Artificial Intelligence dan Pendidikan Islam: AI Mengajar, Guru Mendidik

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Berbagai aplikasi berbasis AI kini mampu membantu peserta didik mencari informasi, merangkum materi, menerjemahkan teks, menyusun tulisan, hingga menjawab soal dalam hitungan detik. Kemudahan ini menjadikan AI sebagai salah satu inovasi yang berpotensi meningkatkan efektivitas pembelajaran. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut muncul pertanyaan yang banyak diperbincangkan tentang apakah AI akan menggantikan peran guru?

Proses pendidikan tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan (transfer of knowledge), tetapi juga pembentukan akhlak, karakter, dan spiritualitas peserta didik. Oleh karena itu, guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi (mu’allim), tetapi juga sebagai murabbi, yaitu pendidik yang membimbing, membina, dan menjadi teladan. 

Kehadiran AI dapat membantu proses pembelajaran, tetapi tidak dapat menggantikan dimensi kemanusiaan yang melekat pada tugas seorang guru. Prinsip ini sejalan dengan pesan akhir ayat QS. Az-Zumar [39]: 9 yang menegaskan kemuliaan ilmu dan pentingnya kemampuan berpikir yang melahirkan kebijaksanaan. Allah berfirman:

 قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ ࣖ …

Terjemah:

“…Apakah sama orang-orang yang mengetahui (hak-hak Allah) dengan orang-orang yang tidak mengetahui (hak-hak Allah)?” Sesungguhnya hanya ululalbab (orang yang berakal sehat) yang dapat menerima pelajaran.

Tafsir QS. Az-Zumar [39]: 9 tentang Kemuliaan Ilmu

Imam Al-Qurṭhubi menjelaskan bahwa frasa ulul albab menunjukkan orang-orang yang mampu menggunakan akalnya untuk memahami, merenungkan, dan mengambil pelajaran dari ilmu yang diperolehnya. Dengan demikian, nilai ilmu tidak hanya diukur dari banyaknya pengetahuan, tetapi juga dari kemampuan mengolah pengetahuan tersebut menjadi hikmah dan tindakan yang benar (tafsir-qurthubi- [Jildi 15]: 559-560).

Sementara itu, Prof. Wahbah az-Zuḥaili dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dasar keutamaan menuntut ilmu sekaligus dorongan untuk memanfaatkan akal secara optimal. Ilmu harus menjadi sarana membangun kepribadian, memperkuat keimanan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi kehidupan manusia (tafsir-al-munir- [Jilid 12: 230).

Melalui ayat ini, Al-Qur’an mengajarkan bahwa tujuan pendidikan bukan hanya menghasilkan individu yang kaya informasi, tetapi juga pribadi yang memiliki kebijaksanaan, adab, dan tanggung jawab moral.

Menyeimbangkan Peran Guru dalam Mengajar dan Mendidik dengan AI

Kehadiran AI telah mengubah cara peserta didik memperoleh informasi. Berbagai konsep yang dahulu memerlukan waktu lama untuk dipelajari kini dapat dijelaskan secara instan melalui teknologi. Namun, AI tetap memiliki keterbatasan. AI mampu menghasilkan informasi, tetapi tidak memiliki kesadaran moral, pengalaman hidup, maupun keteladanan. 

AI dapat menjawab pertanyaan, tetapi tidak dapat menanamkan keikhlasan, empati, tanggung jawab, dan akhlak melalui interaksi sebagaimana dilakukan seorang guru. Oleh karena itu, dalam pendidikan Islam, AI seharusnya diposisikan sebagai sarana pendukung, bukan sebagai pengganti pendidik.

Berkaitan hal ini, peran guru sebagai murabbi menjadi semakin penting. Seorang murabbi tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membimbing peserta didik dalam membentuk karakter, menanamkan nilai-nilai Islam, dan mengarahkan penggunaan ilmu secara bertanggung jawab. Keteladanan, perhatian, nasihat, dan hubungan emosional yang dibangun guru dengan peserta didik merupakan aspek pendidikan yang tidak dapat direplikasi oleh teknologi (Andriya dkk, 2025, article/view).

Kehadiran AI bukanlah ancaman bagi pendidikan Islam, melainkan peluang untuk memperkuat proses pembelajaran apabila digunakan secara bijaksana. Sebagaimana ditegaskan dalam QS. Az-Zumar [39]: 9, tujuan pendidikan bukan sekadar memiliki pengetahuan, tetapi melahirkan ulul albab, yaitu manusia yang mampu memadukan ilmu, akal, iman, dan akhlak dalam kehidupannya.

Penutup

Perkembangan Artificial Intelligence merupakan keniscayaan yang tidak dapat dihindari dalam dunia pendidikan. Dalam perspektif Islam, AI dapat menjadi sarana yang memperkaya proses belajar, tetapi tidak dapat menggantikan peran guru sebagai murabbi yang membimbing karakter, akhlak, dan spiritualitas peserta didik. Melalui QS. Az-Zumar [39]: 9, Al-Qur’an menegaskan bahwa kemuliaan ilmu terletak pada kemampuannya melahirkan kebijaksanaan dan ketakwaan. Oleh karena itu, tantangan pendidikan Islam di era AI bukanlah mempertahankan guru dari teknologi, melainkan memanfaatkan teknologi untuk semakin menguatkan peran guru dalam membentuk generasi yang berilmu, beradab, dan bertakwa. Wallahu A’lam.

Saibatul Hamdi, M.Pd., Guru Al-Qur’an Hadis MTsN Seruyan dan Ustadz di Cariustadz

Tertarik mengundang Saibatul Hamdi, M.Pd.? Silakan Klik disini