Merasa was-was dalam kehidupan merupakan perkara yang sangat menyulitkan. Seseorang yang terkena was-was biasanya akan merasa gelisah, tidak tenang, dan terus dihantui keraguan, terutama dalam masalah bersuci, najis, maupun halal dan haram makanan. Jika dibiarkan, sikap ini dapat berkembang dan mempersulit banyak urusan dalam kehidupan sehari-hari.
Sesungguhnya dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta‘ala menjelaskan bahwa was-was berasal dari godaan setan. Sebagaimana dalam Surah An-Nas ayat 4–5:
مِن شَرِّ ٱلۡوَسۡوَاسِ ٱلۡخَنَّاسِ
“Dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi.”
ٱلَّذِى يُوَسۡوِسُ فِى صُدُورِ ٱلنَّاسِ
“Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.”
Karena itu, Nabi ﷺ mengajarkan umatnya untuk memperbanyak doa dan dzikir agar terhindar dari gangguan setan dan tipu dayanya.
Berlebihan dalam Kehati-hatian
Dalam syariat Islam, sikap berhati-hati (ihtiyath) memang dianjurkan. Rasulullah ﷺ bahkan menyebutkan bahwa salah satu penghuni kubur diazab karena tidak menjaga diri dari percikan air kencing. Hadits ini diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim.
Namun, kehati-hatian yang berlebihan justru dapat berubah menjadi was-was. Akibatnya, sesuatu yang mudah menjadi sulit dan sesuatu yang kecil terasa besar. Padahal agama Islam datang membawa kemudahan, bukan kesulitan.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 185:
يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ
“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan bagi kalian.”
Dan dalam Surah Al-Hajj ayat 78:
وَمَا جَعَلَ عَلَيۡكُمۡ فِى ٱلدِّينِ مِنۡ حَرَجٍ
“Dan Dia tidak menjadikan kesulitan untuk kalian dalam agama.”
Allah juga berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 101:
لَا تَسْـَٔلُوا۟ عَنْ أَشْيَآءَ إِن تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ
“Janganlah kalian menanyakan perkara-perkara yang jika dijelaskan kepada kalian justru akan menyusahkan kalian.”
Ayat ini mengajarkan agar seseorang tidak berlebihan dalam mencari-cari sesuatu yang pada asalnya sudah jelas dan mudah.
Cara Mengatasi Was-Was
Sesuatu tidak boleh dihukumi najis atau haram hanya karena perasaan ragu. Dalam hadits riwayat Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Janganlah ia keluar dari shalatnya sampai ia mendengar suara atau mencium bau.”
Hadits ini menjadi dasar kaidah fikih:
اليقين لا يزال بالشك
“Keyakinan tidak bisa dihilangkan dengan keraguan.”
Dan kaidah:
الأصل في الأشياء الطهارة
“Asal segala sesuatu itu suci.”
Begitu pula dalam masalah makanan. Ketika membeli makanan di pasar atau membeli ayam goreng lalu penjual mengatakan bahwa makanan tersebut halal, maka itu sudah cukup sebagai bentuk kehati-hatian. Tidak perlu sampai berlebihan mencari tahu secara detail cara penyembelihannya atau siapa yang menyembelihnya tanpa kebutuhan yang mendesak, karena hal itu justru membuka pintu was-was yang berkepanjangan.
Selain itu, seorang muslim dianjurkan memperbanyak dzikir dan membaca basmalah. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ketika seseorang membaca “Bismillah”, setan menjadi kecil dan lemah. Allah juga mengajarkan doa perlindungan dalam Surat An-Nas dan Surah Al-Mu’minun ayat 97–98 agar terhindar dari gangguan setan:
وَقُل رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَٰتِ ٱلشَّيَٰطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحْضُرُونِ
“Dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung kepada-Mu, ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekat kepadaku.’”
Jika was-was sudah berlebihan, maka dianjurkan berkonsultasi kepada ustadz, ustadzah, atau orang yang memahami ilmu agama agar mendapatkan bimbingan yang benar dalam menghadapi keraguan tersebut.
Dengan melawan keraguan, memperkuat keyakinan, memperbanyak dzikir, dan meminta bimbingan kepada orang yang berilmu, seorang muslim dapat menjalani ibadah dan kehidupannya dengan lebih tenang.
Wallahu a‘lam.
Muhammad Fadli, Lc., MA., Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang Muhammad Fadli, Lc., MA.? Silakan Klik disini