Belajar Membaca Kehendak Allah di Balik Peristiwa

Dalam hidup, kita sering menilai sesuatu dari apa yang tampak. Ketika rezeki bertambah, kesehatan terjaga, usaha berjalan lancar, atau cita-cita tercapai, kita menyebutnya sebagai nikmat. Sebaliknya, ketika kehilangan pekerjaan, doa terasa belum dikabulkan, atau hidup dipenuhi kesulitan, kita menganggapnya sebagai musibah. Padahal, hidup tidak selalu sesederhana itu.

Melalui perspektif ijtihad maqashidi dalam kitab Al-Ijtihad al-Maqashidi: Min al-Tasawwur al-Ushuli ila al-Tanzil al-‘Amali, Yaser Auda mengajak kita melihat setiap peristiwa bukan hanya dari bentuk lahiriahnya, tetapi juga dari maqshad  atau tujuan yang hendak diwujudkan Allah di balik peristiwa tersebut. Cara pandang ini akan memahami bahwa ukuran suatu peristiwa bukan semata-mata apa yang kita terima atau kehilangan, melainkan apa dampaknya bagi kehidupan dan perjalanan spiritual seseorang.

Ada pemberian (al-‘atha’) yang justru menjauhkan manusia dari Allah. Harta yang melimpah mungkin saja membuat sikap seseorang semakin arogan-sombong. Dengan Jabatan bisa saja membuat paling berkuasa. Kenikmatan segala kemewahan justru membuatnya lupa untuk bersyukur dan merasa mampu menjalani hidup tanpa bergantung kepada-Nya. Karena itu, tidak setiap nikmat yang tampak bisa menghadirkan mashlahah yaitu kebaikan yang sesungguhnya bagi kehidupan manusia.

Sebaliknya, ada momen tertentu Allah melakukan al-man’u  yakni menahan sesuatu yang sangat kita inginkan. Kondisi ekonomi keluarga terasa sempit, kondisi kesehatan menurun, kesempatan sering gagal, atau doa belum juga terwujud. Sebagai manusia biasa, kerap itu  kita pahami sebagai kehilangan. Padahal, menurut Yaser Auda, al-man’u (mencegah/menghalangi) tidak selalu berarti hukuman. Dalam banyak keadaan, ia justru merupakan bentuk al-‘atha’, pemberian yang hadir dengan cara yang berbeda diberikan Allah.

Yaser Auda bahkan memberikan sebuah renungan, al-man’u min al-‘athai’bahwa penahanan dari Allah pada hakikatnya dapat menjadi bagian dari pemberian-Nya. Maka sesuatu yang tidak atau belum kita peroleh hari ini (padahal berharap dan sudah mengusahakannya) mungkin Allah sedang menjaga kita dari keburukan yang belum kita ketahui, atau sedang mempersiapkan kita menerima sesuatu yang lebih baik pada waktunya.

Misalnya ia menjelaskan bentuk al-man’ bi qashdi tawbati al-‘abd yaitu Allah menahan sebagian nikmat agar seorang hamba kembali kepada-Nya. Ketika hidup berjalan mulus, manusia mudah merasa cukup dengan dirinya sendiri. Namun, saat diuji, ia mulai memperbanyak doa, beristighfar, dan menyadari betapa ia bergantung kepada Allah. Di sinilah musibah dapat berubah menjadi ni’mah khafiyyah, karunia yang tersembunyi karena mengantarkan seseorang kepada taubat dan kedekatan dengan Allah.

Yang ingin ditekankan adalah bahwa manusia tidak selalu mengetahui maqashid (tujuan) Allah di balik sebuah peristiwa. Ada pintu yang ditutup agar kita tidak masuk ke jalan yang keliru. Ada keinginan yang ditunda agar kita lebih siap menerimanya. Ada pula kehilangan yang mengajarkan kita melepaskan ketergantungan kepada selain Allah. Dalam bahasa Yaser Auda, yang perlu dilihat adalah ma’aalatu al-af’al  yaitu akibat atau dampak akhir dari sebuah peristiwa. Rezeki menjadi nikmat jika melahirkan rasa syukur. Ilmu menjadi karunia jika menumbuhkan kerendahan hati. Jabatan menjadi amanah jika digunakan untuk melayani. Sebaliknya, kesulitan pun dapat menjadi rahmat jika membuat seseorang memperbaiki diri dan kembali kepada Allah.

Allah tidak selalu memberi dengan cara menambahkan sesuatu ke dalam hidup kita. Terkadang, Dia memberi melalui al-man’u, agar kita kembali menemukan arah, memperbaiki diri, dan semakin dekat kepada-Nya. Di situlah kita belajar bahwa maqshad  (tujuan) Allah tidak selalu sama dengan keinginan manusia.

Mabrur Inwan, M.Ag, Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang Mabrur Inwan, M.Ag? Silakan Klik disini.