol cepat penyelesai masalah. Padahal, “pertolongan” dalam perspektif maqāṣid tidak selalu berarti perubahan kondisi eksternal, melainkan penguatan internal. Rasulullah ﷺ sendiri adalah orang yang paling menjaga shalat, tetapi masalah dakwah, penolakan, dan ancaman tetap beliau hadapi. Ini menegaskan bahwa shalat menolong manusia agar tidak runtuh oleh beban hidup, bukan menjanjikan hidup tanpa beban.

Dalam hadis disebutkan, “Jika suatu perkara membuat Nabi ﷺ gelisah, beliau segera berdiri untuk shalat” (HR. Abu Dawud). Hadis ini tidak mengatakan bahwa setelah shalat masalah langsung selesai, tetapi menunjukkan bahwa shalat adalah mekanisme penataan jiwa dan kejernihan akal sebelum menghadapi realitas. Secara maqāṣidī, shalat berfungsi menjaga ḥifẓ al-nafs (keutuhan jiwa) dan mencegah keputusasaan, kemarahan destruktif, atau keputusan keliru yang lahir dari tekanan emosional.

Karena itu, Isra’ Mi‘raj seharusnya dibaca sebagai kritik terhadap spiritualisme instan yang menjanjikan kemudahan cepat melalui ritual. Shalat tidak diturunkan untuk menghilangkan penderitaan secara langsung, tetapi untuk memastikan penderitaan tidak menghilangkan iman, akal, dan misi hidup manusia. Dari langit, Rasulullah ﷺ membawa shalat, lalu kembali ke bumi dengan masalah yang masih sama. Namun, dari manusia yang utuh secara spiritual itulah perubahan sejarah akhirnya dimulai. Inilah pelajaran maqāṣidī terbesar dari Isra’ Mi‘raj: ibadah bukan jaminan hidup mudah, tetapi jaminan agar manusia tetap tegak di tengah hidup yang sulit.

Dr. Mukhrij Sidqy, M.A, Ustadz di Cariustadz.id

Tertarik mengundang ustadz Dr. Mukhrij Sidqy, M.A? Silahkan klik disini