Ada pertanyaan dalam hidup ini yang selalu menghantui kita di antaranya “apalah arti dari sebuah pencapaian”. Pertanyaan ini memantik kita untuk merenungkan kembali apa makna sebuah pencapaian? Apakah ia bermakna sukses materi, kaya harta, bergelimang jabatan, anugrah intelektualitas, status sosial yang mentereng, orang terpandang dan sederet “kemuliaan” yang melekat dalam diri kita.
Ataukah ‘pencapaian’ itu bermakna kembali kepada-Nya sebagaimana terlukis dalam “innalillahi wa inna ilaihi raji’un”. Tafsir innalillahi adalah tafsir tentang bagaimana manusia kembali kepada Allah. Memang, tidak dapat dipungkiri, capaian duniawi sementara ini menjadi ukuran sukses tidaknya seseorang, namun lebih subtil adalah bagaimana capaian duniawi ini mampu kita geser kepada makna “innalillahi”, bergeser terhadap hal-hal yang bermanfaat bagi sesama dan seluruh alam. Ini yang tidak mudah.
Pada akhirnya, ukuran sebuah pencapaian bukanlah seberapa melimpah harta yang kita genggam, seberapa tinggi jabatan yang dipangku, atau seberapa riuh pujian manusia yang digapai. Keberhasilan yang sesungguhnya jauh lebih dalam dari itu— yakni ia hadir tatkala keberadaan kita mampu menjadi jalan kebaikan dan membawa manfaat nyata bagi orang-orang di sekitar. Ini tentang keberanian untuk terus membenahi diri dan mendekatkan jiwa kepada Sang Pencipta, tanpa pernah terjebak dalam kesombongan seolah-olah kita telah sampai di puncak kesempurnaan.
Apa yang bisa saya berikan?
Cara pandang ini pulalah yang ditawarkan Islam dalam melihat sebuah hubungan sosial. Ada pergeseran sudut pandang yang sangat mendasar: dari yang tadinya selalu menuntut dan bertanya, “Apa yang bisa aku dapatkan dari orang ini?”, menjadi lebih mawas diri dan berfokus pada, “Apa kebaikan yang bisa saya berikan?”
Ini senada dengan pesan Nabi saw,
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. (HR. Thabrani & Daruquthni)
Menafsirkan hadis di atas, Gus Baha mengatakan “jangan hanya sekadar menanyakan kabar. Bagaimana MBG (makan bergizi gratis)? Bagaimana Indonesia ke depan?”. Menurut Gus Baha, “kalau mengaku Muslim, kita harus terlibat ikut andil dan berkontribusi nyata, sebab itu perintah agama”.
Di sinilah pesan mendalam Gus Baha menyentil kesadaran kita. Beliau mengingatkan agar kita tidak berhenti hanya sampai di bibir, menjadi pengamat yang sibuk menanyakan keadaan tanpa pernah sudi mengotori tangan (baca: melakukan sesuatu, kerja-kerja sosial-kemasyarakatan). Kepedulian yang sejati tidak diukur dari seberapa dalam kita mengkhawatirkan keadaan, melainkan dari seberapa berani kita melangkah turun untuk ikut membenahinya.
Kata anfauhum dalam hadis di atas bermakna —yang paling memberi manfaat nyata, bukan yang paling pandai berkomentar. Ada perbedaan yang sangat tegas antara orang yang sekadar tahu ada masalah dengan orang yang memilih menjadi bagian dari solusi. Ketika kita terus menuntut keadaan atau menagih perubahan dari luar, kita sebenarnya sedang menyerahkan kendali hidup kita kepada hal-hal di luar kuasa kita. Padahal, satu-satunya hal yang bisa kita kendalikan secara mutlak adalah respons dan aksi dari diri kita sendiri.
Mulailah dari diri sendiri
Ibda’ binafsik, mulailah dari diri sendiri. Mengamalkan kebermanfaatan tidak harus menunggu kita menduduki jabatan tinggi, memiliki panggung besar, atau menggenggam harta melimpah. Menjadi manusia yang bermanfaat bisa dimulai dari ruang-ruang paling sederhana di sekitar kita.
Jika kita prihatin dengan kualitas gizi, pendidikan generasi mendatang atau kondisi sosial-masyarakat, tak perlu menunggu seluruh sistem berubah untuk mulai bergerak. Bagikan apa yang kita punya dari dapur kita, luangkan waktu untuk mengajari anak-anak di sekitar rumah, atau hadirkan kebaikan sekecil apapun melalui profesi yang sedang kita jalani saat ini.
Dengan demikian, inilah keindahan ajaran agama Islam. Islam tidak pernah mengukur kualitas seseorang dari seberapa riuh ia mempertanyakan kondisi zamannya, melainkan dari seberapa banyak jejak kebaikan yang ia tinggalkan di tengah masyarakatnya. Berhentilah sekadar menanyakan kabar, lalu mulailah mengambil peran—sekecil apapun. Sebab, keberadaan yang memberi manfaat nyata jauh lebih berharga ketimbang seribu kata kepedulian yang tak pernah diwujudkan. Inilah hakikat pencapaian yang luar biasa besar dalam pandangan Islam.
Senata Adi Prasetia, M.Pd, Ustadz di Cariustadz
Tertarik mengundang ustadz Senata Adi Prasetia, M.Pd? Silahkan klik disini